
...Happy reading ...
Seusai berganti pakaian dan keluar dari kamar mandi yang ditempati hampir dua jam membuat Helena memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
Erfan memberinya sehelai selimut yang langsung dilingkarkan pada tubuh Helena, tapi tidak membuat Helena berhenti mengigil.
"Ini minum air hangat mu, kata penjaga supermarket kau juga membutuhkan ini," Erfan meletakkan segelas air gula merah hangat di hadapan Helena.
"Terima kasih!" Helena menyungingkan senyum sekilas dan menangkup gelas mencoba meminum air yang diberikan oleh Erfan.
"Hmm.. apa kau sesakit ini jika kedinginan?" Erfan bertanya dan ikut duduk di hadapan Helena melihatnya sedang minum.
"Tidak juga," balas Helena.
"Bajumu sudah dipakai tapi aku tidak melihat pembalut, kau pakai dimana?"tanya Erfan polos bahkan mengangkat sebelah alisnya karena kebingungan.
Pufthhh....
Helena tersedak hingga terbatuk mendengar pertanyaan polos dari Erfan ini benar-benar ajaib kenapa seorang pria tidak tau tentang wanita sedikit saja, mana mungkin Helena menjelaskan pada pria di depannya.
"uhuk...uhuk... nanti, Akan aku pakai nanti." Helena gelagapan kembali minum.
Erfan hanya ber-oh ria melihat Helena yang terus meminum minumannya dengan wajah memerah. Erfan memperhatikan Helena yang minum sedikit demi sedikit.
"Kenapa kau lama sekali meminumnya."
"Aku minum juga tidak menganggumu 'kan?" Helena mengedarkan pandangan jengah.
"Kau menganggu ku untuk pergi ketempat tidurmu. Aku juga ingin tidur!"
"Baik sudah ku habiskan." Helena menengak air gula merah hangat itu hingga tidak bersisa sedikit pun.
"Sudah!"
"Taruh saja di situ, ayo aku antar," ucapnya dingin dengan wajah datar.
Erfan memapah Helena kearah sofa diruang tamu, mendudukkannya di sofa.
"Dimana aku tidur " tanyanya saat Erfan menghentikan langkahnya diruang tamu.
__ADS_1
"Tidak ada kamar kau akan tidur disisi!"
"Disofa?"
"Ya Dan ini selimut mu!" tunjuknya pada kain yang disematkan disofa dan juga ada dua bantal sofa.
"Ini, tidak bisa kah kau memberi satu kamar?" tanya Helena pasalnya rumah ini luas pasti lebih dari satu kamar yang ada disini.
"Tentu saja tidak, tidur saja disini," putusnya berjalan kearah tangga.
Helena ingin protes tapi dirinya sadar kalau ini bukan rumahnya jadi dirinya hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang.
Erfan pergi menaiki tangga menuju kamarnya dilantai atas sepintas ia melihat Helena sebelum memasukki kamarnya.
"Bisakah lampunya dimatikan," pintanya tanpa menoleh Erfan langsung menekan saklar hingga lampu padam
Clekk..
Dalam sekejap lampunya mati hanya menyisakan lampu akuarium, Helena menatap langit-langit apartemen milik Erfan memikirkan tetang dirinya sendiri
"Ayah aku ragu pada diriku sendiri" guman Helena bicara pada angin seakan sang ayah ada disisi nya.
*
"Kau sudah bangun?"Tanyanya sontak saja membuat Helena kaget dan bangun hingga terduduk.
"Aku tidak memelihara seekor koala yang hanya tidur dan makan saja," ucap Erfan menyindir Helena yang masih mengucek matanya.
"Nih ganti perbanmu!" Erfan meletakkan perban dan obatnya di atas meja.
"Dan Ini kerjakan tugasmu!" Sentak Erfan melemparkan map kehadapan Helena. "Ini kerjakan?"
Helena melihat map dipangkuan nya dan juga Erfan bergantian. "Baru juga bangun udah ada kerjaan," lirihnya
"Kerjakan!"
Bukan mengerjakan Helena malah bangkit berjalan kearah dapur dengan susah payah, ia ingin membersihkan wajahnya yang baru bangun tidur, bisa-bisa cantiknya hilang karena iler.
"Kau mau kemana?"
__ADS_1
"Aku mau kekamar mandi pak apa kau mau ikut juga," tawar Helena disertai dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
Erfan berdecak tidak suka, ia berbalik badan membelakangi Helena yang sudah hilang dibalik pintu kamar mandi.
"Bagaimana wanita itu bisa mengajak pria ikut dalam satu kamar mandi. Kan bahaya jika aku menerima ajakannya ." Gerutu Erfan berlalu pergi.
Helena menghidupkan keran mulai membasahi wajahnya dengan air beberapa kali, matanya agak terlihat sembab. Karena ia menangis semalaman dan tanpa sadar tertidur dengan air mata mengering.
Helena kembali memikirkan tentang kedua orang tuanya, tapi bayangan ayahnya meninggal karena ditinggal oleh ibunya.
Setelah meredam perasaannya dalam air tadi dan keluar dari kamar mandi dengan semangat. Helena mengedarkan pandangan tapi Erfan sudah tidak terlihat lagi.
"Dimana dia?" tanyanya pada dirinya sendiri karena tidak ada keberadaan Erfan.
Helena duduk bersilah dilantai dengan membuka perban yang membungkus mata kakinya dengan hati-hati.
Helena membersihkan lukanya dengan sangat sangat fokus hingga tidak menyadari Erfan dibelakangnya.
"Baaa!.." serunya mengagetkanHelena
"Aaaaa...."Helena yang tersentak otomatis meraih apa pun dan memukul Erfan dengan mata terpejam karena melihat topeng yang mengerikan.
Entah dari mana Erfan muncul dan mengagetkan Helena.
"Ck dasar penakut" gumamnya terdengar sampai pada telinga Helena, mendengar suaranya membuat Helena membuka mata.
Dilihat Erfan berdiri tidak jauh darinya dengan memegang topeng yang membuat Helena terkejut tadi.
"Kau, kenapa mengagetkan ku hah?" bentak Helena yang tiba-tiba kesal.
"Mengagetkan mu, jelas-jelas aku sedang bermain sendiri,"ucapnya tanpa dosa.
"Main katamu!"ingin rasanya Helena membentaknya tapi apalah daya hanya bisa memarahi dalam hati.
"Kau kau! "Helena mengepalkan tangan kesal, ingin rasanya ia meninju wajah yang pura-pura tidak berdosa, ia benar-benar geram.
"Ingat Helena, kau hanya menumpang dirumahnya jadi harus tau diri " Ingat Helena pada dirinya sendiri.
"Apa kau kau?"Tanya Erfan menantangnya tapi Helena mengeratkan giginya mencoba menahan amarah.
__ADS_1
**
Hay guys Karya baru sudah tiba, jangan lupa like coment and follow terus ceritanya. Love you all reader 💕💕💕