Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
51. Ancaman


__ADS_3

...Happy reading...


Setelah berkeliling sepanjang hari di mall, Mereka baru pulang sampai di rumah saat hari sudah sore.


Helena sudah tidur di kursi belakang dengan Luna yang juga tidur  dipangkuannya yang pasti mereka mereka berdua sangat kelelahan, sementara Erfan yang sedang menyetir juga ingin segera istirahat di kamarnya.


Mobil sudah dipenuhi oleh paper bag berisikan belanjaan mereka semua, tapi semua dibeli oleh Erfan tanpa pandang bulu hingga sudah sebanyak ini.


Erfan memberhentikan mobilnya tepat berada di parkiran mobilnya didepan gedung apartemennya yang menjulang tinggi


Dilirik kedua gadis yang tertidur dikursi belakang masih setia tertidur tanpa berniat bangun atau untuk sekedar membuka matanya.


Erfan menghela napas panjang, ia harus mengantar mereka keduanya untuk masuk kedalam rumah agar bisa beristirahat dengan tenang


Erfan terlebih dahulu membawa Luna masuk kedalam kamarnya, bergantian dengan Helena yang dibangunkan tapi tidak mempan benar-benar definisi tidur seperti kayu, Erfan memilih mengendongnya juga kedalam rumah.


Tidak lupa Erfan meminta penjaga keamanan membawa semua barang yang ada di dalam mobil untuk diantar ke apartemennya


Akhirnya Erfan bisa bernafas lega setelah merebahkan Helena di tempat tidurnya, Erfan memilih mandi sebelum akhirnya tidur dengan keadaan segar bugar.


"Akhirnya, hari yang melelahkan berlalu!"


Erfan merengangkan tubuhnya setelah itu merebahkan diri di tempat tidur dilanjutkan dengan memejamkan matanya masuk kedalam dunia mimpi. 


***


Helena terbangun saat hari sudah gelap terlihat dari jendela kamarnya, Helena melirik jam rupanya hampir lewat jam makan malam.


"Kenapa aku ada di sini, siapa yang membawaku kemari?"


Helena bangun seraya merenggangkan tubuh yang terasa kaku karena tadi tertidur didalam mobil. Helena bangkit  mengikat asal rambutnya dan keluar dari kamar.

__ADS_1


"Kemana semua orang? Apa mereka tidur juga?"


Helena pergi ke kamar Luna ternyata ia masih tidur juga, Helena membangunkan Luna untuk mandi karena mereka memang tadi belum mandi.


Helena pun memasak makan malam yang sederhana saja, setelah itu ingin membangunkan Erfan.


"Pak? Pak Erfan?"


Helena mengetuk pintu kamar beberapa kali tapi tidak ada sahutan didalam sana, dengan rasa penasaran Helena menekan handle seraya mendorong pintu hingga pintu terbuka lebar. 


Terlihat Erfan sedang tidur dengan damainya terlihat begitu manis walau tidak tersenyum.


"Ternyata seorang Erfan Zergano juga bisa terlihat tenang begini," ucap Helena pelan kembali menutup pintu kamarnya dan turun ke lantai bawah.


"Ayah di mana, Ma?" tanya Luna menghampiri Helena.


"Ayah sedang tidur, mungkin lelah kita makan berdua saja hmm?"


Luna mengangguk dan mereka makan berdua   menghabiskan makanan mereka sementara milik Erfan disimpan di dalam kulkas mungkin saja nanti dia lapar saat bangun. 


Keesokan harinya setelah pulang kerja Helena sudah bersiap-siap setelah mendandani Luna tadi, Helena memakai dress berwarna navy senada dengan milik Luna juga.


Mereka sampai di rumah keluarga Zergano pada malam hari karena memang acaranya di laksanakan pada malam hari.


Helena terpaku saat sudah berada di depan sebuah rumah yang besar, megah, dan juga bertingkat  bersama Erfan dan putrinya Luna


"Kakak!" Panggil Luna mengoyang tangan Helena agar tersadar 


"Hei, apa yang kau lihat, ayo jalan!" Bisik Erfan tapi dengan tatapan tajam


"Ba-baik!" Balasnya gelagapan.

__ADS_1


Helena dan Erfan berjalan mengandeng tangan Luna seperti yang dipraktekkan sebelumnya kerena hal ini diperintahkan oleh Erfan tadi.


Kenapa sih harus begini segala?


Begitu sampai di dalam Helena benar-benar dibuat terpana lagi dengan penampilan dalam rumah yang sangat indah dengan arsitektur eropa.


Luna mengayunkan tangan Helena karena lagi-lagi dia terdiam tidak bergerak. Melihat itu Erfan merasa geram sendiri dengan wanita ini.


"Luna jalan duluan itu nenek disana," tunjuk Erfan kearah ibunya yang duduk dengan suaminya juga


Luna pun dengan patuh  berlari kearah neneknya yang jadi pusat perhatian banyak orang karena hari ini ulang tahunnya.


"Hei apa yang kau lihat??" Erfan berbisik pada Helena yang seperti terpaku sesaat melihat kemewahan ini.


Hah? Anggap saja Helena seperti orang bodoh yang linglung malah menoleh membuat pandangan mereka bertemu dan bibir mereka hampir bersentuhan.


Bahkan hembusan nafasnya terasa di pipi Helena yang tidak mau mengalihkan pandangan darinya.


Erfan memundurkan tubuhnya ia geram melihat Helena, hingga ia merengkuh pinggangnya, mulai berjalan dan mendekati ibunya dengan langkah pelan, gerakkan Erfan membuat Helena terkejut hingga memegang tangan Erfan yang melingkari pinggangnya.


"A-apa yang kau lakukan pak?" Detak jantung Helena tiba-tiba berpacu lebih cepat dari biasanya


"Membawamu pergi, jangan panggil aku pak,  panggil namaku, kalau tidak kau bisa angkat kaki dari apartemen ku." ancam Erfan makin mengeratkan pelukan pada Helena


"Tapi pak?" Helena masih berusaha melepaskan tangan Erfan dengan susah payah


"Erfan, paham kau!" Erfan memelototinya kesal dan kembali menoleh dengan wajah dingin pada semua orang.


"Paham, paham, pak eh Erfan," Helena mengigit lidahnya sendiri karena salah ucap di depannya


"Bagus, awas jika kau salah panggil lagi, tamat riwayat mu," ancam Erfan lagi.

__ADS_1


Cihh, ancam! Ancam teros, dipikir aku takut, aku beri makanan asin baru tau rasa kamu, Erfan!


****


__ADS_2