Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
87. Terima kasih


__ADS_3

...Happy reading...


Helena masih terduduk ditempat tidur setelah selesai mandi 30 menit yang lalu, ia terus melihat kedepan seperti memikirkan sesuatu yang menganggu pikirannya.


Yang sebenarnya kejadian tadi masih menganggu pikirannya, saat mandi tadi Helena melihat lehernya yang muncul tanda-tanda kemerahan, ia kembali mengingat kenapa bisa dirinya melakukan hal itu tadi padahal dirinya sadar sepenuhnya.


Kejadian tadi terus berputar di benaknya membuat kepalanya pusing, Helena akhirnya meraih bantal membenamkan wajahnya dan berteriak sekeras mungkin melepas sedikit bebannya.


"Aah apa yang terjadi padaku!" Helena mengacak-ngacak rambutnya sendiri karena frustrasi.


Helena tidak tau perasaannya sendiri sekarang, ia tidak bisa marah ataupun kesal pada Erfan karena dirinya memang sadar jadi tidak ada yang memaksa hal itu terjadi.


Helena memukul kepalanya sendiri yang terasa mau pecah memikirkan hal bodoh yang baru saja dialaminya. Tangannya terasa terhenti karena ada yang mengenggamnya. Helena mendongak melihat pelakunya.


"Kak Erfan!" Helena berusaha menarik tangannya di gengam Erfan dengan begitu erat hingga tidak bisa terlepas.


"Jangan sakiti dirimu sendiri seperti ini, tadi aku yang salah, Maaf." permintaan maaf Erfan terlihat begitu tulus.


"Kak."


"Maaf aku tidak sengaja melakukannya aku juga tidak tau kenapa bisa melakukan hal itu padahal aku tidak pernah menyentuh perempuan manapun, sekali lagi maaf."


Masa sih? Apa perkataannya bisa dipercaya?

__ADS_1


"Pukul aku saja disini, disini atau dimanapun." Erfan membawa tangan Helena ke pipinya, dada dan kemudian dirinya malah terlihat merasa bersalah


Dimana pun? Otak Helena malah traveling kembali membayangkan kejadian yang tadi saat dia mengusap tubuhnya. Aaa yang benar saja Helena, kau sudah gila ya! Helena meruntuki dirinya sendiri


Tapi kemudian Helena mengulum senyum melihat Erfan yang terlihat sangat imut dengan rasa bersalahnya, hal itu sukses membuat Helena ingin tertawa karena Erfan benar-benar terlihat seperti pria culun.


Haish Mana tega aku memukulnya yang sialnnya malah terlihat begitu tampan.


"Kenapa?" Erfan bertanya tepat didepan wajah Helena yang juga menatap dirinya


"Ti-tidak ada apa-apa." Helena membuang pandangan kearah samping karena sadari tadi mereka duduk saling berhadapan.


"Lalu kau tidak bertanya tentang Luna." tanyanya masih mengenggam erat tangan Helena


"Luna? Apa dia bukan putrimu?" dijawab Erfan dengan mengangguk lalu membuang pandangan kearah samping sebelum menjawab Helena


"Dia anak adopsi, dia anak yang aku temukan didepan panti asuhan tujuh tahun lalu," jelas Erfan dengan rasa bersalah yang sangat.


Apa! Jadi Luna, kasihan sekali kamu, Nak.


"Saat itu karena kasian dengan kondisinya tubuhnya yang lemah, akumengadopsinya memperkenalkannya sebagai putriku." ucap Erfan dengan tatapan sendu mengingat kembali keadaan Luna saat itu.


Helena terpaku mendengarnya jadi Luna tidak ada hubungannya dengan keluarga Zergano sama sekali, begitukah? sungguh anak sekecil itu harus merasakan dibuang oleh orang tuanya sendiri.

__ADS_1


"Helena!" panggilnya membuat Helena menoleh padanya.


"Maaf tapi Terima kasih." Erfan mengusap puncak kepala Helena dengan tersenyum tapi matanya sudah mulai berkaca-kaca, Helena mengusap punggung tangannya ikut tersenyum entah untuk apa.


"Maaf tentang kejadian tadi." ucap Erfan yang membuat senyum Helena memudar saat itu juga.


Aissh jangan dibahas lagi, aku malu! runtuknya dalam hati dengan perasaan campur aduk.


"Dan Terima kasih karena kasih sayangmu pada Luna." ucap Erfan kemudian menarik Helena dalam pelukannya, ia amat merasa bahagia dengan kehadiran Helena sekarang bersamanya


Helena mengangguk samar tersenyum dalam pelukannya tanpa membalasnya. Seharusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu karena orang tuamu tidak akan menyetujui hubungan kita.


Helena memejamkan mata menahan tangisnya, hatinya terasa sesak dengan semua kenyataan ini.


Nikmatilah Helena, mungkin sebentar lagi kau harus pergi dari rumah ini. Helena menghela napas panjang mencoba menghilangkan beban dibenaknya.


"Kak kau memelukku terlalu erat." keluh Helena yang membuat Erfan melepaskan pelukannya.


"Maaf." Erfan tersenyum kikuk seraya mengaruk tekuknya yang tidak gatal


"Kalau begitu aku akan memasak makan malam." Helena memilih kabur duluan dari pada terus berinteraksi dengan Erfan yang masih duduk di tempat tidurnya


*****

__ADS_1


__ADS_2