
...Happy reading...
Helena mengajak Aliza menyusuri trotoar menuju hotel tidak terlalu jauh dari kantornya hanya berselang tiga gedung tinggi.
Helena memilih diam dengan membantu menarik koper milik sahabatnya, Aliza yang malah melirik Helena karena bingung hingga tidak bisa menutupi rasa penasarannya lagi.
"Jadi kenapa aku tidak boleh tinggal denganmu Naa?" Pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut Aliza yang malah berjalan mundur menatap Helena.
Helena mengigit bibir sendiri tidak tau harus menjawab apa pada sahabatnya ini, sejenak ia berfikir keras bagaimana cara menjelaskannya.
"Sebenarnya...."
"Ya sebenarnya?" tanya Aliza makin merasa penasaran.
"Sebenarnya aku tinggal dengan bosku Zaa." Helena menghela napas panjang dan menghentikan langkah kakinya begitu pun dengan Aliza.
"Apa? Kamu gak bercanda kan?" Aliza memegang bahu Helena dan menggoyangkan tubuh Helena beberapa kali.
"Ya gak Zaa. yang paling gak mungkin aku ajak kamu tinggal disana, tau gak dia itu berperasaan!" jiwa mengarang dari Helena tiba-tiba bangkit.
"Masa sih, orang gak berperasaan malah ngijinin kamu tinggal dirumahnya!" Aliza mulai melangkah saat Helena berjalan beriringan dengannya.
"Beuhh kamu gak tau sih, tiap hari aku gak ada jam istirahat, pagi aku masak untuknya dan putrinya. siang gini kerja dan aku juga harus masak makan malam plus camilan bener-bener dah itu boss." keluh Helena tapi tidak terlihat ekspresi malah seperti gemas.
Aliza memiringkan kepala sendiri karena bingung "Putri? Dia duda dong!"
"Bener bahkan sekali tuh pernah datang mantan istrinya kerumah, dia nampar gua Zaa sakit banget!" jelas Helena tanpa diminta.
"Tapi kenapa loe gak tinggal dirumah orang tua loe kan rumahnya besar, luas lagi dan pasti banyak kamar kosong," tanya Aliza lagi-lagi membuat langkah Helena terhenti melihat sahabat.
"Nah itu tuh biang masalahnya karena gua diusir sama Keysa sampe harus tinggal dengan bos gua nih." Helena menjelaskan dengan berapi-api sangat jelas kekesalannya pada Keysa.
"Berarti bos loe baik dong mau nampung loe yang udah diusir gelandangan lagi."
__ADS_1
"Ya sedikit"
"Apa iya?"
"Dia baik tapi cuma sedikit. hehe." Helena tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya
"Ih Helena mah gitu orangnya gak tau terima kasih, atau jangan-jangan bos loe itu jatuh cinta sama loe Naa.." tebak Aliza tepat sasaran hingga Helena hampir terbatuk mendengar perkataannya
"Ada-ada aja kamu mah, udah deh ini udah sampai, pesan kamar sana. Aku harus kembali kerja nih." Helena melihat sekilas jam tangannya
Aliza menghentikan langkahnya berdiri di depan Helena dengan wajah sedihnya diraihnya kedua tangan Helena dan menggoyangkan beberapa kali.
"Naa tapi aku harus banget tinggal disini, ini tempat baru!" ucapnya sendu ujung bibirnya melengkung kebawah.
"Tenang, nanti aku cari rumah yang bisa kamu tinggali dalam waktu lama, mungkin teman kantorku punya rekomendasi tempatnya." Helena menarik tangan Aliza hingga memeluknya dan menepuk punggungnya pelan beberapa kali
"Oke deh janji jangan lama." rengeknya dengan manja.
Helena mengantarkan Aliza hingga ke dalam kamar hotel yang akan di tempatinya untuk semalam, karena Helena harus mencari rumah yang bisa ditinggali nanti
Helena buru-buru kembali ke kantornya karena Erfan sudah menghubungi beberapa kali ia yakin karena ingin makan siang bersama.
Helena berlari mengejar lift yang ingin tertutup dan Helena berhasil menganjal dengan sepatu sebelum pintunya tertutup rapat.
Helena menekan tombol nomor 17 dimana ia bekerja karena lift sengang karena jam makan siang, tidak butuh waktu Helena sampai di lantai 17.
Helena langsung berjalan kearah ruangan Erfan karena Anton dan Sindy sudah pergi makan siang sepertinya
Helena mengetuk pintu ruangan Erfan langsung di izinkan oleh pemilik ruangan
"Pak?" sapa Helena tertunduk karena dirinya sedikit terlambat yang membuat Erfan menunggunya.
"Duduk!" titahnya dengan wajah datar walau Helena tidak berani memandang, ia tau dari nadanya bicara.
__ADS_1
Helena dengan patuh duduk di sofa didepan Erfan masih menunduk sejujurnya dirinya merasa tidak nyaman dengan tatapannya .
"Dimana temanmu?" tanyanya masih dengan nada yang sama, Erfan sebenarnya tidak suka Helena mengabaikan dirinya hanya karena temanya
"Di hotel pak, saya mengantarnya kesana sebelum kembali ke sini!" Helena masih tertunduk dalam.
Erfan mengangguk dan membuka bekal makan siang yang tadi dibawa, karena dirinya ataupun Helena memang belum makan siang.
"Makanlah!" Erfan sedikit mendorong bekal makanan ke arah Helena yang terus tertunduk.
Helena mendongak melihat Erfan pergantian dengan bekal makanan siang yang semua di depannya.
"Tapi bapak tidak makan?" Helena mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Aku ingin kamu menyuapiku." ucap Erfan mencondongkan tubuh mendekati Helena kemudian kembali duduk dengan bersandar pada sandaran kursi bahkan menggoyangkan kakinya.
Hah? dia bilang apa sih? gak mungkin aku salah dengar 'kan? Helena tiba-tiba merasa bingung
"Pak Erfan jangan aneh-aneh deh. makanan ini enak cocok untuk makan siang." Tanpa memperdulikan Erfan lagi Helena mulai makan siangnya.
Tapi Erfan tidak bergeming masih duduk tanpa berniat mengambil makanan itu, membuat Helena meliriknya beberapa kali berhenti makan sejenak.
"Anda beneran tidak makan?" Helena mulai menyajikan makanan Untuk Erfan.
"Sudah aku bilang, suapi aku! aa" Erfan membuka mulutnya minta disuapi yang memang harus dituruti oleh Helena.
Yang benar saja, lihat tubuh kekar dan besarmu apa masih cocok suap-suapan begini! umpat Helena dalam hati.
Helena menghela napas panjang, mengambil bekal milik Erfan dan mulai menyuapinya seperti anak kecil hingga makanannya habis
**
Baca novel lainnya yang berjudul My perfect Husband
__ADS_1