
...Happy reading...
Erfan kembali melihat Helena ia kasian sekaligus merasa jantungnya berdetak hebat, salahkah ia menyatakan perasaan ini karena rasa kasihan itu?
Tapi setelah mengatakan semua itu rasanya hatinya merasa plong dan tidak berhenti tersenyum saat berhadapan dengan Helena, ia bahkan ingin memeluk tubuhnya setiap saat.
Tok..tok..
Entah sudah berapa lama Erfan melamun hingga suara ketukan pintu ruangan membuyarkan lamunannya tentang Helena, segera Erfan duduk tegap membenarkan posisinya duduk.
"Masuk!" Erfan mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk
"Helena!" Erfan buru-buru ingin bangkit mendekati Helena untuk makan siang.
"Ini pak dokumen yang anda minta." melihat dokumen itu, membuat Erfan melihat jam di tangannya belum waktunya makan siang.
"Jangan panggil aku pak! Aku sudah mengatakannya dari kemarin." Erfan kembali duduk di kursi kerjanya dengan malas.
"Tapi ini jam kantor jadi kita harus bersikap profesional pak Erfan." Helena menyerahkan sebuah map ke hadapan Erfan.
"Baiklah terserah kau saja, duduklah!"
Helena duduk tepat di depannya melihat Erfan memeriksa dokumen yang baru diserahkan.
Yang membuat Helena terheran Erfan sekali-kali melirik dirinya dengan senyum tidak lepas dari wajahnya, Entah apa yang dipikirkan?
Selesai memeriksa dokumen yang baru diserahkan oleh Helena, Erfan tidak menyuruhnya keluar atau pun untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Pak bolehkah saya keluar keluar masih ada yang harus saya kerjakan." Helena merasa tidak nyaman terlalu lama duduk di sini apalagi pekerjaannya masih banyak.
"Duduklah bacakan jadwalku hari ini." titah Erfan padahal Sindy sudah mengatakan jadwalnya hari ini.
__ADS_1
"Aku akan mengambilnya di mejaku pak!"
"Tidak boleh, maksudku kau harus kompeten dalam pekerjaan setidaknya kau ingat jadwalku siang ini kan?" Erfan terus menahan langkah Helena untuk keluar karena Erfan ingin terus melihatnya.
"Iya, setelah makan siang ada meeting dengan wakil perusahaan TR group."
"Bagus!" Erfan kembali melanjutkan pekerjaannya membiarkan Helena jadi pajangan yang bisa terus dilihatnya.
Mereka terdiam untuk waktu yang lama karena tidak memulai pembicaraan lagi, sesekali pandangan mereka beradu membuat Helena salah tingkah.
Bagaimana tidak Helena sudah sangat lama duduk di sini membuat tubuhnya pegal karena tidak mengerjakan apapun
Tok...tok... seperti mendapatkan angin segar berharap siapapun yang masuk bisa membawanya ikut keluar.
"Sepertinya kau senang sekali ada yang masuk dan membawamu keluar begitu?"
"Kok tau sih?" spontan saja Helena menjawab, hanya bisa membuat Erfan menghela napas panjang.
"Masuk!"
"Taruh disana saja." balasnya singkat dengan ekspresi datar.
Sindy meletakkan File itu di meja Erfan, dan berdiri di samping Helena menunggu sesuatu
"Kau bisa keluar." Erfan secara terang-terangan mengusir Sindy.
"Tapi pak, Helena tadi...."
"Biarkan dia disini, ada apa?" Erfan masih bertanya dengan wajah datarnya
"A-da orang yang mencarinya dibawah katanya dia sahabat Helena." Sindy berucap dengan gugup karena tatapan tajam dari bosnya.
__ADS_1
"Pria atau Wanita?" tanyanya makin menyudutkan Sindy, Helena pun tidak bisa membantunya kali ini.
"Wanita, pak." ucapan Sindy membuat Erfan mengangguk.
"Baiklah keluar temui temanmu itu dan segera kembali jika urusanmu selesai!" ucap Erfan dengan tatapan lembut pada Helena.
"Baik pak." Helena menunduk berterima kasih dan mengajak Sindy keluar bersamaan menuju meja masing-masing.
"Apa aku salah lihat, pak Erfan itu kayak kalem sama kamu gitu?" Sindy menyikut lengan Helena yang malah terlihat salah tingkah.
"Kak Sindy salah lihat kali, emang beneran kak ada temenku dibawah?" tanya Helena mengalihkan pembicaraan.
"Bener turun aja lihat, aku gak sempat nanyain namanya tadi." Sindy kembali duduk di kursi kerjanya.
"Oke aku ke bawah dulu ya, kak." Helena melambaikan tangan seraya meraih ponselnya dimeja kerja
Setelah mendapatkan anggukan dari Sindy, Helena pun berjalan kearah lift untuk turun ke lobi perusahaan besar ini.
Helena langsung menuju meja resepsionis menanyakan tentang orang yang mencarinya
"Permisi, tadi bilang ada yang cari saya siapa ya?" tanya Helena menanyakan pada salah satu petugas resepsionis.
"Oh Helena ya, itu perempuan dengan koper itu dia sudah menunggu 15 menit yang lalu." tunjuknya pada sofa yang digunakan untuk menunggu.
"Terima kasih." Helena mengulas senyum kemudian berjalan kearah orang yang duduk di sofa tunggu dengan segelas air putih sedang membaca majalah tentang perusahaan.
Sepertinya aku mengenali kopernya, tapi siapa sih?
"Maaf siapa ya, apa Anda mencariku?" tanya Helena karena posisinya di belakang perempuan itu.
Perempuan itu meletakkan majalah di tangannya dan menoleh kearah si empunya suara yang amat dirindukan selama ini.
__ADS_1
"Helena!" Pekiknya dan menghambur yang memeluk Helena yang malah kebingungan.
*****