Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
41. Gegara sepeda


__ADS_3

...Happy reading ...


Helena sudah kembali ke Apartemen dan langsung ke dapur untuk memasak makan siang untuk semua orang dengan cekatan.


Setelah usai memasak makanan Helena memilih untuk membujuk Luna terlebih dahulu


Tok...tok... Helena mengetuk pintu kamar Luna yang masih setia tertutup


"Luna boleh kak Helena masuk?" tanya Helena sengaja tidak menggunakan sebutan Mama untuk dirinya sendiri.


"Ya!" Balasnya dari dalam kamar


Helena membuka pintu perlahan melihat seisi kamar, terlihat Luna sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur. Helena segera menghampiri dirinya dengan khawatir.


"Luna kenapa?" tanya Helena membawa Luna dalam pelukannya


Helena melihat Luna dengan sisa air mata yang membekas di pipi mungilnya. "Ada apa sayang kenapa kau menangis?" Helena mengusap pipinya


"Hiks Ayah jahat sama Luna!"


"Ayah Luna tidak jahat, dia hanya sayang pada Luna, ayah pasti takut Luna kecewa nantinya." Helena mengusap puncak kepala Luna dengan sayang


"Kecewa?" Tanyanya


"Iya, Ayah hanya berusaha melindungi Luna dari dulu ayah menjadi Ayah sekaligus ibu untuk Luna kan?" Jelas Helena


"Benar bahkan Ayah belajar memasak hingga jemarinya penuh dengan plaster." Luna teringat perjuangan sang ayah di masa lalu


"Nah itu buktinya ayah Luna adalah Ayah yang terbaik," Helena mencolek hidung gadis kecil yang sudah dianggap seperti anak sendiri.


"Benarkah?" Tanya Luna menghapus jejak air matanya


"Tentu saja ayah ingin yang terbaik untuk Luna, ayah sangat sayang pada Luna."


"Ayah sungguh berkata begitu?, Luna masih boleh panggil Mama kan?" Pertanyaan polos Luna membuat Helena terdiam


Helena berpikir sejenak ada benarnya perkataan Erfan tadi tapi ia juga tidak tega melihat Luna terluka


"Tentu saja, Mama akan selalu menjadi Mama Luna, sekarang ayo kita makan, Mama sudah memasak makanan kesukaanmu." Akhirnya Helena memutuskan, semoga pilihannya tidak membuat Luna sedih di masa depan


"Baik, Ma!" Luna turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ia meminta Helena mengendongnya untuk keluar.


Cup


Luna mencium pipi Helena dan memeluk lehernya seakan tidak mau lepas dari pelukannya. Saat mereka keluar ternyata Erfan sudah berada di sana sedang menuangkan susu untuk putrinya.


"Ayo duduk dulu kita makan bersama sayang!" Erfan menarik kursi yang biasa diduduki Luna, membuat Luna turun dari gendongan Helena dan duduk di kursi itu.


Setelah itu mereka makan bersama siang ini dengan saling melempar senyum. Hingga makanan habis tidak bersisa.

__ADS_1


Helena yang sekarang sedang cuci piring sisa makanan tadi, Helena melihat keduanya kembali akur seperti sedia kala. Helena dengan cepat menyelesaikan mencuci piring dan duduk bersama mereka.


"Oh ya tadi diluar ada orang yang bersepeda bagaimana jika kita bersepeda jugaa hari ini?" Helena teringat jika dia sudah cukup lama tidak naik sepeda


"Ayuk!" Jawab Luna cepat dengan bersemangat


"Tidak!" Balas Erfan membuat mereka berdua menoleh padanya."Tidak nanti jatuh sayang, sakit!" Lanjutnya tidak ingin terjadi sesuatu pada putrinya


"Aku akan membonceng Luna gimana?" Helena memberi solusi yang tepat


"Bolehlah ayah ya ya?" Luna kembali memohon pada sang ayah dengan sungguh-sungguh


Erfan menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, "Hah baiklah!" Erfan memilih pasrah saja dari pada nanti bertengkar lagi.


Sekarang disinilah mereka sedang memilih sepeda ditempat penyewaan sepeda, mereka sudah lengkap dengan pakaian olahraga juga.


"Gimana sekarang kak Helena pilih yang warna biru bagus tidak?"tanya  Helena pada Luna yang berada di sebelahnya.


"Bagus kak!" Jawabnya antusias tidak sabar ingin naik sepeda.


"Kalau begitu aku yang hitam!"


