Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
105. Sengaja


__ADS_3

...Happy reading...


Sinar matahari menembus jendela membuat gadis yang sedang tertidur terusik karenanya.


Helena tebangun pagi ini di kamar Luna, matanya perlahan terbuka menyesuaikan dengan cahaya yang menyilaukan dari cahaya matahari, tubuhnya mengeliat pelan saat merasa ada yang memeluk tubuhnya.


Ternyata Luna terlihat masih tertidur memeluk dirinya, Helena kembali menyentuh dahinya yang sudah tidak panas lagi yang berarti sudah pulih dari demamnya, hal itu tidak luput dari pandangan Erfan yang baru masuk


"Kau sudah bangun?" tanyanya menghampiri mereka berdua


"Iya, kak. jam berapa sekarang?" tanya Helena bangkit hingga duduk seraya merenggang tubuhnya.


"Jam 7: 15 masih pagi, ada apa?"


"Aku harus memasak tapi Luna...." Helena beralih melihat Luna yang masih memeluk tangannya.


"Biarkan dia tidur sebentar lagi, dia akan menangis melihatmu tidak ada di sisinya." Erfan membereskan beberapa mainan Luna yang berserakan di lantai.


"Setelah ini kau harus masuk kerja, banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan."


"Be-benarkah? Maksudmu aku bekerja!" Helena seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.


"Tentu saja." jawab Erfan mampu membuat senyum Helena kembali merekah.


Helena tidak mampu menutupi kesenangan yang baru saja ia terima yaitu kembali bekerjaย  lagi, padahal dulu dirinya hanya bekerja untuk membayar hutang, tapi sekarang dia tetap bekerja setelah hutangnya lunas.

__ADS_1


"Emm, Mama!" Luna mengeliat pelan seraya memanggil Helena disusul dengan matanya yang terbuka.


"Iya sayang ayo bangun!" ajak Helena membuat Luna terduduk di sebelahnya. Luna bangkit dituntun oleh Helena dan membawanya ke kamar mandi


Setelah selesai mandi Luna masih mengikuti kemana langkah Helena pergi bahkan dikamar mandi Helena kebingungan kenapa gadis kecil itu terus mengetuk pintu kamar mandi.


Baik Helena atau Erfan mengerti kekhawatirannya karena kemarin Helena pergi meninggalkannya tanpa memberi tau, yang malah membuat Luna takut lagi jika Helena pergi.


Erfan berlutut di depan Putrinya yang berada di depan pintu kamar mandi. "Sayang, duduk saja di kursi dulu ya, ayah pastikan pokoknya Mama Helena tidak pergi dari sini!"


Luna terdiam melihat ayahnya kemudian tertunduk "Tapi ayah...."


"Ayah akan menjaganya, Luna harus kesekolah hari ini karena sudah sembuh, percaya pada ayah yah!" Erfan menyakinkan putrinya agar tidak terlalu khawatir lagi.


"Baik ayah!" Luna pun duduk di kursi makannya tapi pandangannya terus tertuju pada pintu kamar mandi.


Mereka pun makan bersama dengan saling melempar senyum sesekali Helena mengusap puncak kepala Luna dengan sayang.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Helena dipaksa berangkat dengan mereka berdua pagi ini padahal dirinya sudah menolak karena tidak mau merepotkan


Saat hampir sampai di gedung perkantoran itu Erfan tidak menghentikan mobilnya untuk menurunkan Helena malah langsung membawanya masuk dalam lingkungan kantor hingga berhenti di tempat parkir khusus atasan


"Pak kenapa kau tidak menurunkan aku tadi?" geram Helena membungkuk agar tidak dilihat oleh karyawan yang lewat.

__ADS_1


"Sengaja!" ucap Erfan dengan senyum licik melihat Helena yang ketakutan.


"Mana sudah banyak karyawan yang datang lagi!" cebik Helena kesal.


Erfan hanya melihatnya dengan menahan senyum, hingga pikirannya kembali tertuju pada Luna yang sangat berharap keberadaan Helena di sisinya. Lama terdiam dengan Helena yang takut keluar dan Erfan asik dengan pikirannya sendiri.


Erfan mencengkeram setir menyusun kalimat didalam kepalanya untuk dikatakan pada Helena supaya dimengerti.


"Helena, maukah kau tetap tinggal bersama kami?" akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Erfan yang terdengar ragu, cengkeraman di setir bertambah kencang.


"Hah?" Helena merasa mungkin saja pendengarannya salah mendengar ucapan Erfan barusan.


"Tinggallah bersama kami lagi!" Erfan meminta dengan bersungguh-sungguh


Helena terlihat berfikir, bagaimana dirinya bisa tinggal dengan Erfan lagi sementara ibunya melarang hanya hanya karena status ibu Helena yang menjadi istri kedua di cap pelakor.


"Aku tau didalam hatimu aku memang tidak memiliki tempat, hanya saja tolong kasihan Luna jika tanpamu." Erfan mengenggam tangan Helena melihat matanya.


Helena melihat mata Erfan yang menyiratkan kesungguhan terlebih-lebih menyangkut putrinya yang paling disayangi, Helena pun begitu tidak tega melihat Luna sakit seperti kemarin hanya karena kepergiannya.


"Baiklah, aku akan mengambil barang setelah pulang kerja dan kembali kerumah tinggal bersama kalian." ucap Helena menyunggingkan senyum padanya agar tidak merasa cemas lagi.


Erfan menarik tangan dan membawanya dalam pelukan, memeluknya erat dengan senyum mengembang di wajahnya,karena bahagia.


"Terima kasih Helena."

__ADS_1


Untuk sesaat Helena terpaku karena hal yang dilakukan oleh Erfan membuat degup jantungnya seperti berpacu hebat, hingga Erfan menyadari hal ini pasti membuat Helena tidak nyaman dan menarik tubuhnya.


__ADS_2