Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
104. Tukang tidur


__ADS_3

...Happy reading ...


Kembali pada  dua sejoli di waktu yang bersamaan mereka sedang membelah jalanan malam dengan mengendarai sepeda motor.


Belum sampai pada tujuan tiba-tiba gerimis turun disertai angin bertiup menerpa kulitnya membuat mereka menggigil kedinginan.


"Kak kita berhenti di halte bus itu aja dulu!" pinta Aliza dirinya takut kehujanan dan sakit


Anton mengiyakan langsung memarkir sepeda motornya di depan halte takut Aliza sakit dengan angin dingin ini, baru saja mereka berteduh hujan bertambah lebat bahkan disusul dengan petir


"Aiis kenapa hujan sih!" Keluh Aliza duduk di kursi panjang halte bus dengan memeluk tubuhnya sendiri.


"Entahlah perasaan tadi masih cerah aja langit, sekarang sudah hujan." Anton menyisir rambutnya yang basah kebelakang dengan jemarinya


"Emang kak Anton gak bawah mantel hujan?"tanya Aliza melihat Anton dengan penuh selidik


"Hehe, aku Lupa." Anton nyegir dan ikut duduk di sebelahnya


"Gimana nih dengan Helena? Aku takut dia Kenapa-kenapa! Semoga kamu baik-baik saja!"


"Helena itu pinter lagian mobilku tidak rusak parah hanya raja mesinnya sering mati." ucap Anton berusaha menenangkan tapi Aliza bertambah cema


"Kok gitu aku tambah takut!"


"Mana ponsel mu?" Anton mengulurkan tangan meminta ponselnya


"Ponsel, dimana yah? Nah ini ada apa kak?" tanya Aliza menyerahkan ponsel pada Anton


"Mau hubungin Boss, Ckk percuma tidak ada baterai." Anton mengembalikan ponsel Aliza yang ternyata sudah mati


"Memangnya ponsel kak Anton mana?" Aliza bertanya seraya mengambil ponselnya


"Sepertinya ketinggalan dirumah tadi." Anton teringat dirinya panik hingga melupakan ponselnya

__ADS_1


"Jalanan sepi lagi kira-kira sudah jam berapa sih kak?" Aliza menoleh melihat Anton yang juga melihat kearah dirinya.


"Mungkin udah lewat tengah malam." Anton membuang pandangan ke segala arah.


"Shh dingin banget lagi!" Aliza memeluk tubuhnya sendiri yang mulai merasa hawa dingin.


Anton merapatkan duduknya hingga merangkul bahu Aliza berbagi kehangatan ditengah dinginnya hujan disertai terpaan angin.


"Angin malam memang dingin setidaknya kita tidak sendiri!" Anton menyunggingkan senyum pada Aliza.


"Kak!"


"Mungkin hujannya sebentar lagi berhenti, dengan begini setidaknya bisa mengurangi kedinginan." Anton mengeratkan pelukannya membawa Aliza kedalam dekapannya tanpa diduga Aliza menyusupkan kedua tangannya memeluk pinggang Anton.


Anton tersenyum tipis melirik Aliza sekilas karena dirinya seperti sudah memiliki peluang untuk mengejar gadis ini. Aliza hanya bisa menyembunyikan senyuman.


Hujan terlihat begitu lebat menguyur jalan serta pepohonan tertiup mengikuti arah angin, hari semakin malam tapi tidak terlihat hujannya akan berhenti.


"Kak kapan hujannya reda?" tanya Aliza mereka masih dalam posisi yang sama.


Aliza pun memejamkan mata bersandar pada dada Anton yang juga bersandar padanya hingga tertidur


"Gadis kecil ini benar-benar tukang tidur!" Anton mengusap puncak kepala dan menarik topi jaket hingga menutupi kepala Aliza.


Hingga beberapa jam menunggu akhirnya hujan pun reda Anton melihat perempuan yang masih tertidur memeluk dirinya


"Liza, bangun hujannya sudah reda!" Anton menepuk pipinya beberapa kali agar Aliza terbangun


"Emm kak Anton berapa lama aku tertidur?"


"Tidak lama, ayo kita harus memastikan keadaan Helena sekarang." Badan Anton rasanya pegal sekali karena duduk dengan menopang tubuh Aliza juga.


Anton menaiki motornya di ikuti oleh Aliza yang sudah selesai memakai helm, dan ikut naik di jok belakang

__ADS_1


"Sudah kak!"


Anton mengangguk dan mulai melajukan motornya membelah jalanan yang cukup sepi disertai angin yang berhembus menerpa wajah keduanya


"Kak bukankah itu mobilmu?" Aliza menepuk bahu Anton menunjuk mobil yang terparkir dibahu jalan. Anton yang mengenali mobilnya menghentikan laju motornya.


Aliza langsung turun mengintip jendela mobil dan memanggil nama Helena tapi tidak ada sahutan ataupun keberadaan Helena


"Helena tidak ada disini, kemana dia?" Aliza sudah memeriksa setiap sudut bersama Anton tapi Helena tetap tidak ada.


"Aliza tenangkan dirimu Helena akan baik-baik saja, naiklah apartemen pak Erfan tidak jauh lagi!"


Anton kembali melajukan motornya setelah memastikan Aliza sudah duduk di belakang, dengan kecepatan sedang hingga mereka sampai di gedung apartemen dan masuk setelah memarkirkan motornya.


Aliza hanya mengikutinya hingga sampai di depan pintu apartemen yang mereka tuju, Anton yang melihat kekhawatiran di wajah Aliza lalu meraih tangannya dan mengenggam erat hingga Aliza melihat padanya.


"Semua akan baik-baik saja." Anton tersenyum dibalas anggukan Aliza. Anton menekan bell beberapa kali hingga pintu terbuka menampilkan sosok Erfan dengan mata berat.


"Anton ada apa kau kemari? apa aku memanggilmu?" Erfan mengingat apa benar dirinya memanggil Anton tapi sepertinya tidak.


"Itu.. Apa Helena ada disini? tolong jangan salah paham dia sahabatnya Helena, dia sangat mengkhawatirkan Helena."


"Ya dia memang ada di sini!" jawab Erfan menahan kantuknya karena dirinya baru bisa tenang saat putrinya sudah tertidur dengan nyenyak bersama Helena.


"Syukurlah! Bolehkah kami masuk hanya memastikan." pinta Anton ragu-ragu takut membuat Erfan tersinggung.


"Masuklah, tapi mereka baru saja tertidur tolong jangan diganggu."


"Emm kalau begitu biarkan mereka tidur, kami akan pulang saja." Aliza memilih pamit saja, setidaknya Helena baik-baik saja.


"Baiklah, maaf mengganggu pak." pamit Anton dibalas anggukan oleh Erfan.


Setelah memastikan semua baik-baik saja mereka bernapas lega dan bisa pulang dengan tenang.

__ADS_1


... *****...


__ADS_2