
...Happy reading ...
"Tidak! itu tidak mungkin terjadi 'kan aku dan dia, tidak!" Helena mengeleng mencoba mengingat apa yang terjadi padanya semalam, bahkan ia sudah mengeluarkan air mata karena tidak percaya semua ini.
Erfan yang baru bangun dari lantai memegang pinggangnya yang terasa sakit karena terjatuh.
"Hey tenang tidak terjadi apa-apa semalam," ucap Erfan berusaha mendekatinya, tapi bukannya mereda Helena malah tersedu menutup wajahnya sendiri. "Aduh bagaimana menjelaskan padamu." Erfan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba merasa gatal.
"Pria jahat mengambil kesempatan dalan kesempitan, pergi kau!" Bentak Helena kesal, entah keberanian dari mana, tapi ia tidak melihat keberadaan dua cucu dan neneknya itu.
Mungkin mereka berdua sudah kabur..
Helena memukul Erfan dengan bantal dengan bertubi-tubi, tidak peduli pria itu terus membela dirinya sendiri.
"Apa maksudmu! aku tidak melakukan apapun tenanglah!, Luna, Mama tolong aku!" Erfan meminta pertolongan keduanya tapi entah kemana larinya.
"Brengsek kau!" Helena bertambah geram, setelah puas ia membalut tubuhnya dengan selimut dan berlari ke dalam kamar mandi.
"Tuhan cobaan apa ini, kenapa ada pria brengsek sepertinya!" Isak tangis Helena pecah begitu pintu kamar mandi ditutup.
Helena melihat tubuhnya yang berbalut handuk berbentuk kimono yang hanya terikat dengan tali.
Tok..tok...
"Helena percayalah semua tidak seperti yang kau pikirkan,"
"Lalu apa kau kejam, pergi!"
"Kau muntah semalam dari pada mengotori rumahku aku memilih memandikanmu"
"Memandikanku!! Katamu!!"
__ADS_1
"Tapi itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku menutup mataku dan tidak melihat apapun"
"Bohong!"
"Tidak jika aku bohong maka aku tidak akan mendapatkan jodoh, kau tau sendiri bagaimana nasipku!"
"Pufftthh.. tinggalkan aku sendiri!" Helena ingin tertawa mendengar perkataan Erfan yang menyumpahi dirinya sendiri
Apa dia sudah memiliki jodoh? Sepertinya tidak dengan mantan istrinya saja tidak damai.
"Baiklah, tapi tolong jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan dirimu, tidak terjadi apa-apa, atau aku akan memanggil dokter kesini, untuk memeriksamu?"
"Tidak perlu,"
"Tenanglah, jangan lakukan apapun! Okey?" Erfan pun pergi setelah meletakkan satu set baju untuk Helena, Helena tidak menjawab malah terdiam.
Helena berfikir keras seperti melamun seraya
duduk di atas kloset didalam kamar mandi yang luas itu.
"Aliza bilang juga bakal ada bercak darah kan?" Tanya Helena bingung.
Helena mengendap keluar dari kamar mandi melihat tempat tidur yang ditiduri semalam tidak ada bekas apapun, dan terlihat tidak terlalu berantakan.
"Huffhhh syukurlah aku tidak apa-apa ternyata dia tidak berbohong, jadi pengen-" belum selesai Helena bicara neneknya Luna masuk langsung bicara.
"Pengen apa?" Tanyanya
"Hah, itu anu Nek," Helena meraih pakaiannya yang sudah ada disana.
"Kamu mau anu gitu? nikah saja dengan anakku gimana?" Tawarnya menaik turunkan alisnya mengoda Helena.
__ADS_1
Wajah wanita paru baya itu masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi.
"Bukan bukan itu maksudku," Helena gelagapan sendiri seraya mundur perlahan.
"Tidak apa, Erfan pasti mau tanggung jawab kok hanya saja dia agak keras kepala sih." Ibu Erfan mulai menceritakan tentang putranya.
"Bukan begitu, anak ibu gak bohong kok, kami benar-benar tidak melakukan apapun." Helena tertunduk karena benar adanya tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Jadi kamu ingin apa?"
"I-ingin minta maaf, pak Erfan gak salah,"
"Baiklah kalau begitu ibu pamit bawa pulang Luna lagi, kalian tidak apa kan ditinggal berdua?"
"Tidak, Tidak masalah aku akan menjaga Luna dengan baik disini, nek!"
"Baiklah, Luna tinggal disini ya,"
Helena mengangguk, ia bisa bernapas lega saat ibunya Erfan sudah keluar dari kamar dengan senyum menghiasi wajah cantik walau sudah berumur.
Helena buru-buru mandi dan memakai pakaiannya, serta merapikan kamar Erfan yang tadi dibuat berantakan sebelum keluar.
Helena turun dari Erfan dengan malu-malu karena sudah terlanjur marah pada lelaki tampan itu, dengan ini Helena tau bahwa Erfan adalah pria baik-baik.
Erfan terlihat masih berantakan dengan dengan pakaian tidur pertanda dirinya belum mandi.
Begitu mata Erfan menangkap sosok Helena yang turun dari kamarnya seketika ia bangkit dari sofa dan menghampirinya yang belum habis menuruni tangga.
"Apa kau baik baik saja? apa ada yang terluka?" Tanya Erfan bahkan memutari tubuh Helena melihat mungkin saja ia terluka karena kecerobohannya sendiri.
"I- iya aku baik-baik saja," balas Helena kikuk seraya menggaruk tekuknya sendiri yang tidak gatal
__ADS_1
"Kau yakin?"
****