
...Happy reading ...
Erfan sedang mengompres pipi Helena yang lembut karena tadi ia menyentuh pipi wanita ini. Sesekali ia mengigit bibirnya dan memejamkan mata menahan sakit
"Pelan-pelan Shh perih, wanita itu sungguh bar-bar, Masa dia Mamanya Luna?"tanya Helena benar-benar tidak menyangka perempuan tadi adalah ibu dari gadis kecil ini karena tidak mirip.
"Bukan, dia bukan Mama Luna lagi," ucap Erfan memengang kompres di pipi Helena, "seharusnya kau bersyukurlah pipimu tidak memar, atau kau akan kesusahan masuk kantor besok!"
"Kau!" Helena ingin memarahinya sebab karena ulah Erfan dia menjadi begini, seharusnya hutangnya juga berkurang berkali-kali lipat.
"Apa bapak lupa, ini terjadi karena bapak!, berikan aku kompensasi, hutangku harus berkurang pokoknya!" Helena hanya bisa kesal karena sikap Erfan.
"Kau menyalahkanku begitu? Mimpi saja!" Erfan menyerahkan kompres es batu ke tangan Helena.
"Aku mana berani, itu yang sebenarnya terjadi kan! Kenyataan namanya!" Cebik Helena
"Kau!" geram Erfan malah mencubit pipi Helena yang masih memerah itu membuatnya mengadu kesakitan
"Aww aww sakit!" Keluh Helena menimpuk tangan Erfan agar menyingkir dari pipinya.
"Ayah, Mama Helena kesakitan." Luna memarahi sang ayah yang bandel menurutnya seraya mengusap pelan pipi Helena agar sakitnya berkurang.
"Berhenti bercanda Luna, jangan panggil dia Mama lagi!" Erfan memperingati Luna supaya jangan memanggil Helena dengan sebutan Mama
"Kenapa? Mama Helena baik pada Luna, ayah!" Luna mengenggam erat tangan kanan Helena.
"Karena dia bukan Mama kamu, sayang!" Erfan mengusap kasar wajahnya
"Lalu mana Mama Luna yang sebenarnya, Mama Nadin bukan, Mama Helena pun bukan, siapa Mama Luna, ayah!" Mata Luna mulai berkaca-kaca menahan tangis mengingat sosok Mama ada pada Mama Helena
__ADS_1
"Luna..." Erfan menyugar rambutnya frustasi tidak tau harus memberi jawaban apa pada putrinya ini
"Luna mau Mama Helena jadi Mamanya Luna pokoknya!" Bantahnya memeluk Helena erat tidak mau dia pergi.
"Luna tidak boleh bentak-bentak ayah, dosa itu loh!" Helena memperingat seraya mengusap kepala Luna dengan sayang
"Tapi Ma!"
"Bukan Mama! Mau panggil Bibi, mbak, tante, aunty, kak, eyang atau apapun itu, asal jangan Mama!" Bentak Erfan kesal.
Siapa itu Helena, Ia hanya gadis yang dibawa kesini untuk membayar hutangnya tapi kenapa Luna memanggil dirinya dengan sebutan Mama.
"Ayah!" Luna tersentak kaget bahkan mundur dua langkah sebelum akhirnya ia berlari masuk kedalam kamarnya dengan linangan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Erfan melihat putrinya yang masuk dengan linangan air mata membuat hatinya terasa sakit, ini pertama kalinya ia membentak Luna.
Erfan terduduk di sebelah Helena dengan pandangan nanar melihat pintu kamar yang tertutup rapat. Ia hanya tidak ingin putrinya sakit hati nantinya.
"Tidak baik dia memanggilmu dengan sebutan Mama, lagian siapa dirimu? obati lukamu, dan masak makan siang daftar menu ada didapur." Erfan pun pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ini salah! Benar ini salah! Kenapa Erfan tidak marah padaku juga! Setiap kesempatan ia selalu memarahiku kan?" Helena kebingungan sendiri.
Erfan berlengang pergi ke kamarnya tanpa mau membujuk Luna atau sekedar menyapa ke kamarnya, Helena tertunduk dengan masih mengompres pipinya sendiri
Seharusnya aku yang dimarahi, aku yang salah, Erfan benar memangnya aku ini siapa hingga memanggilku dengan sebutan Mama.
"Kasian Luna,"
Helena terus mengompres pipi seraya melamun memikirkan nasip Luna dalam ayahnya hingga pipinya terasa lebih baikan.
__ADS_1
Helena pun pergi kedapur untuk memasak makanan yang diminta oleh Erfan untuk makan siang.
"Kasian Luna, aku akan memasak pasta keju kesukaannya saja." Ucap Helena seraya membuka lemari es mengeluarkan beberapa bahan makanan yang diperlukan.
"Sepertinya pastanya sudah habis, aku akan pergi membelinya di depan," Helena kembali memasukkan beberapa bahan makanan kedalam kulkas yang tadi dikeluarkan karena tidak menemukan pasta.
"Ayah dan anak sama saja, sama-sama mengurung diri, berasa sendiri aku!"
Helena pun mengambil mantel selutut miliknya seraya mengambil uang yang diberikan oleh Erfan untuk kebutuhan rumah dan keluar untuk membeli pasta di supermarket dekat gedung apartemen ini.
Helena mengayun langkah dengan santai begitu pun saat menyeberang jalanan saat lampu untuk Pejalan kaki berwarna hijau.
Dari sudut jalan yang cukup jauh terparkir sebuah mobil yang pengemudinya tersenyum penuh arti. Orang itu menancap gas mobilnya menembus lampu merah, salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring.
"Mati kau!" ucapnya tertawa kecil.
Helena yang berjalan pelan menyebrang jalanan yang sengang melihat sekitar sampai menyadari keberadaan mobil yang melaju kearahnya
Helena refleks melangkah besar hingga dalam sekejap ia bisa menghindari mobil itu yang hanya sejengkal darinya.
"Kenapa dengan orang itu mengemudi cepat dilampu merah begini!" Helena kebingungan sendiri
"Huufftt.. hampir saja untung aku menyadarinya jika tidak aku sudah terkapar dirumah sakit." Helena mengeleng kepala melihat mobil itu menjauh
Helena tidak dapat melihat pelaku itu, karena kaca mobilnya gelap hingga tidak jelas terlihat dari luar
Helena melanjutkan langkah ke supermarket yang hanya beberapa meter lagi
"Sial,,, kenapa dia menyadari keberadaanku, sial sial!" Kesalnya memukul setir mobil karena tidak berhasil menabrak Helena
__ADS_1
****