
...Happy reading...
Seperti biasanya Helena sekarang sedang berberes rumah setiap 3 hari sekali dan untuk semua kamar harus dibersihkan setiap hari sepulang kerja.
Sekarang ia hampir menyelesaikan mengepel lantai yang sudah terlihat mengkilap bersih seperti kaca. Luna keluar dari kamar dengan membawa buku di tangannya.
"Mama, bantuin Luna bikin pr ya?" pinta Luna memegang beberapa buku di tangannya.
"Jangan besar-besar bilang Mama nanti ketahuan sama ayah?" Helena meletakkan telunjuk di bibirnya mengisyaratkan agar tidak boleh menyebut 'Mama' nanti ketahuan oleh Erfan.
"Tapi..."
"Iya iya nanti Mama bantuin okey, tapi tunggu Mama selesaikan semua ini dulu ya? Sedikit lagi,"
"Oke."
Luna kembali masuk kedalam kamarnya, Entah apa yang dilakukan didalam sana. Yang jelas dia betah jadi Helena bisa lebih mudah mengepel lantai tanpa khawatir tentang Luna.
"Dimana Luna?" tanya Erfan tepat berdiri di depan Helena. Entah sejak kapan dia berdiri di sana yang jelas Helena tersentak hingga mundur selangkah.
"Ya ampun pak! Kaget aku nya." Helena mengelus dada menenangkan detak jantungnya
"Luna dimana?" Erfan kembali mengulang tanpa peduli dengan keluh kesah Helena.
"A-ada dikamarnya," tunjuk Helena pada pintu kamar yang tertutup
Erfan berjalan melewati dari depan Helena yang sedang mengepel lantai, apa dia tidak sadar jejak kakinya tercetak jelas walau tidak kotor tapi lantainya masih basah.
"Rooaaar. Ingin rasanya aku cincang kau!" gerutu Helena geram, bagaimana tidak ia harus mengepelnya lagi.
"Kau bilang apa?" Erfan yang berada didepan pintu seperti mendengar Helena mencacinya, berbalik melihatnya dengan tajam.
"Aku tidak bilang apa-apa, mungkin kau salah dengar," balas Helena gelagapan seraya melambaikan tangan seakan tidak bersalah.
Erfan tidak mengubrisnya lagi dan masuk kedalam kamar Luna "Lanjutkan kerjamu!"
Helena terus mengepel lantai hingga bersih bening hingga kinclong seperti itu kira-kira bunyi iklannya. Helena menaruh peralatan kebersihan didapur setelah ini ia bisa istirahat sejenak.
__ADS_1
Helena mendudukkan diri di sofa sekedar mengistirahatkan kakinya yang pegal, tapi tiba-tiba bell tapi tiba-tiba bell berbunyi segera Helena membuka pintu tanpa melihat siapa gerangan.
"Maaf cari siapa?" tanya Helena membuka pintu selebar mungkin
Ini bukannya perempuan dulu pernah datang saat aku masih sakit kaki, siapa dia?
Helena memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, penampilannya mewah menandakan dia bukan orang biasa.
Tanpa memperdulikan pertanyaan Helena ia langsung masuk menubruk tubuh Helena hingga ia mundur dua langkah kebelakang.
"Minggir!, Erfan keluar!" Teriaknya begitu masuk mengema keseluruh penjuru rumah.
"Maaf nona, apa Anda tidak punya sopan santun hingga berteriak di rumah orang." Cibir Helena apa adanya
"ERFAN!!!!" Ia tidak mengubris bahkan tambah berteriak memanggil Erfan seakan menulikan telinganya dari perkataan Helena.
"Mbak bisa diam dulu biar saya panggilkan Tuan Erfan ada di dalam." Helena menarik tangannya agar wanita ini melihat dirinya
"Tidak perlu kau ikut campur! Erfan dimana kau!" Teriaknya lagi benar-benar tidak tau malu.
Erfan keluar dari kamar Luna dan begitu melihat wanita yang berteriak tidak jelas ini ia merasa jengah dan berjalan mendekat.
