Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
107. Dimana Dia


__ADS_3

...Happy reading...


"Pufthhh haha kenapa wajahmu pucat gitu kamu jatuh cinta atau apa?" tawa Helena seketika pecah bahkan hingga tergelak melihat ekspresi wajah Aliza yang pias.


"Helena!" Cebiknya kesal lalu melepaskan tangan Helena begitu saja dan berbalik membelakanginya.


Helena mendekatinya dan duduk di hadapannya seraya mengenggam tangannya."Zaa, gak ada salahnya kamu jatuh Cinta sama kak Anton, dia baik gak salah kamu jatuh Cinta." ucap Helena lembut.


"Tapi Naa kamu tau sendiri gimana keluargaku." ujar Aliza tertunduk.


"Zaa, jika kamu yakin pada kak Anton maka jalani saja, bagaimanapun keluargamu pasti kamu akan diperjuangkan sepenuh hati olehnya." tutur Helena menenangkan sahabatnya.


"Tapi Naa!"


"Percaya padaku sejauh kak Anton yang kukenal adalah pria apa adanya, baik, hanya saja agak cerewet cocok denganmu, pokoknya." Aliza melihat Helena dengan mata berbinar


"Tenang saja dan terima cintanya, ya sudah aku tidak akan menganggumu lagi, kejar kak Anton Semangat!" Helena mengepalkan tangan dan mengangkat keatas menyemangati temannya dalam percintaannya.


"Ya sudah aku pergi dulu ya," pamit Helena menyeret kopernya keluar dari apartemen yang ditempati sahabatnya itu.


Helena pergi menuju lift untuk turun ke lobi apartemen dengan membawa semua barangnya didalam koper serta satu tas salempang yang berukuran cukup besar


Saat sudah menarik semua bawaannya Helena menunggu taksi yang lewat tapi tidak ada satupun yang lewat


"Kemana perginya semua taksi ini?mana ponselku?" imbuhnya mulai merogoh saku yang dia punya tapi tidak ada juga.


"Ais kenapa aku begitu pelupa, aku meninggalkannya di apartemen Aliza tadi." Helena menepuk jidatnya sendiri karena terlalu sering lupa akhir-akhir ini.


Helena mendorong kopernya menepi dan ingin masuk kedalam apartemen lagi ingin mengambil ponselnya yang tertinggal.

__ADS_1


Tapi tanpa diduga seseorang membekap mulutnya membuat Helena meronta sekuat tapi rasanya tidak berguna m hingga akhirnya dirinya merasa lemas dan pandangannya gelap..


...⚘⚘⚘...


Erfan sudah kembali ke kantor sekitar setengah jam yang lalu lebih awal 15 menit sebelum jam istirahat selesai, dan tentunya untuk melihat Helena yang sering menganggu pikirannya.


Tapi yang dinantikan malah belum kembali entah pergi kemana dia, Erfan mondar-mandir didalam ruangannya karena khawatir Helena akan pergi lagi seperti kemarin.


Erfan juga mencoba menghubunginya beberapa kali tapi percuma saja karena tidak ada jawaban dari seberang sana, membuatnya tambah kesal.


"Kemana perginya dia sampai panggilanku tidak dijawab!" geramnya mengepalkan tangan dengan kesal


Erfan keluar dari ruangannya dengan langkah tergesa-gesa dan berhenti tepat di sebelah Sindy karena ada yang ingin ditanyakan.


"Pa-pak Erfan! A-da apa?" sontak Sindy bangkit sangking terkejutnya dengan kehadiran Erfan yang tiba-tiba.


"Ehem. kemana perginya Helena kenapa dia belum kembali hingga sekarang?" tanya Erfan menyembunyikan rasa canggung.


"Oh." Erfan mengangguk dan berjalan melewati Sindy.


"Pak, Anda mau kemana? sebentar lagi ada meeting dengan perusahaan luar negeri." ucapan Sindy tidak membuat langkah Erfan terhenti.


"Kau urus saja hal ini, ada hal penting yang harus ku urus." ucapnya dengan terus melangkah menjauh.


Sindy hanya mengangguk samar melihat kepergian atasannya itu yang terlihat begitu tergesa-gesa.


Erfan terus berusaha menghubungi Helena seraya berjalan cepat menuju parkiran di mana mobilnya yang berada


Erfan merasa geram bahkan membanting pintu mobil sangking kesalnya tapi terus berusaha menghubungi Helena yang entah dimana sekarang .

__ADS_1


Entah sudah berapa kali Erfan menghubunginya hingga akhirnya panggilan terjawab membuat Erfan yang sedang mengendarai mobil mendadak berhenti.


"Halo Helena kau dimana kenapa tidak kembali ke kantor kenapa kau berusaha kabur lagi!" kesalnya setengah berteriak membuat orang yang berada di sebrang terkejut bahkan ponselnya hampir terjatuh.


"Maaf pak, Helena-"


"Siapa kau, kemana Helena!" bentaknya n


"Aku temannya, aku sedang menyusul Helena mungkin saja masih berada dilobi apartemenku."


"Kirimkan lokasinya!" titah Erfan langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak.


Dengan sigap Aliza mengirim lokasi Apartemennya dan turun ke lobi apartemen dengan lift.


Sementara Erfan yang baru menemukan lokasi tempat Helena langsung memacu mobilnya dengan kecepatan penuh hingga akhirnya sampai bersamaan dengan seorang wanita keluar dari gedung apartemen itu.


"Pak Erfan, Anda pak Erfan?" Sapa Aliza menghampirinya seraya melambaikan tangan.


"Kau temannya Helena?" tanya Erfan memastikan bahwa perempuan didepannya adalah sahabatnya Helena.


"Yah tentu saja bukankah kita pernah bertemu?" timpal Aliza mengingat pertemuan mereka kemarin.


"Kapan?" Erfan bertanya seakan tidak pernah bertemu dengan Aliza. Yah mungkin saja di matanya hanya ada Helena seorang.


Ada apa dengan pria ini? Apa dia tidak bisa mengenaliku, kami baru bertemu kemarin.


"Lupakan ini ponselnya Helena."Aliza menyerahkan ponsel pada Erfan yang langsung diterima.


"Lalu dimana dia?"

__ADS_1


...****...


__ADS_2