
...Happy reading...
Helena bahkan menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi hingga berantakan, ia tidak peduli dirinya sedang berada di kantor sekarang.
"Kamu tinggal dengan pak Erfan?" tanya Sindy yang sudah terlalu curiga sontak saja Helena mengangguk membenarkan dugaan Sindy.
"APA!!" Sindy begitu terkejut dengan anggukan Helena yang membuat perkataan Anton makin kuat buktinya, Anton juga bilang Helena itu istrinya pak Erfan, Benarkah?
"Helena benarkah yang kamu bilang, hubunganmu dan pak Erfan sejauh itu?"
Helena kembali tersadar saat pertanyaan Sindy, benar dirinya sudah mengatakan sebuah rahasia yang membuat pekerjaannya terancam, ini tidak boleh terjadi!
"Eh, Emang hubungan apa aku dengan pak Erfan, apa maksud kak Sindy?" Helena berlagak seperti pura-pura bodoh seraya mengibas tangan seakan tidak ada apa-apa, karena sering Akting dengan Erfan membuat dirinya sedikit aman.
"Maksudmu?" Sindy bertambah curiga
"Hehe tadi aku hanya asal mengangguk karena matah, tidak ada ada apa-apa diantara kami kok," Helena membenarkan duduknya tapi Seorang Sindy akan bertambah curiga akan hal itu.
Sindy tau jika tambah ditanya maka Helena makin berbohong jadi dia memilih tidak bertanya lagi, karena kecurigaan memang ada benarnya walau sedikit.
"Ya sudahlah, ku kira ada apa, lanjut bekerja!" Sindy mengeser kursinya kembali ke mejanya, sesekali melirik Helena yang terlihat sangat mencurigakan.
"Oh ya setauku, pak Erfan itu orang baik, hanya sedikit perhitungan, tapi untuk berbagi pada orang miskin ia tidak pernah setengah-setengah," jelas Sindy.
Helena merasa lega saat Sindy tidak lagi bertanya, dengan malas dirinya mulai mengerjakan pekerjaannya lagi.
Erfan yang baru keluar dari ruangannya bersama Anton melihat Helena yang nampak lesu tidak bersemangat membuat dirinya tersenyum miring dan itu tidak luput dari pandangan Anton.
__ADS_1
"Bos Anda tersenyum?" Pertanyaan polos Anton mendapat lirikan tajam dari Erfan membuat Anton seketika bungkam
"Apa yang kau tunggu, jalan!" Kesal Erfan melanjutkan langkahnya keluar untuk bertemu dengan rekan kerjanya.
Ck.. Padahal Anda yang berhenti tadi boss, kenapa malah menyalahkan saya? Anton hanya bisa mengumpat dalam hati
Semebtara Helena sepanjang hari tidak bersemangat sedikit pun untuk bekerja, pekerjaan dikerjakan setengah hati.
Helena sudah berfikir keras sepanjang hari benar kata Kak Sindy bahwa sebenarnya Erfan itu orang yang perhitungan bahkan tidak memberi secara cuma-cuma kecuali pada yang membutuhkan.
Helena bisa melihat Erfan yang begitu baik pada anak-anak panti asuhan bahkan sudah seperti keluarga sendiri.
Bukannya dirinya sendiri juga orang yang membutuhkan tapi kenapa Erfan begitu pelit dan juga perhitungan? pikir Helena
Sore ini Helena pulang dengan wajah lesu tidak bersemangat, Helena tiba terlebih dahulu dirumah Erfan ini ia langsung masuk kedalam kamar tanpa melihat sekitarnya
"Aa aku sangat membencinya, gajiku lenyap sudah!!
Lama Helena meratapi keadaannya seraya menarik rambutnya frustasi karena gajinya sebulan lebih kecil dari jajan anak SD yang 10 rb sehari.
"Kenapa semakin aku pikir aku makin kesal dan juga makin lapar!" Helena menendang kasur kesal
Helena keluar dari kamar dengan wajah semerawut begitu juga dengan tampilannya
Helena memasak makan dengan asal tapi lebih pada makanan pedas untuk meluapkan kemarahannya, dia bahkan tidak peduli dengan berapa banyak bahan makanan yang dihabiskan
Usai memasak Helena makan seorang diri dengan lahapnya tanpa memperdulikan apapun
__ADS_1
Sementara Erfan yang baru tiba di apartemennya masuk dengan wajah lelahnya. Ia ingin masuk kedalam kamarnya tapi suara kasak-kusuk dari dapur membuat dirinya menghentikan langkahnya
Dilihatnya Helena sedang makan dengan lahap serta porsi lebih dari lima orang yang membuat Erfan tercengang makanannya dominan warna merah
Ada apa dengan perempuan ini apa dia kerasukan setan?
"Apa yang kau lakukan!" bentak Erfan menggelegar memenuhi dapur dengan raut wajah kesal. Bagaimana tidak? Helena makan sesuka hati dirumahnya, bagaimana jika Luna melihatnya, pasti susah menjelaskan pada gadiskecil itu m
Beruntung hari ini Luna tidak minta dijemput katanya mau bersama neneknya
Helena yang sedang fokus makan tersentak kaget hingga berdiri dengan cepat menghapus sisa makanan dibibirnya, untung dirinya tidak tersedak.
"Aku-aku," ucap Helena gelagapan tidak tau menjawab apa.
"Makanan apa yang kau makan hah!" geram Erfan dengan wajah yang nampak sangat marah
"Ini, aku akan makan semuanya tidak akan membuangnya," jujur Helena karena tadi dirinya juga tidak sempat makan siang
"Ini yang kau sebut makanan?" tunjuk pada makanan serba merah itu
"Saya lagi pengen makan ini, pak. janji akan saya habiskan."Helena tertunduk karena tau dirinya memang salah akan hal ini.
"Kau, bagaimana jika Luna meminta makananmu, terus bagaimana jika kau sakit siapa yang repot hah!" Erfan teringat saat Helena sakit benar-benar merepotkan.
"I-ni bukan sepenuhnya salahku, semua ini karena mu, kau terlalu suka menganiayaku," ucap Helena menyalahkan Erfan, ia tertunduk dengan pelupuk matanya sudah mulai berkaca-kaca
Helena kembali duduk dan kembali makan makanannya dengan air mata jatuh tanpa dimintanya. Ia tidak memperdulikan lagi kemarahan Erfan, karena Erfan keterlaluan
__ADS_1
****