
...Happy reading...
Pagi ini Helena sudah sibuk dengan membuat sarapan pasalnya Erfan menulis begitu banyak daftar makanan hingga 10 jenis makanan untuk sarapan yang sedang dibuat oleh Helena
Pasalnya ini bukan hanya hari pertama dirinya bekerja di kantor tapi juga hari pertama mengemban semua tugas rumah yang diberikan oleh Erfan padanya
"Apa dia itu Hult yang badannya besar hingga dan bisa makan makanan sebanyak ini?" gerutu Helena seraya mengumpat orang yang menyebalkan itu
Helena hanya bisa menghela napas panjang karena cuma bisa pasrah karena keadaan yang menimpa dirinya sekarang.
"Huft, aku sudah memasak sup di penanak nasi, sekarang waktunya membangunkan Luna putri kecil yang manis." Ucapnya riang berjalan dengan langkah ringan.
Entah mengapa dia sangat menyukai Luna seperti menyukai adiknya sendiri yang berbeda tiga tahun lebih tua dari Luna.
Helena pergi ke kamar Luna begitu pintu terbuka Luna masih terbaring dan memejamkan matanya tanpa berniat bangun dari mimpi indahnya.
"Luna bangun, sayang!" Helena meninggalkan kecupan di puncak kepalanya dengan lembut membuatnya mengeliat pelan dan mulai membuka matanya yang tadi terpejam.
"Mama!" Ucapnya parau khas orang bangun tidur disertai dengan senyum yang terbit di wajahnya melihat Helena.
"Ayo bangunlah sayang, mandilah dulu ya, Mama sudah menyiapkan sarapan tadi." Ujar Helena mengusap puncak kepala Luna dengan sayang.
"Iya Mah,"
Luna bangkit dan berjalan kearah kamar mandi, sementara itu Helena memilih seragam sekolahnya. Inilah mengapa Helena menganggap Luna tidak manja karena kebanyakan anak kecil pasti diminta gendong ke kamar mandi dipagi hari.
Luna pun mandi sendiri tanpa meminta Helena membantunya, dia benar-benar anak yang mandiri pikir Helena.
Usai memilih baju untuk Luna Helena pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian juga karena sudah mandi tadi sebelum berkutat didapur. Helena mengikat rambutnya kebelakang, karena tidak mau terlalu repot dengan penampilan yang penting rapi.
Helena menyusun semua makanan yang dimasak diatas meja makan, saat itu juga Luna menghampirinya meminta dipasangkan dasinya.
"Mama ajarin Luna pake dasi!" Pintanya memegang kedua ujung dasi dengan kebingungan.
__ADS_1
Helena berlutut mensejajarkan posisi dengan Luna dan mengajarkan caranya memakai dasi dengan benar.
"Nah begini sudah rapi,"
"Luna akan mencobanya!" Serunya ingin melepas dan mencoba memakainya sendiri
"Tidak perlu sayang, sekarang kita sisir rambut Luna ya?" Ajak Helena mengandeng tangan Luna menuju kamarnya.
"Oh ya Luna lupa kalau rambut masih berantakan," ucap Luna memegang rambutnya sendiri seraya cengengesan salah tingkah.
Rambut sebahu Luna hanya disisir saja karena rambutnya memang rapi tidak perlu banyak sentuhan.
Helena membawa Luna ke meja makan untuk sarapan tapi Erfan belum turun juga padahal sudah terlambat untuk bangun jam segini.
"Ayah mana ya, kok belum turun?" Tanya Luna pandangannya tertuju pada tangga menuju kamar ayahnya.
Helena yang ditanya begitu hanya mengangkat bahu seraya menggeleng kepala karena dia pun tidak tau kenapa Erfan belum turun.
"Kita susul aja gimana?" Helena memberi solusi
Ini pertama kalinya Helena menaiki tangga rumah ini, walau tinggal dirumah orang Helena tetap tidak mau asal masuk kedalam kamarnya.
Saat sampai di depan pintu kamar Helena dan Luna saling berpandangan sebelum akhirnya Helena mengetuk pintu
Tokk....Tok.....
Tidak ada jawaban tapi Helena mendengar derap langkah yang mendekati pintu hingga pintu terbuka.
Clekk...
Ada apa? Tanya Erfan dengan wajah jengkel tampilannya sudah rapi tapi dasi masih tersampir di pundaknya
"Itu Tuan apa Anda sudah selesai, nanti Luna bisa terlambat masuk sekolah jika kita tidak sarapan sekarang." Tanya Helena ragu takut menyinggung Erfan
__ADS_1
"Yah sudah kalau begitu, ayo turun!" Erfan mengambil dasinya mengenggamnya dengan kesal dan turun seraya membawa Luna dalam gendongannya.
Ada apa dengannya? Helena bingung dan mengikuti langkah nya menuruni tangga hingga dimeja makan
Mereka langsung duduk dan menyantap makanan yang terlihat sangat menggugah selera benar saja bukan hanya tampilan cantik tapi rasanya pun enak.
Usai makan begitu banyak makanan yang tersisa tapi hanya roti, wafle dan beberapa makanan kering lainnya.
"Aku sudah kenyang, apa kau sudah kenyang juga sayang?" Erfan bertanya pada Luna dengan lembut penuh kasih sayang.
"Iya ayah!" Balasnya seraya mengangguk.
"Ayo kita berangkat!" Ajaknya
"Tapi pak, makanannya?" Helena bertanya antara ragu dan juga takut, lagian Helena tidak bisa menghabiskan semua makanan ini sendiri.
"Makanan ini semua bonus untukmu, masakanmu lumayan juga jadi habiskan jangan ada yang terbuang!" Jawab Erfan dengan penuh penekanan.
"Tapi aku....aku juga sudah kenyang," Helena tertunduk dalam melihat semua makanan yang dimasak diatas meja makan.
"Seharusnya kau berterima kasih padaku, makananmu terjamin, kamar tersedia apa kau tidak mau berterima kasih?" Cibir Erfan dengan tatapan tajam tapi tidak terlihat oleh putrinya.
"Te-rima kasih Pak!" Akhirnya ucapan terima kasih meluncur dari mulut Helena, Erfanyang melihatnya tersenyum miring dan berjalan keluar bersama putrinya.
Bagaimana dengan semua makanan ini, aku tidak bisa menghabiskannya sendiri, jika Aliza disini pasti bisa menghabiskan semua ini, atau aku bawa kekantor saja mungkin nanti aku bisa membaginya dengan rekan kerja
Helena berdengus kesal merapikan piring dan memasukkan beberapa roti yang tersisa kedalam paper bag untuk dibawa kekantor
Helena Menyambar dasi yang ditinggalkan oleh Erfan berjalan cepat menyusulnya dan Luna yang sudah berjalan terlebih dahulu tadi karena Helena pun tidak tau dimana letak kantornya.
"Pak tunggu!" Helena berlari menyusul mereka .
"Apa lagi?"Erfan menoleh setelah menutup pintu mobil untuk Luna melihat Helena dengan kesal.
__ADS_1
****