
...Happy reading...
"Oh ya kudengar Helena tidak punya tempat tinggal?" tanya Ibu Raty membuat Erfan menatap lekat gadis yang bernama Helena itu.
'Sial, gadis itu pasti mengatakan sesuatu pada ibu, tentu saja ibu tidak tegaan.',batinnya mengatai Helena.
"Biarkan dia tinggal disini untuk beberapa hari lagi ya, kasian dia "Erfan melihat Helena dengan wajah liciknya seakan mengejek Erfan padahal tidak.
"Benar ayah kak Helena baik sekali bahkan memberiku boneka ini" timpal Luna setuju dengan neneknya seraya menunjukkan boneka yang diberi oleh Helena kemarin.
"Tidak seperti itu,aku sudah mengemas barang- barangku dan pergi," balas Helena tertunduk, ia tidak enak hati walau Erfan mengira dia memakai trik agar bisa tinggal disini.
"Tunggu Helena, tinggallah disini dia punya beberapa kamar, benarkan?" Raty menghentikan langkah Helena.
"Tidak kamarnya penuh,"ucap Erfan berbohong tanpa berkedip sedikitpun.
"Erfan, tidak baik perempuan tinggal dijalanan, biarkan dia tinggal disini untuk sementara titik!" putusnya tidak bisa dibantah tapi bukan Erfan namanya jika tidak membantah yang tidak disukai.
"Tapi Ma dia punya keluarga sendiri!" balas Erfan tidak suka dengan makhluk licik seperti wanita ini
"Kau tidak mau, baik ibu yang akan membawanya pulang," jawabnya kesal
"Gawat jika ibu membawanya pulang, maka akan semakin dekat dan bisa saja dia melakukan hal yang tidak-tidak" Erfan menggeleng kepalanya mengusir pikirannya yang aneh
"Erfan kamu kenapa?"tanyanya bingung dengan tingkah anaknya.
"Baik-baik terserah Mama saja," Erfan pasrah saja, setidaknya Helena bisa merawat Luna juga.
"Mulai besok kau tidur dikamar sudut sana," tunjuk Erfan pada pintu didekat dapur sebelah kanan sementara toilet di sebelah kiri.
"Tidak ayah kamar itu sangat kecil, kak Helena tidak bisa tidur disana." Luna gadis kecil yang sangat pengertian
"Tidak apa, kak Helena bisa tidur dimana saja," Helena memilih mengalah dari pada mereka berdebat karenanya.
"Baiklah sudah diputuskan, bawa barangmu kekamar itu, jangan mengacaukan rumahku," perintah Erfan.
__ADS_1
"Terima kasih ayah, membolehkan kak Hantu cantik tinggal disini." Luna meloncat kegirangan meminta digendong oleh ayahnya.
"Baik asal Luna bahagia,"ucapnya mengendong putrinya dan mencium gemas pipi Luna
Helena tersenyum akhirnya bisa tinggal dirumah Erfan walau hanya kamar kecil disana. Begitu membuka pintu terlihat kamar hangat tanpa tatanan apapun.
Helena mendekati tempat tidur yang muat untuk satu orang dengan sprei putih, ada meja dan kursinya juga, ia mulai mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper.
"Sprei nya ada didalam lemari," Erfan memberitahukan padanya.
Helena membuka Lemari dan melihat beberapa sprei tertata disana dan ia mengambil salah satunya berwarna abu-abu, karena yang lainnya berwarna hitam dan juga warna navy.
"Karena kau akan tinggal dan tidur disini maka waktu membayar hutang mu menjadi 6 bulan dengan persyaratan yang di tambahkan." Erfan berkata dengan dingin.
Tambah saja yang banyak yang penting aku punya tempat tinggal.
Helena seakan menulikan diri tak mau menanggapi Erfan, masih sibuk dengan pekerjaan merapikan kamar.
"Hey apa kau dengar?" sentak Erfan menarik tangan Helena kesal karena tidak dipedulikan.
"Terserah kau saja!" Erfan meninggalkan Helena sendiri membersihkan kamarnya tanpa berniat menolong.
"Ayah bagaimana?" tanya Luna melihat ayahnya keluar dari kamar itu.
"Katanya Dia tidak butuh bantuan." Erfan duduk diantara mereka dan menikmati camilan seraya menonton Tv.
Sementara itu Helena merapikan kamar yang baru didapati agar bisa di tempati dengan susah payah karena seorang diri.
35 menit kemudian Helena sudah merapikan semua isi kamar, ia sudah memindahkan semua barangnya dalam lemari dan juga sudah membersihkan jendela kamar.
Helena menghela napas panjang, "Aku tidak tau merombak kamar dan merapikannya sangat melelahkan," keluhnya karena kelelahan.
Helena merebahkan diri di tempat tidur, hingga sebuah ketukan membuyarkan lamunannya, nampak sosok Erfan membuka pintu membuat Helena buru-buru bangkit.
"Bagus jika kau sudah selesai sekarang waktumu untuk membuat perjanjian," Erfan nyelonong masuk tampa permisi.
__ADS_1
"Perjanjian?" ulang Helena bertanya.
"Perjanjian yang mengikatmu tentang rumah ini mulai dari makanan yang harus kau masak setiap harinya, apartemen ini kau yang bersihkan dan Luna kau harus mengurusnya didalam dan diluar jam kantor" jelas Erfan seperti air mengalir sangat cepat.
"Gajimu hanya dibayar setengah, sisanya akan masuk kedalam rekening ku untuk cicilan hutang mu dan kau harus serba bisa!" Erfan menekankan pada kata hutang.
"Apa tidak bisa 70/30 saja?"Helena memelas
"Bisa aku 70 dan kau 30" balas Erfan cepat melipat tangan serta bersandar pada meja.
"Bukan" Helena melambaikan tangan tanda tidak setuju "aku yang 70 dan bayar hutang 30" lanjut Helena
"Tidak, itu akan semakin lama kau tinggal disini. Tidak bisa!" Erfan menolak dengan tegas
"Tapi aku ini seorang wanita, aku butuh banyak barang yang harus dibeli," Helena mengiba
"Apa aku sedang berdiskusi padamu?"Tanya Erfan dibalas gelengan Helena.
"Tapi.."
"Ck. Tidak bisa, poin lainnya ada dalam perjanjian itu dan satu lagi kau harus berakting saat diperlukan mengerti!" Erfan berlalu dan menutup pintu dengan kasar
Akting apa sih? Dan berakting untuk siapa?
Helena kebingungan dengan perkataan Erfan tentang berakting, memangnya mereka akan bermain drama? pikir Helena
"Perempuan ini tidak tau diri" Erfan bergumam setelah menutup pintu kamar Helena.
Helena merebahkan lagi punggungnya mengangkat tangannya tinggi yang sedang memegang perjanjian yang diberikanoleh Erfan.
"Hidupku terlalu pelik," gumamnya mengistirahatkan tubuh yang lelah sejenak.
***
Dukungan kalian adalah semangat Author untuk nulis dan update terus, dukung ya like, coment, follow dan gift nya
__ADS_1