"Dia memaksa masuk padahal belum aku suruh masuk tadi?" Balas Helena dengan jujur
"Diam kau! Erfan dia menyakitiku tadi." Perempuan itu mengadu seraya memelototi Helena lalu langsung bergelayut manja pada lengan Erfan dengan mesra.
"Lepaskan! Menjijikkan!" Bentak Erfan membuatnya terkejut.
Dengan jijik Erfan menyentak tangannya dan berjalan kearah Helena yang berdiri di dekat sofa seraya menyilangkan kakinya. Ia bahkan menepuk lengannya yang tadi disentuh.
"Ada apa kau datang kesini, setau ku kita tidak terlibat bisnis denganku."
Erfan seperti tidak peduli dengan kehadiran wanita ini, ia bertanya seraya melihat majalah didepannya dan mulai membolak balikkan halamannya.
"Tentu saja datang untukmu, kita-" perempuan itu berucap dengan senyum seraya berjalan mendekati Erfan.
"Berhenti disana! Jangan pernah mendekatiku!" Bentak Erfan bahkan masih dengan melihat majalahnya.
__ADS_1
Waahh waahh ternyata dia hebat juga dapat jurus dari mana sih, bahkan perempuan itu berjalan dia tau.
"Kau kesini!" Titahnya tertuju pada Helena tapi dia bingung ditempatinya
"Aku?" perempuan itu tersenyum dan berjalan mempercepat langkah mendekati Erfan dengan tidak tau malu.
"Bukan kau tapi dia Helena! Mundur kau Nadin!" Erfan berteriak kesal, ia benar-benar tidak ingin lagi dekat dengan wanita bernama Nadin itu.
"Aku!" Tunjuk Helena pada dirinya sendiri diangguki oleh Erfan, dengan langkah kecil Helena mendekat dengan patuh Helena berjalan kearah Erfan
Ada apa sih antara mereka berdua kenapa aku pake acara dibawa dalam masalah mereka?
Melihat tatapan tajam wanita itu membuat Helena tidak berani bertanya tentang hubungan mereka.
"Ada apa ini Erfan! Kenapa dia boleh mendekatimu tapi kenapa aku tidak boleh!" Nadin langsung menanyakan kenapa wanita bernama Helena itu boleh dekat dengannya.
"Menurutmu? Duduklah!" Perintah Erfan melihat Helena dengan lembut seperti tatapan tulus seorang pria pada wanitanya.
"Hah?" Helena tidak tau maksud perkataannya masih berdiri tanpa berkutik sedikit pun.
Helena tidak dapat mengerti isyarat mata dari Erfan membuatnya menatap tajam pada Helena tapi perempuan ini terlalu bodoh untuk mengerti.
"Duduk ku bilang!" gumam Erfan Karena geram ia menarik tangan Helena hingga tubuhnya terjatuh dalam pangkuannya.
"Eh?" Helena ingin bangkit tapi pinggangnya ditahan oleh Erfan agar tetap di pangkuan olehnya.
"Show time tunjukkan bakat aktingmu sekarang!" bisik Erfan di telinga Helena yang membuatnya bergidik ngeri.
"Apa maksudmu Erfan!" bentak Nadin tidak terima diperlakukan seperti ini apa lagi mereka bermesraan di depan matanya
"Seharusnya kau tau jawabannya kan?" ucapnya seraya mengelus pipi Helena dengan lembut dibalas oleh Helena mengenggam tangan Erfan di pipinya
"Aku tidak percaya kau pasti berbohong, kau pasti membayar wanita ini kan?" Nadin menunjuk Helena dengan amarahnya
"Kau ingin aku bagaimana supaya percaya?" tanya Erfan dengan sebelah tangannya mengusap punggung Helena.
Ada masalah apa sih? kenapa wanita ini terus saja marah tanpa sebab? jaga perkataanmu itu aku bukan wanita bayaran! tapi ini seperti bukan Akting, tolong selamatkan jantungku!!
__ADS_1
***