Erfan langsung menarik keluar sepeda yang dipilih diantara semua sepeda yang berbaris rapi, begitupun Helena yang sengaja mengambil sepeda yang memiliki tempat duduk dibelakang untuk membonceng Luna.


"Kamu bisa naik sepeda kan?"tanya Erfan menyelidik tidak mau terjadi apa-apa pada Luna.


"Cih sombong sekali!"


"Jelas dong atau mungkin bapak yang tidak naik sepeda?" Helena malah balas mengejek Erfan


"Ck. Kamu meremehkanku jalan cepat!" Cebik Erfan


Helena pun naik dan mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang, seraya menikmati pemandangan disekitar. 


Sementara Erfan hanya melihat sepeda yang ditumpangi oleh mereka menjauh memastikan perkataan Helena.Setelah mereka sudah jauh Erfan mulai mengayuh dengan cepat menyusul keduanya.


"Luna apa kau menikmatinya sayang?" tanya Helena pada Luna yang sesekali tertawa karena senang


"Hehe seru Ma ternyata begini rasanya naik sepeda, Luna mau juga belajar naik sepeda." Ujarnya dengan senyum


Helena terus mengajak Luna bicara seraya terus memperhatikan jalan disekitarnya dengan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya.


"Gimana sayang apa kamu suka?" Tanya Erfan yang tiba-tiba sudah disamping mereka hampir membuat Helena tersentak tapi menahan diri agar tetap biasa saja.


"Iya ayah seru banget!" Luna merentangkan tangan sangking senangnya


"Bagus dong putri ayah senang!" Erfan melihat raut bahagia dari Luna yang membuat dirinya ikut bahagia


"Emm pak lebih baik anda melihat jalanan," ucap Helena memperingatkan Erfan yang tidak fokus dengan sepedanya terlihat dari ujung mata Helena.

__ADS_1


"Kenapa kau meremehkan aku lagi!"


"Bukan begitu hanya saja keselamatan nomor satu, kalau sedang di jalanan." Helena memberi petuah


"Iya-iya!" Erfan kembali melihat jalanan mengayuh sepedanya dengan cepat melewati mereka karena tidak mau berdebat.


"Tapi baru beberapa kali mengayun malah terlihat sepedanya oleng dan terjatuh di jalanan.


Guubrakk..


"Ayah!"


"Pak Erfan!" Helena buru-buru menghentikan sepedanya dan turun untuk melihat Erfan yang sudah terduduk di jalanan.


"Apa Anda terluka pak!" Tanya Helena khawatir berlutut di sebelahnya.


"Apa kau tidak bisa melihat?" Jawab Erfan ketus tapi Helena bisa melihat lututnya terluka bahkan mengeluarkan darah


"Makanya sudah ku bilang tadi lihat jalanan!" Helena menyeret sepeda ke tepi jalan.


"Ya ampun seharusnya kau menolongku terlebih dahulu, kenapa kau membawa sepedanya ke sana," kesal Erfan


"Iya iya!" setelah meletakkan sepeda dipinggir jalan kini Helena beralih pada Erfan yang masih kesakitan dan membantunya berjalan ke tepian.


"Ayah baik-baik saja?"tanya Luna yang masih duduk di jok belakang sepeda.


"Iya sayang!" Erfan menyungingkan senyum menanda ia baik-baik saja


"Tapi kaki ayah terluka! Gimana ayah pulang jika kaki ayah terluka?" tanya Luna Ada benarnya juga


Helena berfikir sejenak begitu pun Erfan yang melirik Helena yang seperti tau arti dari tatapan licik itu, Helena menoleh sembarang arah


Jangan jangan menyuruhku! Teriaknya dalam hati


A few moment later....


Helena menghela napas panjang beberapa kali karena mengayuh sepeda dengan kesulitan yang amat sangat.


Bagaimana tidak? Ia sedang membonceng ayah dan anaknya dibelakang, dengan susah payah Helena mengayuh sepeda tapi seperti tidak sampai-sampai ke tujuan


"Semangat kak Helena!" Seru keduanya serentak bukannya senang Helena malah tersenyum dengan terpaksa.


Ya ampun aku tidak sanggup lagi! Keluh Helena dalam hati


Aaakkhh... Helena berteriak memberi semangat pada dirinya bahwa yang melakukan hal ini karena dia adalah Helena!


Inilah kesombongan Erfan karena sombongnya membuat Helena kesusahan, Ia harus mengayuh sepeda lebih dari 500 meter dengan membonceng keduanya.


****

__ADS_1


__ADS_2