
...Happy reading...
Helena terus berlari bahkan tidak memperdulikan panggilan Erfan yang mempercepat langkahnya menuruni tangga agar bisa mencegatnya tapi ia berlari berharap tidak bertemu kedua ayah dan anaknya itu.
"Helena kau mau kemana? Helena!" panggilan Erfan tidak digubris sedikit pun oleh Helena, Erfan beralih melihat ibunya dengan wajah memerah, ada gurat amarah di wajahnya
"Helena mau pergi kemana Ma?" tanya Erfan melihat ada suasana aneh dari wanita paru baya itu bergantian melihat punggung Helena menghilang dari pandangan matanya
"Mana Mama tau cepat bangunkan Luna kita makan siang!" Jawab ibunya ketus seraya berlalu kedapur.
Erfan terlihat bingung dengan sikap Helena maupun ibunya, dirinya memilih patuh dan pergi ke kamar untuk membangunkan putrinya.
Helena sudah berlari cukup jauh dengan air mata yang mengalir di pipinya tanpa henti, Helena memilih berjalan pelan dengan pikiran tidak menentu.
Helena menghentikan taksi yang akan melintas di depannya, ia masuk dan duduk dengan diam asik dengan isi pikirannya.
Bagaimana ini bisa terjadi padanya bahkan hanya karena nama ibunya. Apa seburuk itukah ibuku?
Setelah bertengkar dengan pikirannya sendiri Helena meminta supir taksi untuk mulai melajukan mobilnya sementara Helena tidak bersuara lagi.
Supir melihatnya dari spion mobil yang terlihat sangat sedih dengan sisa air mata yang ada di pipinya.
__ADS_1
"Maaf kita akan kemana? Anda belum mengatakannya kemana Anda akan pergi." tanya pelan takut menyinggung penumpang taksinya
"Kompleks perumahan elite xxx no 452."Ucap Helena tanpa menoleh pikirannya sedang berkecamuk dan merasa pusing dalam waktu yang bersamaan.
Helena pulang kerumah ibunya meminta penjelasan tentang semua tuduhan yang dilimpahkan padanya, ini bukan pertama ia mengalami penghinaan tapi sudah sekian kalinya
Kecewa, marah, atau apalah Helena benar-benar tidak paham dengan semua hal yang menimpa dirinya. Perlahan langkah kakinya memasuki rumah menyapu setiap sudut ruangan yang dilewati.
"Bi, apa ibu ada di rumah?" tanya Helena begitu berpas-pasan dengan Bibi yang sedang mengelap meja makan
"Nyonya ada dibelakang sedang menerima tamu penting katanya." balas menunjuk ke halaman belakang rumah besar itu.
"Bagaimana dengan putri Anda yang bernama Helena itu?" tanya tamu pria dengan nada berat menandakan dirinya sudah paru baya.
"Helena anak yang baik, dia yang paling patuh, pandai memasak lagi, cocok menjadi menantu Tuan Carlos." Ibu Helena berucap manis seakan menawarkan putrinya seperti penjual menjual barang di pasaran
Helena mengepalkan tangan kesal dikedua sisi tubuhnya bukan hanya kesal tapi ia sama sekali tidak menyangka seakan dijual oleh ibunya sendiri
"Jadi kapan saya bisa menemuinya dan membawa kembali ke rumah besar Carlos juga, mungkin bisa bertemu dengan putraku."
"Mungkin Secepat-"
__ADS_1
"Ibu! Apa-apaan ini!"Bentak Helena dengan nafas naik turun menahan amarah melihat ibunya malah tersenyum padanya.
"Helena kamu datang kenalkan ini Tuan Carlos calon mertuamu, anaknya bernama Alvin, dia pemilik beberapa Mall terbesar di kota ini." ibu menarik tangan Helena membawanya mendekat pada pria bernama Tuan Carlos itu.
"Hentikan! Tuan Carlos maaf saya tidak ingin menikah dengan putra Anda, jadi silahkan pergi!" Helena menekankan disetiap kata yang keluar dari mulutnya, bahkan mengusir tamu ibunya ini dengan terang-teranga
"Helena apa maksudmu? Dia tamu ku dengan tidak sopan kau mengusirnya!"
Helena menarik lengan ibunya kesal kedalam kamar tanpa peduli perkataan ibunya dan juga Tuan Carlos memanggil mereka berdua
"Sudah, cukup sudah Bu! Hentikan!" geram Helena, dirinya bukan boneka ataupun robot hingga hidupnya harus diatur begini.
"Apa maksudmu cukup minggir, ibu akan menemuinya dulu." ibu Helena ingin kembali menemui tamunya tadi.
"Cukup Bu! Kenapa kau selalu menjodohkan aku!, aku sudah bilang tidak memerlukan semua ini, aku bisa mengurus hidupku sendiri!" teriak Helena frustasi, bagaimana tidak dirinya hanya dianggap bagai anak yang hanya memberi keuntungan untuk keluarganya sendiri
"Helena ibu hanya ingin mencari lelaki yang pantas untukmu, yang bisa menjamin hidupmu dimasa depan kelak." balas ibu Helena tidak tega melihat kesedihan di mata anaknya
"Menjamin hidupku?" Helena tertawa gentir melihat wajah ibunya yang terlihat sendu, tapi apa itu tidak mempan untuk Helena. "Apa ibu begitu tidak malu, menjamin hidupku dengan menikahi aku dengan keluarga kaya begitu?" tanya Helena tidak ada lagi kesopanan pada ibunya ini, bukan hanya kecewa dia bahkan sangat sedih dengan semua ini.
****
__ADS_1