Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
65. Bunga


__ADS_3

...Happy reading...


Erfan masih berada di kantor walau hari sudah gelap diluar sana, ia merasa malu untuk pulang karena adanya Helena dirumah nantinya.


Membayangkan hal tadi siang membuat dirinya seperti merasa sesuatu yang lain dalam dirinya, perasaan jantung berdebar dan seperti ada banyak kupu-kupu yang beterbangan di benaknya.


"Aiss kenapa aku terus mengingat bibirnya yang manis itu."


Erfan mengacak rambut sendiri karena memikirkan hal bodoh seperti itu seakan dia ingin merasakan hal itu lagi dan lagi.


Ia berlangkah keluar dari kantor dengan kesalĀ ingin rasanya bersembunyi karena rasa malu yang teramat sangat ini


"Kenapa aku seperti salah tingkah seperti ini benar-benar tidak beres." umpat Erfan mengatai dirinya sendiri karena tiba-tiba bodoh karena seorang perempuan.


Erfan masuk kedalam mobil dengan tergesa bahkan membanting pintu mobil dengan keras membuat security yang berjaga ikut kaget.


Erfan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan pikiran tidak menentu membayangkan tentang Helena hampir membuat dirinya frustrasi


Erfan kembali menghentikan laju mobilnya saat melihat lampu lalu lintas berwarna merah, ia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri sekarang.


Tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri mobilnya dengan baju basah kuyup membawa beberapa tangkai bunga


Ia mengetuk kaca mobil yang langsung dibukakan oleh Erfan yang merasa kasihan, karena hari sudah malam seperti ini tapi masih ada anak kecil yang berjualan bunga. Erfan langsung membuka kaca mobilnya.


"Om mau beli bunganya?" Tanya anak laki-laki itu dengan mata berbinar, membuat Erfan mengingat dirinya saat kecil


"Boleh, berapa semuanya?" tanya Erfan sedikit menyungingkan senyum dibalas dengan antusias oleh bocah itu


"Satu 5 ribu ada 5 berarti 25 ribu om!" terlihat anak itu menghitung mengunakan tangannya sendiri.


"Baiklah oh ya kamu tinggal dengan siapa di sini?" tanya Erfan tidak tega melihat anak itu dengan baju basah kuyup.

__ADS_1


"Dengan adik saya om, ada di sana!" Tunjuknya pada sudut jalan gadis kecil yang meringkuk kedinginan


Erfan pun turun melihat keadaan gadis kecil itu yang ternyata demam karena bajunya pun basah seperti kakaknya


"Adikmu sakit, kita harus membawanya ke rumah sakit terdekat." ucap Erfan setelah mengecek keadaannya.


"Apa benar om, dek bangun kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya pada adiknya yang tidak mau bangun.


"Tenang adikmu akan baik-baik saja setelah membawanya ke rumah sakit."


Erfan pun mengendong adik kecil itu membawa kedua anak itu kerumah sakit terdekat untuk diperiksa keadaannya yang ternyata hanya demam biasa.


"Syukurlah dia cepat dibawa kesini jika tidak dia bisa mengalami hipotermia dan akan berbahaya bagi dirinya sendiri." jelas Dokter memberi obat untuk gadis malang ini.


Setelah itu Erfan kembali membawa mereka ke panti tempat dirinya tumbuh besar dulu.


"Ini dimana om, jangan jual kami, kami mohon om!" anak lelaki itu yang memapah adiknya dengan khawatir.


"Benarkah om, kami punya tempat tinggal, punya teman?" balasnya sumringah melihat rumah di depan mereka.


"Ya, dan kalian disini belajar yang rajin biar bisa mengejar cita-cita," ucapnya mengelus puncak kepala kedua anak ini.


"Benarkah! terima kasih banyak, om!"


"Fan siapa mereka?" tanya ibu panti yang tadi sudah dihubungi oleh Erfan


"Anak-anak ini akan mulai tinggal disini ya bu, mereka tadi kehujanan dan basah begini tolong ya bu," pinta Erfan dari pada kedua anak ini terlantar lebih baik mereka di sini, setidaknya hanya untuk malam ini.


"Dimana orang tua mereka?"


Erfan berlutut didepan kedua anak kecil ini "Orang tua kalian kemana?" tanyanya lembut

__ADS_1


"Ibu kami baru saja meninggal," balas bocah itu tertunduk dalam


"Ayah?" mereka berdua menggelengkan kepala tidak tau ayahnya siapa dan dimana berada.


"Kalau begitu Ayo masuk, diluar dingin nanti kalian bisa sakit," ajak ibu panti ramah.


"Om?" anak lelaki itu menarik adiknya bersembunyi di belakang tubuh Erfan, membuatnya hanya bisa menghela napas panjang.


"Nama kalian siapa?" tanya Erfan kembali mensejajarkan posisi dengan anak kecil ini.


"Saya Ary dan adik Arin,"


"Nama Om adalah Erfan dan Om harus pulang kerumah, besok Om datang lagi kesini melihat kalian, janji!" Erfan memberi janji kelingking yang biasanya di gunakan oleh anak-anak


"Tolong ya bu bantu mereka dan beri makan, takutnya Luna dirumah cariin aku," pamit Erfan


"Pulanglah!"


"Anak-anak terima kasih bunganya!" Erfan memegang beberapa bunga seraya melambaikan tangan pada kedua anak kecil itu melaju kan mobilnya ke rumah karena hari sudah semakin larut malam tapi dirinya belum pulang


Setelah sampai di depan rumahnya Erfan meraih beberapa bunga itu untuk dibawa masuk kasian jika dibuang begitu saja, pikirnya


Erfan membuka pintu terlihat isi apartemennya ini sepi, semakin ia masuk terlihat Helena sedang membaca beberapa majalah disofa, begitu Helena melihat keberadaannya Ia bangkit menghampiri


"Kau baru pulang? Luna dari tadi menanyakanmu." ucap Helena menghampiri Erfan yang terlihat kelelahan.


"Dimana dia?" Erfan mengedarkan pandangan melihat keberadaan Luna.


"Dikamar dia baru saja tertidur, eh itu?" Helena tidak sengaja melihat bunga yang disembunyikan Erfan dibelakang tubuhnya


"I-ini untukmu!" Erfan memberi bunga itu kedalam dekapan Helena sebelum dirinya berlari cepat menuju kamarnya

__ADS_1


*****


__ADS_2