
...Happy reading ...
Tidak tega Erfan menyeka keringat di dahinya dengan tisu seraya menyentuh kening Helena.
"Panas, dia demam!" Erfan mengangkat tangannya cepat, mulai khawatir dengan keadaannya.
"Helena, Helena bangun!" Erfan menepuk pelan pipi Helena tapi ia tidak kunjung membuka matanya masih setia terpejam.
"Ck.. kau membuatku khawatir! Dengar wanita kau berhutang sangat banyak padaku!"
Erfan pun turun untuk mengambil handuk dan air untuk mengompres Helena yang demam, Erfan meletakkan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat.
Beberapa kali Erfan melakukan hal yang sama, matanya bertambah berat karena belum bisa tidur menjaga perempuan ini.
"Sudah berapa lama aku mengompres mu tapi panas sama sekali tidak turun," ucap Erfan melihat jam di nakas menunjukkan pukul 02: 24 dini hari.
Erfan mengusap kasar wajahnya karena sudah merasa sangat mengantuk karena dirinya memang tidak biasanya bergadang, jika ada pekerjaan paling lambat ia tidur jam 12 malam.
"Apa aku buat obat saja untuknya?" Erfan bertambah khawatir dan bingung.
Khawatir karena panasnya Helena tidak berkurang malah bertambah panas, Ia pun bingung harus bagaimana, hanya bisa melalui pengalamannya saja.
Erfan kembali kedapur untuk membuat sup jahe yang sering dibuatkan oleh ibu pantinya saat dirinya dulu demam waktu kecil.
"Rasakan sekarang kau demam anggap itu karmamu karena merepotkan diriku!" Umpat Erfan terus memotong jahe dan merebusnya untuk beberapa menit. Setelah selesai ia saring dan dibawa ke kamarnya dimana Helena berada.
Terlihat Helena masih tertidur dengan tidak tenang, Erfan meletakkan mangkuk kecil berisi air rebusan jahe di atas nakas, ia duduk di sebelah Helena.
Disandarkan tubuh Helena pada bagian lengannya seperti memeluk dari belakang, perlahan menyendok sup jahe dan menyuapi Helena walau sebagian besar tumpah karena tidak masuk kedalam mulutnya.
Dengan telaten sesekali Erfan menyeka air rebusan yang membasahi sudut bibir hingga sampai di dagunya.
"Sudahlah, yang penting ada yang masuk, Aaa aku lelah sekali!" Keluh Erfan merenggangkan tubuh yang terasa kaku
"Tidak ayah....!" Lagi-lagi Helena mengigau
"Gadis baik tidurlah!" Erfan menepuk pelan puncak kepala Helena hingga ia tenang tapi malah memeluk tangan Erfan dengan erat
"Ayah!"
__ADS_1
"Iya ayah disini tidurlah!" Erfan menenangkan Helena, Karena terlalu lelah Erfan menguap seraya menutup mulutnya, lalu tertidur meringkuk disebelah Helena
******
Pagi hari ini Luna sudah diantar oleh neneknya kerumah ayahnya yang terlihat sangat sepi tidak seperti biasanya.
"Ayah ,kak Helena!" Panggil Luna setelah masuk kedalam ruang tamu yang terlihat sepi
"Dimana ayah jam segini belum bangun!" Ucap Luna berkacak pinggang melihat ke setiap sudut rumah.
"Mungkin lagi mandi sayang," balas neneknya ikut celigak-celinguk mencari keberadaan mereka berdua.
"Kalau begitu Luna lihat ke kamar ayah," dengan langkah lincah Luna menaiki tangga disusul oleh neneknya yang ingin memarahi putranya karena tidak menjemput Luna pagi ini padahal sudah berjanji.
"Bener ayahmu didalam sayang?" Tanya sang nenek tidak yakin karena rumah ini benar-benar sepi.
"Bener nek tadi mobil ayah masih didepan," ucap Luna seraya membuka pintu kamar lebar-lebar dan memanggil ayahnya yang masih tertidur
"Ayah!"
"Hmm.." Erfan mengeratkan pelukan pada guling yang hangat di dalam pelukannya karena semalam terlalu lelah, ia pun malas untuk menjawab.
"Husstt Luna gak boleh ribut ayah lagi tidur!" Nenek memberi isyarat agar Luna diam dulu
"Dibangunin lah nek!"
"Jangan, nanti kita bangunin."
"Kapan?"
"Siapkan kamera dulu dong biar bisa foto ayahmu yang tampan itu saat bangun tidur, gimana?"
"Oke deh! Sipp!"
"Siap satu dua tiga, AYAH!!"
Erfan dan Helena terkejut hingga bangun berbarengan terduduk di tempatnya
"Ada apa Luna?" Tanya mereka berdua secara bersamaan
__ADS_1
"Whaaaa...!"
Cekrek..
Cekrek...
Luna mengambil foto berkali-kali hingga Erfan dan Helena merasa terusik dengan sinar flash yang tidak dimatikan
"Sudah,sudah, kak Helena bakal jadi Mama kamu sebentar lagi loh!"
"Benarkah!" Tanyanya bersemangat
"Ayah... Luna bakal punya Mama baru!"
"Hah? Mama baru yang mana maksudnya?" tanya Erfan masih dengan mata terpejam dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Iya maksudnya gimana?" timpal Helena yang sedang mengucek matanya seraya merenggangkan tubuh yang terasa kaku.
"Mama yang tidur bersama Ayah Mama Helena!"
"APA!!!" Erfan dan Helena terkejut bersamaan sontak saja Erfan mundur hingga terjatuh dari tempat tidur sementara Helena menarik cepat selimut menutupi tubuhnya.
"Tuan kau benar-benar lelaki jahat, hidung belang, beraninya kau!" Bentak Helena dengan mata mulai berkaca-kaca
"A..aku..." Erfan gelagapan sendiri karena ketahuan begini, seperti pasangan mesvm saja.
"Hidung belang apa itu Ma?" Tanya Luna dengan polosnya
"I-itu," Helena gelagapan tidak tau, mau memberi jawaban apa pada gadis kecil ini
"Hidung belang seperti kucing yang bisa tidur dengan Luna," jawab neneknya cepat
"Owh pantas saja tadi Mama meluk ayah kayak peluk boneka, Ayah lucu sih!" Luna tertawa kecil melihat wajah ayahnya yang tiba-tiba terlihat pucat
"Boneka! Aku memeluknya seperti boneka!" Lirih Helena menuduh dirinya sendiri
"Nenek jadi buktinya, come on nek sini bawa kameranya." Luna meraih kamera menunjukkan foto tadi yang dipotret oleh neneknya
Helena membeku seketika melihat dia dan Erfan saling berpelukan Helena meruntuki kebodohannya sendiri
__ADS_1
****