
"Keysa!" bentak ibu Helena karena melihat tingkah Keysa yang keterlaluan
Helena mendekati Keysa "Kau tau arti tong kosong nyaring bunyinya kan? percuma kau bicara panjang lebar tapi tidak ada alasan kuat, itu hanya omong kosong! Lagian walau diluar negeri aku masih tersegel rapi belum tersentuh." ucap Helena di sebelah Keysa dengan senyum miring
"Kau?" Keysa menunjuk wajah Helena yang terlihat biasa saja yang membuat dirinya tambah kesal.
"Kenapa? apa aku salah? Atau jangan-jangan kau yang sudah...." Helena menutup mulutnya sendiri dengan senyum liciknya tepat didepan Keysa.
Helena bukan menuduh sembarang sebenarnya karena ada desas desus dikantor bahwa Keysa mempunyai hubungan rahasia dengan pewaris perusahaan ZG grup untuk mendapatkan kontrak kerja sama.
"Tutup mulutmu!" bentak Keysa tidak terima dengan tuduhan Helena walau benar nyatanya.
Helena tersenyum sinis dan berjalan keluar dari rumah keluarganya Paman Tara dengan langkah pasti, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Oh ya aku rasa kau tidak perlu repot membicarakan diriku seakan kau sangat menyayangi kakakmu ini!" ucap Helena menyungingkan senyum smirk nya dan keluar tanpa pamit.
"Kau, Jangan harap!" Keysa kesal berlari kecil menuju kamarnya, sementara Helena pergi meninggalkan rumah itu dengan senyum gentir
Hancur begitu lah yang Helena rasakan sekarang, ibunya seakan mau menjual dirinya pada orang kaya itu, Helena mengaku jika dia menyukai uang tapi tidak dengan menjual harga dirinya
Helena keluar dari rumah besar milik paman Tara suami dari ibunya dan ayah dari Keysa dan Zaren adik lelakinya
Helena berjalan gontai tanpa memperdulikan hujan yang membasahi dirinya, hatinya lega berdiri di antara buliran hujan memadamkan amarahnya, ia berputar menikmati hujan yang menerpa kulitnya dijalanan sepi yang dilewati.
__ADS_1
Helena merentangkan tangan merasa buliran air hujan hingga menembus hatinya.
Erfan yang mencari keberadaan wanita itu sepanjang sore menghentikan mobilnya melihat Helena sedang bermain hujan
Rambut dan pakaian sudah basah diguyur hujan tapi seakan tidak membuatnya terganggu malah sesekali meloncat senang
Helena sebenarnya dalam hati merasa sangat sedih dengan tingkah ibunya yang tidak tau malunya mencarikan jodoh pria kaya untuknya walau Helena sudah menolaknya
Seseorang memakaikan jas di bahunya membuat Helena menoleh melihat siapa gerangan yang baik hati memberinya sedikit kehangatan
"Erfan!"
Helena menyungingkan senyum melihatnya yang terlihat sangat khawatir bahkan memeluk tubuhnya memberi kehangatan dari dinginnya hujan.
Ajaknya tanpa menunggu persetujuan Helena, tapi bukannya menurut Helena malah melepas rangkulan Erfan berlari menjauhinya
"Kau, jangan lari-lari!"
Erfan menyugar rambutnya yang sudah basah karena air hujan turun dengan sangat deras, ia tidak habis pikir dengan Helena malah melanjutkan bermain hujan, tanpa peduli apapun.
"Kejar aku!" Helena berlari kecil bahkan menginjak kubangan air seperti anak-anak yang bermain hujan.
"Helena berhentilah bermain pulanglah bersamaku, kau akan sakit nanti!" ujar Erfan khawatir dan mendekatinya.
__ADS_1
Helena menjauh dan kemudian berhenti didalam hujan melihat Erfan yang tidak jauh darinya, yang berjalan mendekatinya dengan tangan terulur.
"Aku memang sedang sakit, karena itu aku menghilangkannya bersama dengan air hujan yang membasahi tubuhku!" Helena menengadah merasa buliran air hujan mengenai wajahnya.
Erfan terkejut mendengar penuturannya bahkan bisa melihat Helena menangis didalam lebatnya hujan walau memang tidak terlihat ingin rasanya merengkuh tubuh yang bergetar itu
Tapi Helena kembali membuka suara hingga ia urung mendekatinya, membiarkan meluapkan isi hatinya.
"Diusia 10 tahun ayahku meninggal dunia, setelah saat itu aku juga melakukan hal yang sama membiarkan air hujan membawa duka yang ku rasa." Helena tertawa gentir mengingatnya bahkan dirinya tidak terlihat penting dimata ibunya
"Seminggu lebih aku tinggal di panti asuhan setelah ayahku tiada, mungkin jika aku diculik saat itu tidak ada yang tersisa mungkin aku sudah terbunuh karena ibu tidak peduli padaku!" Helena terisak bahkan tubuhnya terguncang.
"Terkadang aku bertanya apa aku bukan putrinya? Apa aku salah terlahir ke dunia ini?" Tubuh Helena bergetar ia berjongkok karena kakinya terasa pegal di tengah hujan yang tidak mau berhenti
"Helena?"
"Pak kau harus tau, orang yang memberiku kalung ini adalah penyemangat hidupku selama ini, walau aku tidak mengenalnya!" Helena tersenyum seraya mengenggam kalung yang dipakainya.
"Dipanti asuhan itu aku melihat banyak orang anak-anak seusia ku, aku tidakĀ mengenali mereka begitupun sebaliknya tapi mereka sangat hangat dan menyayangiku walau hanya sesaat!"
Helena mengungkap semua isi hatinya karena rasanya dirinya sesak menahan semua sendirian, tangisnya pecah dan memeluk tubuhnya sendiri.
Helena bangkit berjalan pelan kearah Erfan seraya mengenggam kalung perak itu di dadanya, tubuhnya terasa lemah hingga akhirnya luruh diatas jalanan.
__ADS_1
"Helena!" Erfan buru-buru mendekati Helena dan merengkuh tubuh Helena yang terasa dingin.