
...Happy reading...
Erfan memasuki ruang rawat tempat Helena masih tertidur dengan baju pasien serta selimut yang menyelimuti tubuhnya dan juga selang infus yang ada di tangannya.
Erfan yang diliputi rasa khawatir saat melihat Helena terbujur lemah dan tidak membuka mata apalagi dirinya baru tau jika perempuan ini adalah gadis kecil yang dia temui di masa lalu.
Dilihatnya wajah tenang yang selalu memberi keceriaan pada siapapun,sekarang tidak ada gurat senyum sedikit pun di wajahnya yang terlihat pucat.
Erfan memberanikan diri mengenggam tangannya yang terasa dingin dengan erat memberi kehangatan padanya berharap ia cepat membuka matanya.
Erfan teringat tadi saat dokter baru saja keluar dari ruangan pasien dengan langkah cepat Erfan sudah berdiri tepat di hadapan sang dokter.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia bisa pingsan?" Erfan memberondongi dokter dengan beberapa pertanyaan sekaligus karena dia yang memeriksa keadaan Helena tadi.
"Dia sudah lebih baik hanya menunggunya sadar dari pingsannya dan dia bisa tidak sadarkan seperti ini karena perutnya tidak ada makanan ditambah dengan dirinya yang bermain hujan bertambah parah," jelas Dokter perempuan itu dengan ramah disertai senyum.
"Setelah infusnya habis Anda bisa membawanya pulang ke rumah." lanjutnya
"Baiklah apa saya bisa melihatnya?"
"Tentu saja dia sudah dibawa ke ruangan rawat inap." balas dokter itu.
Tanpa menjeda lagi Erfan berlari ke ruang rawat inap yang ditunjukkan oleh dokter itu dengan tergesa-gesa, dirinya merasa sangat khawatir.
Dan disinilah Erfan menunggu Helena tersadar dari tidurnya, bajunya sudah berganti dengan baju pasien, tangannya masih terasa dingin serta wajah yang pucat tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Bangunlah, Zira. Luna menunggumu pulang dia sangat khawatir kau pergi tiba-tiba tadi siang."
Erfan berbicara padanya berharap ia mendengarnya dan bangun dari tidur secepatnya, entah kenapa Erfan seperti merindukan senyum manisnya.
Erfan beralih mengusap pipinya yang juga masih dingin.
Tapi seperti tidak mempan sama sekali, menit berganti jam dan sekarang sudah tiga jam lamanya Erfan menunggu Helena bangun, setelah lama terdiam Erfan kembali membuka suara.
"Helena bangunlah!" ucapnya sendu masih mengenggam erat tangan Helena, bahkan mencium punggung tangannya beberapa kali.
Setelah mengatakan itu Erfan merasa tangan Helena bergerak, beralih melihat mata Helena mulai bergerak perlahan terbuka.
"Helena kamu sudah bangun?"tanya Erfan
Helena mengerjap mata beberapa kali menyesuaikan penglihatannya dengan lampu terang, ia menoleh melihat Erfan berada di sebelahnya
"Apa kau sudah lebih baik? Apa kau demam atau bagian mana yang terluka? perlu aku panggilkan dokter?" tanya Erfan khawatir tanpa melepaskan tangannya yang mengenggam tangan Helena
"Aku sudah merasa lebih baik pak," jawab Helena berusaha menarik tubuhnya untuk duduk, dengan sigap dibantu oleh Erfan hingga duduk dengan bersandar pada sandaran tempat tidur.
"Kata dokter perutmu kosong, saat kau bangun harus langsung makan, aku sudah membelikan bubur untukmu. Makanlah." Erfan memberi satu kotak bubur pada Helena untuk dimakan mengisi perutnya yang kosong.
Apalagi wajah pucatnya terlihat dirinya begitu tidak berdaya bisa-bisa pingsan lagi
"Terima kasih pak tapi aku sedang tidak selera makan, belum lapar." Helena mendorong pelan kotak makanan itu.
__ADS_1
Erfan menatapnya tajam "Bohong pun harus punya keahlian." Erfan merebut kotak bubur dari tangan Helena, membuka dan mulai menyendok bubur itu
"Tadi dokter bilang perutmu kosong, apa kau tidak dengar jadi makanlah atau keadaanmu akan bertambah parah." jelas Erfan.
Helena melihat sesendok bubur dengan tidak minat, lalu beralih pada Erfan yang melihatnya dengan berharap ia makan, Helena mengeleng pelan pertanda ia tidak mau makan.
Erfan menghela napas panjang karena Helena tidak mau makan padahal tubuhnya sudah lemah. Ia menaruh kembali kotak bubur di atas nakas dan beralih menatap Helena dengan lekat.
"Kau beneran tidak mau makan?" tanyanya lagi memastikan keputusan Helena
"Ya." ucapan lirih itu keluar dari bibirnya yang pucat yang hanya bisa membuat Erfan menghela napas panjang.
Gadis ini tidak jauh beda dengan Luna yang membuat dirinya pusing jika begini.
"Baiklah, biar kita berdua jadi pasien disini." ucap Erfan, sementara itu Helena masih diam beberapa saat.
Erfan mulai membuka sepatu yang sejak tadi dipakai, dan membuka dua kancing atas kemejanya yang terlihat sangat tampan dan macho.
"Anda sedang apa?" tanya Helena tiba-tiba panik melihat Erfan mendekatinya.
"Aku mengantuk, ingin tidur." balas Erfan duduk di sebelah Helena yang masih setengah duduk.
Mata Helena sukses melongo melihat Erfan ingin berbaring di tempat tidur yang sama. Bukan hanya itu dirinya bahkan menarik serta tangan Helena agar tidur bersamanya.
"Pak, apa yang kau lakukan!" Helena melepaskan tangan Erfan yang merangkul tubuhnya beringsut mundur hingga hampir terjatuh
__ADS_1
"Hati-hati!"