Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
120. Tidak mau Kehilangan


__ADS_3

...Happy reading...


Setelah tadi malam berbicara pada Helena kemarin tentang Deon hari ini akhirnya mereka berada tepat di depan rumah besar keluarga Zergano.


Untuk sejenak Helena hanya terpaku melihat rumah megah itu, dia bahkan hampir lupa kapan ia terakhir kali datang kesini


Erfan mengenggam tangan Helena membuat Helena menoleh dan membalas senyumnya


"Ayo kita masuk!" ajak Erfan mengenggam tangan Helena sesekali mendaratkan kecupan di sana


"Tapi aku takut kak, apa mungkin semua tidak benar?" ucap Helena mungkin saja kejadian kemarin tidak nyata baginya


"Tenang ada aku disini jadi jangan takut, aku jamin tidak ada yang bisa menyakitimu lagi." Erfan menenangkan wanita yang malah terlihat ragu.


"Benar ada kami yang akan melindungi Mama." celetuk Luna menggandeng tangan Mamanya


"Terima kasih sayang, kalian sangat berarti bagiku.


Mereka bertiga melangkah masuk bersama setelah pintu rumah dibuka oleh seorang pelayan pria.


"Terima kasih paman!" ucap Luna yang memang terbiasa berterima kasih pada siapapun walau mereka melakukan hal kecil.


"Silahkan masuk nona kecil, nona Helena, Tuan Erfan. Nyonya Zergano menunggu kalian didalam!"


Pak pelayan menuntun mereka ke taman di samping rumah dimana Nyonya Zergano sedang berdiri melihat keluar dimana banyak tanaman hias.


"Nyonya mereka ada di sini!" ucap pak pelayan sontak saja Nyonya Zergano berbalik

__ADS_1


"Benarkah!"


"Nenek!" Luna berhamburan memeluk pinggang neneknya


"Luna nenek sangat merindukanmu!" ucap Nenek Luna memeluk cucunya itu


"Luna juga sangat merindukan nenek, sudah lama sekali rasanya nenek tidak berkunjung ke rumah ayah untuk menjemput Luna."


"Maaf sayang Nenek terlalu sibuk akhir-akhir ini, lupa memnjemputmu." balasnya tidak enak hati karena marah dengan Erfan sampai tidak memperdulikan Luna


"Permintaan maaf diterima!"


Luna menangkup tangan sang nenek disertai senyum gembira, lalu Luna berlarian di taman menyentuh bunga yang bermekaran


"Deon ada di kamarnya sedang menunggu kalian, sejak kejadian itu dia bahkan tidak berani keluar dari kamarnya." ucapnya ada gurat kesedihan yang menyelimutinya dan juga kegundahan karena hampir sebulan lebih Deon seperti itu.


"Kalau begitu aku akan menemuinya dulu, tunjukkan di mana kamarnya?" tanya Helena Mengedarkan pandangan karena walau sudah beberapa kali kesini dia tidak tau dimana kamar mereka.


"Tidak perlu kak percaya padaku, aku bisa menghadapinya." Helena tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Erfan perlahan.


Bukan tanpa alasan Helena ingin menemuinya karena ia tau Deon akan takut jika melihat keberadaan Erfan lagi.


"Baiklah kali ini aku percaya padamu jaga dirimu." Dengan berat hati akhirnya Erfan melepaskan kepergian Helena untuk menemui Deon


Helena mengangguk samar dan berjalan mengikuti pelayan yang menuntunnya kedepan pintu kamar Deon


"Ini kamarnya nona. "Helena berhenti dan melihat pintu ruangan itu yang senantiasa tertutup. Helena mengangkat tangan berusaha mengetuk pintu tapi setelah menunggu tidak kunjung terbuka.

__ADS_1


Helena memberanikan diri memegang bandle pintu dan mendorongnya dengan perlahan. Dirinya disambut dengan kegelapan hanya lampu tidur yang menyala. Tapi iantidak bisa melihat dimana keberadaan Deon sekarang.


"Deon kau dimana, nenek bilang kau sangat ingin menemuiku?" tanya Helena melangkah masuk melihat seisi kamarnya tapi tidak ada jawaban.


"Keluarlah, aku datang kesini untukmu. Kamu dimana?" Helena tidak pantang menyerah masih berusaha membuat Deon keluar dari persembunyiannya.


"Pergi Aku tidak butuh dokter pergi kalian!" bentaknya kesal yang membuat langkah Helena terhenti memasuki kamarnyan


"Jangan seperti ini, apa kau tidak mengenaliku, ini aku Helena!" ucap Helena tersenyum berusaha menenangkan hatinya sendiri.


Lampu kamar akhirnya menyala semua membuat Helena mengerjapkan mata beberapa kali serta mengedarkan pandangan mencari sesosok yang ternyata menatapnya dari belakang.


"Deon kamu dimana?" tanya Helena Helena lagi


Deon dengan tangan bergetar bahkan tidak bisa melangkah untuk sekedar mendekati Helena karena dirinya terlalu hina bertemu dengannya.


"Helena..."


Lampu kamar kembali mati dengan langkah gontai Deon mundur hingga terduduk di sudut ruangan. Bahkan terdengar isakan kecil. pikirannya kembali mengingat hari dimana Helena sengaja melukai diri sendiri.


"Deon dengar, aku tidak marah padamu, kau, kau sebenarnya adalah pria yang baik, walau perbuatanmu salah bukankah itu tidak segaja." Helena tidak pantang menyerah berbicara dengan terus mencari keberadaan Deon dalam ruangan itu.


"Aku kesini untuk melihat kondisimu, ah lihat aku membawakan hadiah dari Luna dia sangat ingin bertemu dengan kakaknya. Bukankah sebentar lagi ulang tahunmu." Helena terus berucap untuk membujuknya sebisa mungkin, tapi Deon seakan tidak mau menemuinya


"Deon apa benar kau ada disini?"


"Baiklah terserah semuanya padamu, jika kau tidak mau keluar dalam waktu 10 menit maka kau selamanya tidak akan bisa mendapatkan maaf dariku lagi dan ya Luna juga tidak mau punya kakak pengecut sepertimu, aku pastikan kau tidak bisa menemuinya lagi." ucap Helena memang terdengar kasar tapi ini demi kebaikannya.

__ADS_1


Deon yang semula tertunduk ketakutan langsung takut kehilangan sosok adik seperti Luna yang begitu manis, tidak dia tidak bisa kehilangan adiknya yang selalu membuatnya tersenyum.


...****...


__ADS_2