
...Happy reading...
"Halo Yolan, Yolan! Aiss bocah ini, bagaimana caranya sih?" Erfan terus memanggil nama Yolan tapi tidak didengar lagi olehnya yang membuat Erfan bertambah kesal.
Erfan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi pandangannya tertuju pada langit-langit ruang kerjanya yang berwarna putih.
Erfan kembali melihat ponselnya yang sudah padam karena tidak disentuh dari tadi sebab dirinya sedang berfikir keras tentang rencananya membuat Helena luluh.
"Ahh sudahlah lebih baik aku tidur saja," ucap Erfan hampir berteriak karena pikirannya tidak mendapatkan ide apapun. "Tentang hadiah akan aku pikirkan nanti." lanjut Erfan menyugar rambutnya frustasi karena tiba-tiba merasa pusing.
Yolan bahkan tidak bisa memberinya solusi apapun padanya pantas saja dia jomblo walau dikelilingi banyak wanita benar-benar payah dan tidak berguna. cebik Erfan memikirkan tentangnya.
Sementara Helena yang berada didalam kamar sudah tertidur bahkan terdengar dengkuran halus, terlihat begitu nyenyak tidurnya.
Dia hanya berniat sembunyi dari Erfan tadi nyatanya tubuhnya benar-benar kelelahan hingga tertidur begitu saja.
...🌺🌺...
Pagi pun datang, entah ada angin apa semalam, sekarang Erfan sedang berkutat didapur sendirian dengan begitu senang, dia berencana membuat sarapan untuk kedua gadisnya.
Setelah berfikir keras semalam yang tidak membuahkan hasil tadi pagi ide muncul begitu saja di pikirannya.
Helena yang baru keluar dari kamar pun merasa heran dengan tingkahnya, ia mengusap matanya beberapa kali, memastikan dirinya tidak salah lihat, tumben sekali Erfan bisa memasak sebahagia ini.
"Pak Erfan?" panggil Helena masih mode bingung.
"Eh Helena cepat duduk di sini, coba cicip masakanku." Erfan meraih tangan Helena menariknya untuk duduk di kursi dapur.
"Tapi aku belum mandi, aku akan kekamar mandi untuk cuci muka." Helena
__ADS_1
"Tidak perlu, belum mandi saja sudah cantik," ucap Erfan seraya tersenyum dan mengusap pipi Helena sekilas, lalu berbalik ingin mengambil makanan yang baru selesai dimasak.
Kenapa dia mengusap pipiku apa ada iler! Tidak mungkin kan! teriak Helena dalam hati cepat-cepat memegang pipinya yang baru saja dipegang oleh Erfan.
Helena masih terpaku sambil memegang pipinya sendiri, saat melihat Erfan kembali mendekat membuatnya terkejut hingga duduk dengan tegak.
"Ini cobalah cicipi bagaimana rasanya?" Erfan meletakkan semangkuk bubur didepan Helena dan duduk di sebelahnya melihat dengan lekat.
Helena mengambil sendok dengan hati-hati mengaduk bubur beberapa kali ragu-ragu mengambilnya sesendok dan memasukkan kedalam mulutnya.
"Bagaimana?" tanya Erfan penuh harap sudah duduk di hadapan Helena.
"Enak," jawab Helena mengambil sesendok lagi tapi tangan Erfan menghentikannya dan menyuap kedalam mulutnya sendiri yang membuat Helena merinding jadinya.
Apa sih yang coba kau lakukan, jantungku tidak aman! teriak Helena dalam hati dengan detak jantungnya berpacu hebat.
"Benar ini enak." Erfan kembali tersenyum, aduh senyummu membuatku meleleh kak.
"Nanti lanjut lagi makannya, apa kau tidak mau mandi?" Erfan mengusap puncak kepala Helena malah bertambah berpacu detak jantungnya ditambah dengan semu kemerahan di kedua pipinya.
"Luna juga belum bangun ya! Aku akan membangunkannya" karena malu Helena berlari kekamar Luna untuk membangunkannya
"Lucu juga jika dia malu begitu." senyun Erfan mengembang dan melihat kepergian Helena.
Setelah membangunkan Luna dan memastikannya mandi Helena keluar menuju kamar mandi didekat dapur
Setelah mandi Helena kembali ke kamarnya karena rasanya hari ini tidak perlu memasak karena Erfan yang sudah memasak.
Begitu membuka pintu kamar Helena terpaku melihat banyak bunga yang disematkan disegala penjuru kamarnya mulai dari dinding, meja rias bahkan kasurnya.
__ADS_1
Kenapa ini, perasaan aku belum menikah kenapa banyak sekali mawar seperti malam pertama saja.
"Bagaimana kau suka?" Helena mengerjap mata beberapa kali saat mendengar suara bariton Erfan ada di belakangnya, sontak saja dia berbalik karena kaget.
"Hah?"
"Ini semua aku yang membuatnya, apa kau suka?" tanyanya Erfan membuat Helena bingung menjawabnya bagaimana.
"Su-suka."
"Jadi kamu mau bersamaku?" Erfan menarik pinggang Helena hingga masuk dekapannya.
"Pak Erfan, bukannya aku menolak, tapi beri aku waktu lagi ya?" kilah Helena
"Tidak, sudah terlalu lama!" Erfan makin merapatkan tubuh Helena padanya hingga wajah mereka semakin dekat.
"Ayah! Mama kalian ini sedang apa?" tiba-tiba suara Luna membuat mereka berdua menoleh padanya.
"Eh Luna, pak lepasin dulu dong, malu!" Helena berusaha lepas tapi Erfan tidak sedikitpun melepaskan.
"Ada apa sayang?" Erfan bahkan bertanya pada Luna dengan santainya tanpa rasa malu.
"Kalian pelukannya berdua, Luna mau ikut dipeluk juga!" pintanya manja mengangkat tangan minta digendong.
"Hah!" Helena hanya bisa melonggo karena tidak bisa lepas dari pelukan Erfan.
"Sini sayang!" Erfan membawa Luna dalam gendongannya dan memeluk Helena dengan bersamaan juga.
Apa-apaan semua ini seperti sebuah keluarga bahagia saja! Helena hanya bisa membatin memeluk kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya.
__ADS_1
****