Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
48. Permintaan maaf


__ADS_3

...Happy reading...


"I- iya aku baik-baik saja," balas Helena kikuk seraya menggaruk tekuknya sendiri yang tidak gatal


"Kau yakin?"Tanya Erfan meyakinkan Helena begitu pun dengan dirinya.


"Iya, pak."


"Awas ayah, mentang-mentang Luna gak ada dirumah sudah berani jahatin kak Helena, ya!" Luna berkacak pinggang memarahi ayahnya yang menurutnya sangat keterlaluan karena membuat Helena tadi hampir menangis. 


"Tidak bukan begitu Luna, hanya salah paham saja." Erfan mencoba membela dirinya sendiri


"Lalu apa? kenapa kak Helena nangis!" Luna makin menyudutkan ayahnya yang terlihat salah tingkah.


"Itu hanya kesalah pahaman saja Ayah tidak menjahatinya, periksa tidak ada lecet sedikitpun ini," Erfan mendekati Helena dan memutar tubuh Helena yang masih utuh seperti biasanya


"Benarkah?" Ucap Luna benar-benar meragukan sikap ayahnya


"Tentu saja sayang, ayah gak mungkin melakukan itu!" Luna melihat ayahnya yang sudah pucat karena terus dituduh seraya terus menyugar rambutnya frustasi.


"Benarkah begitu kak Helena?"Luna berbicara lembut pada Helena seraya mengenggam tangannya juga.


"Emm.. Iya kak Helena baik-baik saja kok Luna, jangan khawatir kakak sudah besar bisa menjaga diri," balas Helena merasa kikuk karena perdebatan keduanya


"Kak Helena jangan belain Ayah, sini bicara dengan Luna, ayah tidak bisa macam-macam sekarang." Luna membawa Helena duduk di sofa saat melihat ayahnya melempar pandangan pada Helena dengan tatapan tajam.


"Beneran Luna, kak Helena tidak apa-apa, hanya salah paham tadi," kilah Helena karena terlanjur menuduh Erfan sembarangan.


"Benarkah begitu?" Tanya Luna dijawab anggukan oleh Helena membenarkan perkataannya.


"Nah kan, ayah tidak berbohong kan!" Erfan menunjuk Helena yang mengangguk membenarkan perkataannya sendiri.

__ADS_1


Erfan yang melihat putrinya akhirnya percaya hanya menghela napas seraya mengelus dada lega, ia pun ingin beranjak pergi ke kamarnya untuk mandi.


"Ayah ngapain?" Tanya Luna menghentikan langkah ayahnya yang baru menaiki beberapa anak tangga menoleh pada putrinya yang masih di sofa.


"Mau mandi sayang, ayah mau masuk kantor hari ini ada rapat penting siang nanti," balas Erfan jujur karena ia bukanlah orang yang suka berbohong.


"Ayah tidak mau minta maaf pada kak Helena?" Pertanyaan Luna membuat membuat Erfan mengangkat sebelah alisnya karena bingung.


"Minta maaf? Kan cuma salah paham. Ayah gak salah sayang jadi tidak perlu minta maaf segala kan ayah yang difitnah di sini." Erfan mengangkat bahunya seraya mengibas tangan seakan tidak bersalah


"Ayah!" Luna sudah berkacak pinggang berdiri di atas sofa dengan amarahnya


"Ada apa lagi?" Erfan kembali menoleh pada putrinya


"Sebagai permintaan maaf hari ini Ayah masakin sarapan, tidak ada bantahan ayah! titik." titahnya dengan menatap tajam ayahnya.


"Minta maaf dan Masak?" ulang Erfan seolah dirinya tidak salah dengar.


"Hah? Tapi ayah gak salah loh!" Erfan tidak salah jadi untuk apa meminta maaf pada Helena yang salah.


"Ya ampun Ayah, Luna lapar pagi-pagi kesini untuk sarapan tapi ayah malah jahatin kak Helena jadi Ayah yang masak!" Kesal Luna dengan wajahnya yang memerah malah terlihat imut.


"Tapi sayang!"


"Ayah!!" Luna menggembung pipinya pertanda bahwa dirinya benar-benar akan marah besar.


"Iya-iya Ayah masakin." Erfan menghela napas panjang, ia memilih mengalah dari pada terus berdebat dengan putrinya yang tentu dirinya yang kalah nanti


Erfan mulai berkutat didapur sendirian, memasak untuk ke dua wanita yang sedang duduk di sofa ruang tamu


Haiishh... kenapa aku yang memasak hari ini sebagai permintaan maaf, jelas-jelas yang salah itu dia tapi kenapa aku yang minta maaf? Ck.. rasanya kau sudah kalah dengan kedua perempuan itu.

__ADS_1


Erfan mencebik sesekali seraya terus memotong sayuran dan beberapa daging yang akan dimasak pagi ini untuk sarapan, dan ia harus pergi ke kantor terlambat.


Helena yang sedang duduk di sofa bersama Luna yang terus mengajak dirinya bicara sesekali menoleh kearah dapur melihat Erfan yang sedang memasak karena tidak enak hati.


"Mama ada apa?" tanya Luna pada Helena yang terlihat tidak nyaman.


"Emm. Luna Mama bantuin ayah masak ya, kamu tunggu disini ya?" pinta Helena bangkit dari duduknya


Luna mengangguk memberi izin agar Helena pergi menemui ayahnya yang sedang memasak terlihat sangat, sangat tampan.


Hihi.. pasti Mama Helena dan Ayah bakal beneran bersama jadi keluarga bakal utuh lagi.


Saat Helena sampai dipintu dapur nampak Erfan sudah selesai memasak sedang menyajikan makanan diatas meja.


"Emm ada yang bisa saya bantu pak?" gumam Helena dengan suara pelan tapi tidak dijawab oleh Erfan. mungkin dia tidak mendengarmu, Helena!


Helena berjalan kearah kulkas mengambil susu dan juga jus jeruk yang biasa mereka minum, tanpa bertanya lagi Ia membantunya.


"Panggil Luna saja, aku akan menyelesaikannya," ucap Erfan yang membuat Helena mengangguk dan kembali ke ruang tamu untuk memanggil Luna.


Tidak lama Luna dan Helena beriringan memasuki dapur, Helena mendudukkan Luna di kursinya.


"Bagaimana apa kau suka?" tanya Erfan entah kepada siapa. membuat Helena dan Luna saling melempar pandangan bingung.


"Aku bertanya padamu, Helena apa kau suka masakan untuk permintaan maafku ini?" ingin rasanya Erfan meneriaki perempuan itu tapi tidak mungkin karena putrinya ada di sini.


"Iya terima kasih pak, dan kita makan semua ini bersama," balas Helena dengan senyum canggung dan mulai menyajikan makanan untuk Erfan juga.


Mereka pun makan bersama dengan lahap apalagi Helena yang ketiga kalinya memakan makanan yang dibuat oleh Erfan.


****

__ADS_1


__ADS_2