Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
60. Apa muat?


__ADS_3

...Happy reading ...


Helena kembali duduk dan kembali makan makanannya dengan air mata jatuh tanpa dimintanya. Ia tidak memperdulikan lagi kemarahan Erfan, karena Erfan keterlaluan.


"Salahku katamu! Lalu siapa yang bertangung jawab membuat dapurku seperti kapal pecah ini!"


"Tentu semua adalah salahmu, uangku jadi hilang semua jadi jangan salahkan aku atas semua ini!" Helena menarik sesuatu yang mulai keluar dari hidungnya benar-benar kotor ih!


"Apa kau begitu menyukai uang?" tanya Erfan setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Tentu saja uang yang tidak pernah menghianati di dunia ini," jawab Helena apa adanya terus mengunyah makanannya dengan miris, dia tidak peduli jika Erfan menganggap dirinya materialistis ataupun mata duitan.


Ia tidak peduli karena dirinya harus menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja, tapi jika dirinya tidak mendapatkan gaji sama saja dengan menganggur.


"Pokoknya aku tidak mau tau bersihkan dapur dari kekacauan ini dan masak makan malam untukku." ujar Erfan dan berlalu pergi ke kamarnya


"Berikan gajiku terlebih dahulu!" teriak Helena bangkit dari duduk meminta gajinya kembali membuat langkah Erfan terhenti.


"Jadi kau tidak mau? kebetulan Luna tidak ada, pergi kemana saja kau mau, jangan salahkan aku jika melihatmu malam ini," ancam Erfan lalu meneruskan lagi langkahnya.


Ck.. kau hanya bisa mengancam saja aku jadi tidak bisa menolaknya.


Helena ingin kesal tapi tidak bisa karena dirinya hanya menumpang dirumah Erfan jadi tidak ada pilihan lain


Erfan kau, lelaki tidak tau malu, brengsek!


Helena sudah menghabiskan semua makanannya dan mulai memasak makan malam untuk lelaki yang tidak tau diri itu.


Walau begitu Helena tidak mau berniat jahat padanya bisa-bisa dia tidur diluar malam ini dan yang paling mengenaskan dirinya diusir.


Setelah selesai memasak dan menata makanan diatas meja, Helena memilih memanggil Erfan yang ada di kamarnya diatas.


Helena menaiki tangga menuju kamar Erfan diketuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari dalam kamarnya.


"Erfan!  Erfan apa kau ada didalam?" Helena menempelkan telinganya pada daun pintu mencoba mendengar suara didalam

__ADS_1


"Erfan!" Helena memilih membuka pintu melihat sekeliling kamar tapi tidak ada keberadaan Erfan.


"Kemana dia, apa dia ada di balkon?" Helena berjalan kearah balkon yang tirainya berayun ditiup angin tapi juga tidak ada di sana


"Kemana perginya dia!"


Helena kembali masuk bersama dengan itu Erfan juga baru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengunakan handuk di pinggangnya seraya menyugar rambutnya yang basah, ia tidak menyadari keberadaan Helena di sana.


Aa tampan sekali!!


Pikiran Helena melalang buana melihatnya ingin dia pingsan saat itu juga.


Helena berdiri di sudut ruangan melihat pemandangan pria tampan dengan tubuh mengoda tapi hanya sesaat karena Erfan menyadari keberadaannya


"Kau kenapa ada disini!, eh hidungmu!"


Helena sontak berbalik membelakangi Erfan begitu ketahuan, ia mengusap hidungnya yang ternyata mengeluarkan darah segar.


"A-aku baik-baik saja, hanya ingin memanggilmu untuk makan, aku sudah selesai memasak," ucap Helena memegang hidungnya yang terus mengeluarkan darah.


"Kau yakin aku keluar?" Jawab Helena pasalnya jika berbalik keluar harus melihatnya lagi.


"Keluar!"


Braakk... Erfan masuk kedalam ruang ganti dengan membanting pintu dengan cukup kuat.


Helena tertawa kecil mengetahui tingkah Erfan yang malu-malu, ia berlari kecil keluar dari kamar Erfan karena malu ketahuan memperhatikan tubuhnya


Helena menunggu Erfan dimeja makan, ia juga ingin makan bubur yang dibuatnya tadi.


Erfan turun dari kamarnya dengan kesal ingin makan sebenarnya ia tidak berselera karena Helena tapi ibunya selalu bilang supaya tidak membuang makanan tentu saja ia tidak mau buang-buang.


Ternyata Helena sudah menunggu dirinya di meja makan dengan senyum manisnya bahkan ia membayangkan tentang kejadian tadi yang membuatnya malu.


"Awas ilermu menetes!" Ucapan Erfan sontak saja Helena menghapus ujung bibirnya yang ternyata tidak ada apapun.

__ADS_1


"Kau menipuku!"


"Selamat kau akhirnya tertipu, apa sekarang kau tergila-gila padaku?" Erfan menarik kursinya dan duduk untuk makan.


"Mimpi saja!" cebik Helena kesal serta membawa semangkuk bubur dibtangannya


"Kau mau kemana?" bukannya duduk Helena malah berlalu, pertanyaan Erfan membuat langkahnya terhenti.


"Kamar!" balasnya ketus


"Disini saja temani aku makan." mendengar hal itu Helena menghela napas panjang panjang dan berbalik duduk di sebelah Erfan.


Dengan patuh Helena makan bersama dengan Erfan tanpa banyak bicara untuk beberapa saat keheningan diantara mereka sebelum Erfan bertanya.


"Apa muat?" tanya Erfan tiba-tiba membuat Helena berhenti menyendok buburnya.


"Hah?" Helena tidak tau maksud dari perkataan Erfan ini hanya bisa memasang wajah bingung.


"Perutmu? apa sebesar itu, hingga muat banyak makanan, bahkan kau terlihat masih kelaparan," ucap Erfan mendorong piring yang masih berisi makanan pada Helena.


"Kau mengataiku?" Helena memelototi Erfan dengan kesal. Erfan tidak tau saja jika wanita adalah yang paling tidak suka dikatai gemuk.


"Mana berani," ucap Erfan dengan santainya melanjutkan makan makanannya dengan senyum miring.


Braakk...


"Aku selesai!" Helena bangkit dengan kesal berjalan dengan menghentakkan kakinya.


"Hey, ini- makanan ini terlalu banyak untuk diriku sendiri." Erfan hanya bicara sendiri karena Helena sudah masuk ke dalam kamarnya.


Erfan hanya bisa menghela napas berat, ia menyimpan makanan yang tidak sanggup dihabiskan.


"Ini akibatnya kau memprovokasi seorang perempuan."


*****

__ADS_1


__ADS_2