Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
29. Jual Mahal


__ADS_3

...Happy reading...


Setelah tiga hari melelahkan bekerja dikantor, hari ini libur setidaknya Helena bisa sedikit senggang. Helena sudah duduk bersama gadis kecil Luna sedang menonton Tv dengan asiknya.


Erfan berjalan kearah dapur membuat teh untuk dirinya dan bergabung dengan keduaL perempuan itu yang sedang menyaksikan sinema kartun dengan serius.


"Kau tidak membuat sarapan?" Tanya Erfan membuat Helena kaget menoleh kearahnya.


"Hah?" Helena tidak fokus dengan apa yang dikatakannya


"Buat sarapan!" Erfan kembali mengulang


"Sarapan?" Helena malah balik bertanya


"Ya bukan kah diperjanjian ditulis begitu, kau lupa?"


"Ku kita itu hanya berlaku di hari kerja," ucapnya lirih


Helena menghela napas berat, ia beranjak dari duduk, "Lalu kau ingin apa?"tanyanya sebenarnya masih merasa lelah.


"Pancake, wafle dan spagheti "ucap Erfan cepat


"Luna, kamu mau apa sayang?" Helena mengusap puncak kepala Luna membuatnya menoleh.


"Samain aja sama ayah tapi pancake nya dibanyakin madu." Helena mengangguk paham lalu pergi menuju dapur untuk membuat sarapan.


Lama Helena berkutat didapur sendirian, akhirnya 45 menit kemudian ia sudah menghidangkan semua makanan diatas meja.


Helena menghela napas lega, "Akhirnya selesai!" serunya mengelap keringat didahinya dan berkacak pinggang bangga dengan hasil masakannya.


"Makanannya sudah siap!" seru Helena membuat kedua anak dan ayah menoleh dan berjalan kearah dapur


"Kau bisa memasak ini juga?" Tanya Erfan antara memuji dan meremehkan


"Aku lama berada diluar negeri sorang diri jadi aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk urusan makanan!" balas Helena menyajikan makanan untuk keduanya


"Wah kak Helena ini sepertinya enak!"


"Iya Luna cantik duduklah" Helena menuangkan susu untuk Luna dan Erfan


Helena Pun duduk disebelah Luna berhadapan langsung dengan Erfan dan ikut memakan makanannya.

__ADS_1


"Hmm. Masakan kak Helena tidak kalah enak dari masakan ayah!


Kalau begitu makan yang banyak "


Gadis kecil itu dengan semangat mengangguk dan meminta menambah isi piringnya lagi.


"Gimana pak enak?" Helena melihat Erfan makan dengan lahap juga.


"Lumayan!"


Cih Duda ini kok Lumayan katanya, sok jual mahal sekali!. Gerutu Helena dalam hati.


Mereka bertiga memakan semua masakan yang di atas meja dengan lahap hingga habis tidak bersisa.


"Oh ya Luna apa kau sudah mandi?" tanya Erfan melihat putrinya sudah rapi saja.


"Sudah kak Helena yang membantuku mandi dan menguncir rambutku, Cantik tidak?"


"Iya putri ayah yang paling cantik!" Erfan mencolek hidung putrinya dan membawanya ke lantai atas yang hanya terdapat kamarnya


Helena yang melihat hanya ikut tersenyum memandang mereka berdua yang bersenda gurau.


Seusai sarapan Helena mengumpulkan semua piring kotor dan mencuci serta membersihkan seluruh penjuru rumah.


Helena berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum kembali kekamarnya.


"Kasur, bantal dan guling aku merindukannya kalian!" Helena melempar tubuhnya ke tempat tidur dan memeluk gulingnya serta memejamkan mata merasa nyaman.


Sayup sayup terdengar ada yang memanggil namanya tapi ia tidak mengubrisnya malah lebih lelap lagi tidurnya.


Helena tidur dengan nyenyak beberapa kali Erfan memanggil namanya tapi ia tidak menyahut membuatnya kesal.


"Dia pasti di kamar!" Erfan berjalan menuju kamar yang ditempati Helena, benar saja perempuan itu sedang tidur dengan kacaunya.


"Kayak kucing saja. Tidur masa meringkuk gini?" Cibirnya


"Hey Helena bangun!" Erfan berdiri disampingnya dengan berkacak pinggang


"Hoy bangun!" menguncang tubuh wanita itu tapi tidak ada reaksi apapun


Kesabaran Erfan selalu diuji oleh wanita ini, karena kesal ia memilih mencubit hidungnya agar dia bangun, benar saja Helena mengeliat dan bangun dengan cepat.

__ADS_1


"Aaa hidung ku!" keluhnya merasa hidungnya kesakitan hingga merasa panas.


"Akhirnya kau bangun juga!" Erfan menyilangkan keduatangannya di depan dada.


"Ada apa pak kenapa kau menarik hidungku!" Helena ingin kesal rasanya merasa hidungnya memerah.


"Kau pantas mendapatkannya, kau lupa kamarku dan kamar Luna belum kau bersihkan?"


"Kau cerewet sekali tinggal bilang saja tidak perlu kau repot mencubitku" gumam Helena pelan seraya bangkit dari tempat tidur menuju dapur untuk mengambil alat kebersihan.


"Apa kau bilang!" Erfan seperti mendengar Helena mengatai dirinya.


"Aku hanya bilang kau tampan, puas!"


"Jangan coba menyogokku dengan kata pujianmu itu!" Erfan berlalu dengan kesal


"Jingin cibi minyigikki dingin kiti pijiin mi."cibirnya meniru perkataan Erfan dengan serba huruf i


"Huft untung kau mau menampung jika tidak aku sudah menunjukkan jurus jitu padamu,"


Helena menaiki tangga dengan membawa beberapa alat kebersihan, begitu membuka pintu terlihat kamar berantakan tapi terlihat masih bersih.


"Dia apa sengaja membuat semua berantakan menambah pekerjaanku saja." Helena melihat Erfan di sebelahnya dan mulai memungut barang yang berserakan dilantai.


Walau sedikit tidak terima Helena tetap mengerjakannya dengan benar.


Lama Helena merapikan seisi kamar dan tidak lupa dengan kamar mandinya yang mewah itu


"Wuu... kamar mandinya, lantai marmer, bak mandi putih bersih bisa ditempati lebih dari dua orang, cerminnya berkilau, wastafel dengan berbagai produk pembersih wajah, impian banget!" Helena mengagumi seisi kamar mandi ini


"Jangan ngehalu kebanyakan nanti jatuh pada jurang kenyataan!" Erfan berdiri diambang pintu kamar mandi


"Iss tau..."


Helena melanjutkan membersihkan kamar mandi mulai dari wastafel, bak mandi, toilet dan lantai nya juga.


Helena juga turun kembali untuk membersihkan kamar Luna juga hingga bersih bening kata orang gitu.


"Sudah selesai tuan!" Helena berdiri di depan Erfan yang duduk di ruang tamu bersama Luna. Sebenarnya Helena ingin meminta waktu istirahat lagi.


"Kalau begitu buatkan cemilan." Erfan mengatakan pada Helena tanpa rasa bersalah sedikit pun

__ADS_1


"Cemilan lagi!"


***


__ADS_2