Hutang Cinta Helena

Hutang Cinta Helena
86. Berkelanjutan


__ADS_3

...Happy reading...


Sore hari pun berlalu Helena berjalan dari halte bus ke area gedung apartemen Erfan saat langit hampir gelap, terlihat sedikit cahaya kemerahan masih menghiasi langit senja.


Sesampainya di apartemen Helena langsung merebahkan tubuhnya di sofa setelah melempar tasnya ke sisi samping tubuhnya. Helena merasa tubuhnya benar-benar kelelahan, padahal pekerjaannya sama saja seperti ini biasanya.


Helena yang sedang melihat langit-langit apartemen, menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, Erfan masuk begitu saja bahkan berlalu dari hadapan Helena.


"Pak Erfan apa Luna tidak pulang lagi? pak kau dengar tidak! pak!" tanyanya


Erfan tidak mengubrisnya malah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.


"Hey kenapa kau tidak mendengarku!" Helena sudah berkacak pinggang tetap saja Erfan tidak peduli.


Apa marahnya masih berkelanjutan hingga sampai ke rumah begini? Gumamnya dalam hati


Helena pun mengikuti langkah Erfan hingga masuk kedalam kamarnya, tapi Erfan menutup pintu cepat untung saja bisa ditahan oleh Helena


"Pak Erfan ada apa denganmu?" Helena tidak hentinya bertanya45.Demam.


"Minggir!"


"Tidak akan!" Helena menahan pintu agar tidak tertutup. Jadi lah mereka berdua saling mendorong pintu yang tidak bersalah itu


"Minggir jangan mengangguku!"


"Jawab dulu pertanyaanku!" Helena meringis karena susah baginya untuk menahan pintu lebih lama.


"Kau minggir atau terima akibatnya!" ancam Erfan menunjuk wajah Helena.


"Lakukan saja, aku tidak keberatan." Helena sudah memasukkan sebelah kakinya kedalam kamar Erfan


"Kau!" Erfan berdengus kasar melihat kaki Helena sudah memasuki kamarnya hingga melepaskan tangannya yang memegang pintu karena dirinya tidak mau Helena terluka.

__ADS_1


Helena tersenyum menang karena menang dari Erfan, ia masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar.


Sementara Erfan sudah berlalu memilih bajunya yang ada di dalam ruang ganti. Tidak mau melewatkan kesempatan Helena pun ikut masuk bersamanya.


"Pak! ehem maksudku Kak kenapa kau marah? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Helena lagi tapi tetap saja tidak dijawab oleh Erfan.


Erfan yang sudah memilih pakaian kemudian mengambil handuknya


"Kak katakan padaku ada apa?" Helena meraih tangannya menghentikan langkah Erfan.


Tapi Erfan tetaplah tidak peduli tetap menyeret langkah masuk kedalam kamar mandi.


Dengan sigap Helena menghalangi jalannya yang membuat Erfan menatapnya dengan jengah.


"Apa yang kau lakukan minggir!" Erfan mendorong pelan tubuh Helena ke samping, dirinya merasa terlalu lelah untuk sekedar berdebat, ia ingin menyirami tubuhnya dengan air hangat


"Tidak kak, jangan mandi sebelum kau menjawab pertanyaanku!" Helena tetap mengikuti langkah Erfan yang sudah berada di bawah shower.


"Kak, kau marah padaku?" Helena mendongak menatap matanya meminta jawaban dari pertanyaan dari tadi.


Erfan mendekati Helena hingga ia mundur perlahan tapi yang namanya ruang mandi shower cukup kecil dua langkah mundur sudah kepentok dengan dindingnya.


"Kak." nyali Helena tiba-tiba menciut seperti kerupuk terkena air.


Erfan mengurung Helena dengan kedua tangannya berada di kedua sisi tubuhnya membuat Helena tertunduk.


"Apa, sepertinya kau sangat ingin melihat aku mandi." Erfan membuka tiga kancing atas kemejanya dengan sebelah tangannya.


"Tidak, A-aku ti-tidak." Helena tidak bisa berfikir karena tiba-tiba otaknya blank


"Terlambat." satu kata yang keluar dari mulut Erfan dengan senyum miring terlihat sangat licik.


Byurr... Air dari shower mulai berjatuhan membasahi dari rambut hingga ujung kaki keduanya.

__ADS_1


Helena jadi gelagapan yang tadi dirinya sudah menciut sekarang malah tambah menciut bahkan gemetar karena takut membuatnya hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri.


"Kenapa kau diam saja?" Erfan tertunduk melihat lekat wajah gadis di hadapannya.


"Ka-kak aku i-ingin keluar ya!" sangking gemetarnya membuat dirinya tergagap.


Helena menunduk keluar dari kungkungan Erfan tapi belum sempat meraih pintu tubuhnya kembali ditarik hingga jatuh dalam pelukan Erfan.


"Kenapa buru-buru aku bahkan belum mandi dengan benar." Erfan membawa tangan Helena yang gemetar memeluk tekuknya.


Apa sih yang coba lakukan kak?Jantungku dalam bahaya.


Sementara Erfan merengkuh pinggangnya, membuat mereka saling memeluk dibawah guyuran air dari shower yang mulai terasa panas.


"Su-sudah ya kak, aku akan memasak makan malam untukmu." kilah Helena ingin lepas darinya tapi sepertinya tidak mudah


"Tidak perlu, kau cukup disini saja memandikanku." Erfan mengangkat dagu Helena menggoyangkan kekanan dan ke kiri terlihat sangat lucu dimatanya


Gleg... Kenapa kau tertawa lagi, yang sialnya kenapa kau terlihat sangat tampan?


Ia terkekeh untuk beberapa saat Erfan kembali mengangkat dagu Helena yang masih terlihat ketakutan hingga bibirnya ikut gemetar. Ia menunduk mengikis jarak antara mereka hingga bibir mereka bertemu.


Entah apa yang mereka lakukan, tiba-tiba Helena tersadar jika mereka sudah melakukan hal yang terlalu jauh. Helena melepas pelukannya secara paksa, mundur satu langkah dan berbalik pergi dengan pakaian basah yang sudah acak-acakan tidak menentu.


Helena apa yang kau lakukan, kau membiarkan dia menyentuh tubuhmu! runtuknya didalam hati sebenarnya kakinya sudah terasa lemas hanya saja dia harus mandi dan berganti pakaian.


Sementara itu Erfan masih terpaku di tempatnya dengan pakaian tidak kalah berantakan bahkan kancing bajunya sudah terlepas semua menampakkan tubuhnya, ia melihat punggung Helena menjauh dan menghilang dari pandangannya.


"Haiis apa yang aku lakukan padanya barusan?" Erfan kembali membiarkan air shower membasahi dirinya, niat hatinya tadi hanya ingin mengodanya malah berakhir seperti ini.


Erfan membiarkan setiap buliran air membasahi kulitnya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing karena memikirkan Helena. entah mengapa dirinya merasa menjadi pria br**g**k.


***

__ADS_1


__ADS_2