
...Happy reading...
Untuk sesaat Helena terpaku karena hal yang dilakukan oleh Erfan membuat degup jantungnya seperti berpacu hebat, hingga Erfan menyadari hal ini pasti membuat Helena tidak nyaman dan menarik tubuhnya menjauh.
"Maaf aku terlalu senang, kalau begitu aku masuk terlebih dahulu." Erfan berusaha menutupi kecanggungannya
Erfan membuka pintu mobil dengan perlahan dan menutup kembali saat dirinya sudah keluar dari mobil serta berjalan menjauh dari pandangan Helena yang masih terpaku.
"Ada apa Helena kenapa kau jadi gugup begini! Apa kau jatuh cinta padanya? Tidak! Ibunya tidak akan memberi restu!" Helena menggeleng kepala menepis dugaan didalam benaknya.
Helena keluar dari mobil setelah selesai perang batin dalam dirinya sendiri, ia hari ini kekantor tanpa membawa apapun karena tasnya pun tidak dibawa hanya ponsel peganggannya.
Helena menaiki lift bersama dengan karyawan lainnya hingga sampai dilantai 17 tempat kerjanya suasana kantor membuatnya makin bersemangat.
"Pagi kak Sindy!" sapa Helena seraya duduk di kursi kerjanya.
"Pagi Helena, kau tidak memakai riasan pagi ini? Terlihat sangat pucat apa kau sakit?"
"Tidak kak, aku melupakannya karena terlalu buru-buru tadi, oh ya tumben banget kak Anton belum datang?" tanya Helena yang biasanya Anton sudah datang jika jam segini.
Sindy memutar kursinya hingga menghadap Helena dan berkata. "Katanya gak enak badan mungkin demam, jadi dia gak datang tapi sudah izin kok."
"Oh ya ampun!" Helena tiba-tiba teringat sesuatu yang penting tapi dilupakan dari semalam.
Benar! kenapa aku melupakan mobil kak Anton, kalau mobilnya hilang bisa panjang urusannya ini.
"Ada apa?" tanya Sindy karena melihat ekspresi terkejut dari Helena
__ADS_1
"Aku meninggalkan mobil kak Anton dijalan raya, kak!"
Sindy mengenyit heran apa maksud dari perkataan Helena, "kok bisa?"
"Jadi semalem aku pinjam mobil kak Anton karena ada masalah mendesak, tau-tau mobilnya bermasalah jadi aku meninggalkannya di tepi jalan dan aku baru saja ingat akan hal itu." Helena tertunduk menopang dagunya memikirkan nasip mobil Anton.
Sindy menepuk bahu Helena seraya berkata. "Helena aku hanya bisa bantu berdoa saja, turut menyesal." terlihat raut ikut sedih seperti Helena.
"Terima kasih kak." Helena tersenyum terpaksa hatinya benar-benar tidak tenang sekarang
...🍭🍭🍭...
Jam makan siang pun tiba bukannya ke kantin kantor, Helena malah terburu-buru ke suatu tempat karena ada hal yang mendesak yang harus dilakukan.
Yah diri nya lupa dengan mobil Anton yang kemarin malam tertinggal di jalanan bukan hanya itu ternyata ia meninggalkannya dalam hujan lebat bisa-bisa panjang urusannya ini.
Helena berusaha menghubungi kedua orang itu, tapi baik Anton ataupun Aliza tapi tidak ada yang menjawab panggilan darinya
Begitu sampai pintu Apartemen diketuk beberapa kali oleh Helena membuat penghuninya merasa terusik merasa sangat malas untuk sekedar bangun.
"Ya ada apa?"
"Kak Anton a-ada, Zaa kenapa kamu!" ucap Helena setengah berteriak melihat tampilan Aliza yang terlalu terbuka apa dia tidak sadar dengan hal ini.
"Eh, Helena kamu pulang, maaf ayo masuk dulu!" Aliza mempersilahkan mereka masuk dan dirinya mengambil jaket untuk menutupi tubuhnya.
"Aku akan panggilkan kak Anton dulu
__ADS_1
"Tidak perlu sepertinya keberadaanku hanya membuat kalian risih, aku akan mengemasi barang-barangku." balas Helena cepat karena dari yang dilihat mereka berdua seperti pasangan, mungkin saja sudah bersama hingga Aliza seenaknya begini.
Helena berlalu masuk kedalam kamar Aliza untuk mengemasi barangnya lagi, ia tidak mau menjadi penganggu apalagi mereka berdua yang baru jadi pasangan. Aliza hanya ikut masuk bersama Helena kedalam kamar.
"Oh ya bagaimana dengan mobil kak Anton?" tanya Helena seraya menarik kopernya dan mulai memasukkan barang-barangnya
"Pagi tadi sudah diderek ke bengkel, semalam memang mobilnya bermasalah jadi jangan khawatir Naa." jelas Aliza
"Ya sudah kalau begitu aku pamit!" Helena pun pergi membawa barangnya yang sudah dimasukkan kedalam koper.
"Naa duduklah kita bicara sebentar ya?" ajak Aliza menahan langkah Helena untuk pergi.
"Ada apa?"
"Hmm." Aliza mengigit bibirnya seperti ragu mengatakan pada Helena terlihat dari tingkahnya memainkan jemari tangan.
"Iya ada apa kenapa kau jadi gugup begini?" tanya Helena makin menuntut karena gemas dengan tingkah Aliza.
"Naa gimana sih sebenarnya.. ah gak jadi deh." Aliza mengacak rambutnya sendiri.
"Apa sih gak jelas banget Zaa, apa sih?" Helena malah bertambah gemas. Aliza menghadap Helena dan mengenggam tangannya dengan yakin.
"Naa kayaknya aku jatuh cinta." ucapnya bersungguh-sungguh tapi terlihat ragu.
Krik...krik..
"Pufthhh haha kenapa wajahmu pucat gitu kamu jatuh cinta atau apa?" tawa Helena seketika pecah
__ADS_1
"Helena!"
...***...