Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
100. Mana Mama Helena


__ADS_3

Sementara Erfan yang sedang mencari Helena tidak kunjung menemukannya, entah kemana perginya padahal sebentar lagi hari menjelang siang, ia harus menjemput Luna dirumah neneknya juga.


"Kemana kau pergi Helena!" sudah berapa jam ia mencari tapi sangat susah menemukannya kembali. entah sudah sejauh mana dia mencari tapi hasilnyau tetap nihil.


Akhirnya Erfan memilih memutar arah menuju rumah besar keluarga Zergano untuk menjemput Luna


20 menit perjalanan akhirnya ia tiba dirumah besar itu, disambut oleh putrinya yang sedang bermain dengan Deon di halaman depan rumah yang begitu luas.


"Ayah kau datang!" sapa Luna berhamburan berlari kearah Erfan dengan bahagia.


"Iya sayang!" Erfan mengendong putrinya dan berputar beberapa kali membuat Luna tertawa riang.


"Oh ya Mama Helena mana ayah?" Luna celingak-celinguk mencari keberadaan Helena tapi tidak ada.


"Itu... ha..iya bagaimana jika kita pergi membeli cheese cake kesukaan Luna?" tanya Erfan mengalihkan fokus Luna yang tiba-tiba terlihat tidak bersemangat.


"Apa Mama Helena tidak membuatnya?" lagi-lagi yang ditanya Helena membuat Erfan tersenyum dengan terpaksa.


"I-iya dia lupa sepertinya, mari kita pergi membelinya sekarang!" ajak Erfan setelah pamit pada Deon bahwa Luna dibawa olehnya.


"Baiklah!" Luna pun mengikuti langkah sang ayah yang membawanya kedalam mobil untuk membeli cheese cake kesukaannya


Erfan membawa putrinya ke toko kue yang biasanya mereka kunjungi dulu, sudah lama sekali mereka tidak mengunjungi tempat ini karena Helena pun bisa membuat cake dirumah.


"Nah ini tempat yang sering kita kunjungi kan? Ayo kita beli cheese cake nya!"


Erfan mengendong Luna masuk kedalam toko kue itu, begitu masuk kedalam disambut dengan banyak cake yang dipajang memenuhi etalase toko.


"Gimana sayang pilih yang mana?" Erfan ikut menunduk melihat arah pandangan putrinya.

__ADS_1


"Hmm yang mana ya, cheese cake ini aja!" tunjuknya pada salah satu cake yang mirip dengan buatan Helena.


"Eh kirain pilihannya berubah. Kami pesan satu  cheese cake, satu milk shake dan secangkir americano." ucap Erfan


"Baik silahkan ditunggu, Tuan."


"Ayo sayang kita tunggu dulu!" Mereka menempati salah satu meja didekat jendela terlihat beberapa tanaman hias yang begitu indah


"Kita makan disini?"


"Tentu saja, bukankah sudah lama kita tidak makan diluar bersama?"


"Tapi Mama Helena gimana? Pasti ayah tinggalin sendiri dirumah ya?" Luna mulai curiga dengan tingkah ayahnya yang terlihat aneh.


"Tidak bagaimana itu mungkin, itu pesanan kita datang, kita makan dulu ya." Erfan segaja membuat perhatian putrinya teralihkan dari Helena jika tidak akan sulit baginya untuk terus berbohong


Luna minum milk shakenya dengan pandangan tertuju keluar dari toko kue itu entah apa yang dilihat gadis kecil itu.


"Tidak ayah, Luna hanya ingat mama Helena?" perkataan Luna berhasil membuat senyum palsu tercipta diwajah Erfan.


Helena lagi bagaimana caranya agar Luna tidak mengingatnya! Aku bisa gila jika tidak mendapatkan kabar tentang Helena sampai besok!


"Dia pergi tadi sebentar, tapi ayah tidak tau dia pergi kemana, nanti pasti dia kembali!" kilah Erfan seraya menegak americano nya hingga setengahnya.


"Ooh.."


"Makanlah sayang, setelah ini ayah antar kerumah nenek lagi setelah ini ya?"


"Pulang sama ayah aja lah, Luna mau bobo sama Mama Helena ya ya?" pintanya bersungguh-sungguh dengan ekspresi imutnya yang tidak bisa ditolak

__ADS_1


"Baiklah!" Ucap Erfan dengan senyum kikuk terus berusaha menghubungi Helena supaya pulang, entah sudah berapa kali Erfan menghubunginya tapi tidak menjawab.


"Sial!" Geram Erfan meremas ponsel di dalam genggamannya bahkan hampir menggebrak meja jika putrinya tidak ada di sini.


"Ayah bilang apa?" Luna bahkan memiringkan kepalanya bingung dengan ayahnya.


"Tidak ada sayang makan yang banyak ya?" Erfan mengusap puncak kepala putrinya dengan senyum.


"Tapi cake nya beda dengan yang dibuat Mama Helena," sendu Luna selalu mengingat mama Helena yang membuatnya terasa lebih enak


"Kalau Luna gak suka biar ayah habiskan sini!"


Erfan pun menghabiskan sisa cake milik putri, benar rasanya memang sangat berbeda dengan buatan Helena, dengan senyuman Erfan memakannya hingga habis, sebelum akhirnya mereka pulang setelah membayar semua tagihannya.


Erfan terus menghubungi Helena berulang kali walau tidak diangkat, membuat Erfan geram mengenggam setir mobil dengan kuat.


"Kamana kau Helena, tolong angkatlah!" Erfan bergumam dalam hati dengan penuh kekhawatiran terutama untuk putrinya.


Sesampainya di rumah mereka disambut dengan kesunyian tidak ada sapaan dari Helena atau suara pengorengan yang sering dipakai untuk memasak, rumah benar-benar sunyi.


"Apa Mama Helena belum pulang ayah?" tanya Luna melihat ayahnya dengan bingung. Erfan mensejajarkan posisi berlutut di depan putrinya.


"Sepertinya belum, ah ya apa kita akan makan siang dirumah hari ini? Luna makan apa?"


"Apa aja boleh ayah!"


Luna masuk terlebih dahulu setelah melepas sepatunya dan duduk di sofa ruang tamu mengambil beberapa bonekanya untuk dipeluk.


"Oke kalau begitu, ayah masak dulu ya? nonton saja disini." Erfan langsung menuju dapur yang cuma bersekat dinding dan akuarium dengan ruang tamu.

__ADS_1


Erfan memasak makanan kesukaan Luna, Erfan fokus dalam memasak hingga tidak menyadari apa yang dilakukan putrinya


"Ayah!"


__ADS_2