Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
113. Rumah sakit


__ADS_3

...Happy reading...


Erfan kembali ke rumah sakit saat hampir tengah malam saat membuka pintu terlihat Helena masih tertidur ditempat tidur, dan sahabatnya sudah tertidur di sofa.


Erfan berjalan pelan agar tidak mengusiknya yang sedang tertidur lelap yang begitu nyenyak. Walaupun begitu wajahnya masih terlihat sembab karena tadi menangis.


Entah apa yang kau alami didalam sana bersama Deon hingga bisa sehancur ini?


Erfan mengusap pipi kanannya yang terasa dingin karena dinginnya AC didalam ruangan itu.


Erfan memandang wajahnya dengan sendu senyumnya tercetak jelas tapi kesedihan terlihat dari matanya melihat keadaan Helena yang begitu menyedihkan.


Erfan perlahan mengenggam tangan Helena menyalurkan kehangatan.


"Helena aku ingin kau baik-baik saja, cepatlah sembuh!" gumamnya pelan


Erfan hanya memandang wajahnya sepanjang malam matanya tidak bisa terpejam memikirkan keadaan Helena yang masih shok dengan kejadian yang dialami tadi.


...🍀🍀🍀...


Pagi harinya Erfan terbangun dari tidurnya saat merasakan ponsel di saku celananya bergetar, Erfan menegakkan tubuhnya terlihat Helena masih tertidur.


Erfan langsung bangkit dan sedikit menjauh kearah jendela ruangan dan mengangkat panggilan dari ponselnya, yang ternyata dari supir Luna.


"Ya ada apa?" tanya Erfan dengan suara pelan tidak mau menganggu Helena


"Hiks ayah dimana? apa Mama Helena pergi lagi? kenapa tidak ayah hentikan!" tangis Luna terdengar sesugukkan dari seberang sana karena dirinya sudah kembali ke rumah tapi tidak mendapati siapapun.


"Tenang sayang semua baik-baik saja, Mama Helena ada bersama ayah sekarang, jangan khawatir." Erfan berusaha menenangkan putrinya yang sedang menangis.


"Ayah jangan bohong, kemarin ayah juga mengatakan hal yang sama ketika Mama Helena pergi." kesalnya tidak percaya dengan perkataan Ayahnya

__ADS_1


"Ayah tidak berbohong percayalah!"


"Kalau begitu katakan dimana ayah sekarang, Luna ingin bertemu Mama Helena pokoknya!" Luna kekeuh ingin bertemu Helena bagaimana pun caranya.


"Tidak bisa sayang mengertilah!"


"Tuh kan Ayah bohong hiks hiks!" tangis Luna makin pecah, membuat Erfan menghela napas berat


"Baiklah berikan ponselnya pada pak supir Ayah akan mengatakan dimana Ayah dan Mama Helena berada." ucap Erfan memilih mengalah dari pada Luna menangis dan sakit seperti kemarin.


"Yang benar?"


"Iya benar sayang jadi berhentilah menangis!" ujar Erfan Luna mengusap air matanya dan menyerahkan ponsel pada pak supir.


Erfan mengatakan bahwa dirinya berada di rumah sakit karena Helena sedang dirawat tapi tolong jangan buat Luna khawatir karena hal ini.


Pak supir membawa Luna ke tempat yang dikatakan oleh Erfan tadi. Hingga 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju, Luna yang sudah mulai bisa membaca mengeja nama rumah sakit.


"Tidak tau nona, ini alamat yang dikatakan pak Erfan tadi." ucap pak supir memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil bersama nona kecilnya untuk masuk kedalam rumah sakit, setelah memakaikan masker pada nona kecilnya.


Pak supir bertanya dimana ruangan yang tadi dikatakan oleh pak Erfan setelah itu mereka menaiki lift hingga sampai di depan ruangan yang dituju.


"Nona ini rumah sakit jadi tidak boleh ribut ya?" ucap pak supir pada Luna yang sedari tadi hanya melihat sekitar terus mengikuti langkah pak supir.


Luna mengangguk cepat dan kemudian pak supir mengetuk pintu ruangan rawat inap tersebut. pintu terbuka menampakkan sosok asing dimata keduanya yang tidak lain adalah Aliza.


"Apa benar ini ruangan nona Helena?"


"I-iya tapi kalian siapa?" tanya Aliza gelagapan karena tidak mengenal mereka berdua.


"Siapa Zaa?" tanya Helena dari dalam ruangan sedang di suapi bubur oleh Erfan

__ADS_1


Luna menoleh kearah belakang tubuh bibi yang menghalangi pintu, sontak saja Luna berlari masuk ketika melihat ayahnya dan juga Mama Helena.


"Ayah, Mama!" seru Luna mendekap kaki ayahnya yang baru saja berdiri.


"Kau sudah sampai sayang?" Erfan mengukir senyum di wajahnya seraya mengusap puncak kepala putrinya.


"Ayah, Mama!" ulang Aliza dengan bingung bergantian melihat mereka bertiga.


"Kau boleh pergi!" titah Erfan pada sang supir yang mengantar putrinya. Pak supir mengangguk dan undur diri dari hadapan mereka.


"Ayah ada apa dengan Mama Helena? kenapa ditanganinya dipasang selang kecil begini!"


"Mama baik-baik saja hanya saja terlalu lelah sayang." jawab Helena tersenyum


"Huh ini pasti karena ayah yang terlalu banyak memberi banyak pekerjaan pada Mama." cebik Luna menatap tajam ayahnya.


"Hey bagaimana mungkin, ayah juga menyayangi Mamamu ini!" Erfan tidak terima dikatai oleh putrinya sendiri.


"Ehem sepertinya aku hanya menjadi obat nyamuk disini!" timpal Aliza dengan suara pelan tapi tetap bisa didengar oleh mereka.


"Zaa kau sedang apa disana? cepat sini!" panggil Helena, Aliza dengan malas mendekatinya


"ini siapa Ma?"


"Ini sahabat Mama panggil dia Aunty Liza dan Zaa ini Luna anaknya Erfan yang pernah aku ceritakan." jelas Helena memperkenalkan mereka berdua


"Yang benar!" Aliza seakan tidak percaya tapi anggukan kecil dari Helena disertai senyum tipis yang membuatnya yakin


"Aku tidak tau putrimu bisa se imut ini! hay cantik!" Aliza berlutut di depan Luna seraya mengulurkan tangan .


"Halo Aunty Liza." balas Luna menyalami sahabat dari mamanya, Mereka bersenda gurau membicarakan tentang Helena sementara yang dibicarakan sedang melanjutkan makan dengan disuapi oleh Erfan, walau sebenarnya dia tidak suka buburnya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2