Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
127. kepolosan Luna


__ADS_3

...Happy reading...


Entah sudah jam berapa sekarang, Helena mencoba mwmbuka matanya dengan susah payah, ruangan masih gelap karena gorden masih belum terbuka


Helena mengeliat pelan tubuhnya tapi kenapa rasanya tubuhnya begitu sakit seperti remuk terlebih daerah bawah dengan sedikit bergerak terasa begitu ngilu


"Kenapa rasanya sakit sekali?" Helena berusaha bangkit dan berjalan tertatih kedalam kamar mandi, setelah menutup tubuh dengan pakaian yang berserakan di lantai


Tapi ada hal yang baru saja disadari kenapa dirinya berada diruangan kamar mewah ini dan kamar mandinya juga kenapa begitu luas, otaknya berusaha mengumpulkan kepingan ingatan yang terjadi semalam.


"Sedang apa aku disini?"


Seketika bayangan yang terjadi semalam seakan berputar di kepalanya seperti mimpi saja bersamaan dengan itu matanya melihat cermin besar kamar mandi dan...


"Aaa!!" teriakan Helena terdengar hingga ke luar kamar mandi.


Bagaimana dirinya tidak kaget tubuhnya penuh dengan tanda merah dan sangat berantakan, apa memang terjadi sesuatu padanya semalam.


Erfan yang tadi menunggu istrinya bangun malah tertidur di sofa karena tidak mau menganggu istri yang kelelahan, ia ikut terlonjak kaget dan berlari kearah kamar mandi saat mendengar suara teriakan istrinya.


"Sayang apa kau baik-baik saja?" tanya Erfan khawatir terlihat begitu jelas dari raut wajahnya


"Kak Erfan se-sedang apa kau di sini, siapa yang melakukan semua ini padaku?" Helena tertunduk hingga terduduk di lantai karena melihat kondisinya sendiri. Siapa sebenarnya yang melakukan semua ini, apa kak Erfan? tidak kak Erfan sangat baik. Bagaimana nasipku nanti tanpa Erfan dan Luna.


Erfan mendekat dan berjongkok didepan Helena, punggung tangannya ditempel di dahi Helena yang ternyata tidak panas "Kau tidak demam, kenapa kau lupa, kita sudah menikah dan kita melakukannya semalam tanpa paksaan siapapun!" jelas Erfan meraih tangan Helena.

__ADS_1


"Be-benarkah?" Helena mengerjap beberapa kali air mata yang tadi ingin tumpah, disapu dengan punggung tangannya, lalu melihat wajah Erfan mencari kebenaran.


"Apa kita perlu mengulangi hal semalam agar kau mengingat semuanya, kenapa kau bisa lupa!" Erfan menuding kening Helena membuatnya merenggut kesal.


"Aku tidak lupa hanya saja rasanya seperti mimpi!" kilah Helena mengusap keningnya sendiri


"Sepertinya kita memang harus mengulanginya lagi, ayo!" Erfan dengan sigap mengangkat tubuh Helena untuk membawanya kedalam kamar.


"Tapi kak aku lelah!"


"Kau bisa istirahat setelah kita selesai melakukannya." Erfan kembali mengecup bibir istrinya dengan lembut dan gemas.


Mereka berdua kembali mengulanginya lagi walau Helena masih merasa lelah entah kenapa rasanya dirinya juga menikmati hal ini


...🍭🍭...


Tok..tok..


Suara ketukan pintu terdengar, sepertinya pengantar makanan karena sedari pagi mereka berdua belum sarapan.


Erfan membukakan pintu ternyata putrinya datang bersama Anton yang membawa dorongan yang berisi beberapa sarapan.


"Pagi Bos, saya bawakan sarapan untuk Anda dan juga untuk Helena eh maksud saya Nyonya Bos." ucap Anton dengan senyum karena hari ini suasana hati bos nya sangat bagus maklum kan pengantin baru


"Hmm pergilah biar aku yang bawa masuk!" Erfan tidak mau ada lelaki yang melihat Helena yang sedang tertidur.

__ADS_1


"Ayah, ayah apa adiknya sudah ada?" tanya Luna dengan polosnya membuat Anton yang masih berada di depan pintu menahan tawanya


Luna,Luna bagaimana mungkin adik bisa jadi secepat itu. rasanya Anton ingin tertawa melihat ekspresi Erfan yang bingung menjawab pertanyaan putrinya.


Seketika menghunuskan tatapan tajam yang membuat Anton gelagapan karena ketahuan menertawakan bosnya


"Emm. Belum sayang, untuk jadi seorang adik itu butuh waktu yang lama hingga berbulan-bulan jadi Luna harus sabar!"


"Benarkah? jadi sangat lama?" tanyanya lagi.


Luna manggut-manggut mengerti dia masuk kedalam kamar sementara Erfan mendorong dorongan yang berisi beberapa jenis sarapan untuk mereka.


"Ayah kenapa Mama Helena masih tidur padahal ini hampir siang hari." lagi-lagi rasa ingin tau membuat Luna bertanya dengan polosnya.


"Mama mu lelah sayang, Kemaren acaranya sangat melelahkan hingga tengah malam." jelas Erfan membuat putrinya mengerti


Luna naik ke tempat tidur dan mengecup pipi Helena seperti Helena yang biasa membangunkannya dengan mencium pipinya


"Kak Sudahlah jangan lagi aku sangat lelah!" keluh Helena berbalik dan kembali meringkuk.


"Sayang bangunlah, kau harus sarapan dulu mengisi energi! Ada Luna di sini!" Erfan mengecup puncak kepalanya dengan lembut dan berbisik pela


Helena mengeliat pelan hingga tidak sadar jika baju milik Erfan yang dipakai mengekspos bahu dan lehernya yang penuh dengan tanda merah


"Mama sakit ya, Mama digigit apa hingga merah begini, apa Mama baik-baik saja?"

__ADS_1


"Emm!" mereka berdua saling melirik bagaimana cara menjawab pertanyaan putrinya.


...****...


__ADS_2