
...Happy reading...
Tidak jauh beda dengan Helena, Erfan masih dikamarnya masih dengan wajah bantalnya, terpaku memandangi pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Entah apa yang dilihatnya hingga sesaat kemudian dirinya bangkit masih dengan tidak bersemangat, ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, didalam kamar mandi itu lagi-lagi dirinya teringat hal yang dilakukan Helena semalam.
Karena hal itu juga dirinya tiba-tiba insomnia dan baru tertidur jam 4 pagi hingga pagi ini dirinya sudah memiliki kantung mata. Erfan keluar dengan keadaan segar.
Erfan memakai setelan kantor lengkap dengan dasi yang sudah disimpul oleh Helena untuk langsung bisa dipakai.
Erfan berjalan turun dari kamarnya sudah waktunya untuk kekantor tapi dapur terlihat terlalu bersih pagi ini kemana perginya Helena? Dan juga putrinya yang biasanya menemani Helena didapur.
Erfan melihat satu porsi sarapan sudah tertata di atas meja Erfan menghampirinya melihat secarik kertas disana yang berisi...
' Tuan, saya sudah mengantar Luna ke sekolahnya, ini sarapan untuk Anda. Saya berangkat lebih awal karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan '
Erfan duduk dan langsung memakan sarapan, Entah kenapa lidahnya sangat cocok dengan masakan Helena, ini memang suatu hal yang langka baginya karena Helena bukan orang terdekatnya.
Usai makan Erfan menuju ke kamar Helena memastikan bahwa perempuan itu benar-benar pergi. Terlihat beberapa kertas jatuh berserak didekat tempat sampah yang sudah mengunung.
"Jorok sekali, apa anak gadis yang satu ini memang begini benar-benar mengotori rumahku!" Erfan cepat-cepat kembali menutup pintu kamar itu.
"Aku harus memberinya pelajaran mengotori rumahku seperti ini!" Umpat Erfan berjalan cepat keluar dari apartemennya.
Erfan pun berangkat kekantor dengan kesal, begitu sampai Erfan bertemu dengan sekretarisnya Sindy
"Pagi pak!" sapa Sindy sopan dibalas anggukan samar oleh Erfan, meninggalkan Sindy begitu saja.
Erfan masuk kedalam kantornya melewati Helena yang sudah fokus dengan pekerjaannya bahkan tidak melihat keberadaannya.
__ADS_1
"Sombong sekali dia, lihat nanti apa dia masih bisa sombong begitu," geram Erfan duduk dikursi kerjanya.
Karena posisinya hanya manajer jadi ruangannya pun biasa saja walau dia memiliki kekuatan penuh diperusahaan ini sebelum digantikan oleh Deon nantinya.
Lamunannya buyar saat mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk!" perintah membenahi penampilannya sendiri entah untuk apa.
"Pak, ini dokumen yang harus anda tanda tangani!" Ucap Sindy tertunduk sopan
"Letakkan saja, di sana aku akan menandatanganinya nanti," balas Erfan sedang membaca dokumen
"Baik, pak."
"Oh yq panggil Helena ke ruanganku sekarang!" titah Erfan tanpa menoleh sedikit pun.
"Baik!" Sindy pun keluar dari ruangan Erfan itu beralih pada Helena yang masih fokus pada pekerjaannya
"Ada apa ya kak?" tanya Helena
"Gak tau juga, cepat gih!" desak Sindy membuat Helena bangkit dan berjalan kearah ruangan Erfan.
Helena mengetuk beberapa kali hingga disuruh masuk oleh si empunya ruangan.
"Ya ada apa pak?" tanya Helena dengan sopan, dia dikantor jadi harus profesional
"Ini gajimu!" Erfan mendorong amplop putih kearah Helena dengan senyum liciknya
"Benarkah!" Helena cepat meraih kertas itu membukanya dengan semangat tapi seketika senyumnya memudar saat melihat isi dari amplop itu.
__ADS_1
"Ini beneran pak apa tidak salah?" Helena bertanya masih dengan sopan mungkin Erfan salah memberinya gaji, Helena juga memperlihatkan cek itu. pada Erfan
"Tidak ada yang salah itu benar," jawab Erfan masih dengan ekspresinya tidak dapat diartikan.
Brakk..Helena mengebrak meja kesal kali ini Erfan benar-benar semena-mena memperlakukan dirinya bahkan memberi gaji yang tidak seberapa.
"Tidak ada yang salah katamu!" Bentak Helena dengan tangannya masih bertumpu pada meja
Pandangan Erfan malah tertuju pada jam tangan Helena dengan sigap ia menarik tangan Helena, mengambil jam tangannya. "Jam tanganmu terlihat bagus dan mahal" Erfan berhasil melepaskan jam tangan itu dari tangan Helena
"Hei apa yang kau lakukan, lepaskan itu jam tangan pemberian ayahku!" Helena malah bertambah kesal karenanya.
"Tidak akan! seharusnya kau bisa menjual jam tangan ini untuk menyewa tempat tinggal kan?" Erfan terus memperhatikan jam tangan itu, mungkin harganya lumayan.
"Erfan Zergano!" bentak Helena lagi ingin mengambil jam tangannya itu.
Erfan menghindari Pergerakan Helena dari berbagai sisi dengan gesit bahkan hingga Helena jatuh terduduk dilantai
"Aw kakiku!" Helena mengadu kesakitan memegangi pergelangan kakinya seolah terkilir.
"Jangan berpura-pura didepanku," Erfan tersenyum mengejeknya.
Helena kesal bangkit sedikit merapikan pakaiannya dan memutar otaknya untuk merebut kembali jam tangannya
Dengan kesal Helena mendorong bahu Erfan hingga kursinya terjatuh beserta Erfan dan Helena yang menimpa dirinya
Tiba-tiba pintu diketuk beberapa kali mereka saling berpandangan dan pintu terbuka muncul sekretaris Anton yang memeluk dokumen.
"Bos ada- ma-maaf saya tidak melihat apapun," ucap Anton tergagap, ia kemudian berbalik dengan sigap.
__ADS_1
"Anton kemari! ini tidak seperti yang kau pikirkan!"