
...Happy reading...
"Lukanya tidak parah hanya saja jangan terlalu banyak bergerak dan tidak boleh kena air, itu akan membuat lukanya terbuka lagi, anda sebagai suaminya bisa menjaga makanannya jangan makan pedas dan makanan beralkohol." Jelas dokter.
"Ini resep obat berupa obat perban yang diganti 12 jam sekali disertai obat oles agar lukanya cepat mengering. "
"Baik!" Erfan mengangguk paham dengan penjelasan dokter.
"Dokter bisakah berikan obat untuknya, sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan darah." Helena menunjuk Erfan yang juga terluka, Erfan yang bingung menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih.
"Ini obatnya, saya akan menuliskan resep obat," ujar dokter memberi kotak P3K pada Helena.
"Menunduklah sedikit!" pinta Helena yang membuat Erfan membenarkan duduk dengan sedikit menunduk.
Helena dengan telaten membersihkan lukanya dan juga mengoleskan obat agar cepat sembuh sesekali meniup lukanya saat Erfan kesakitan tapi terkadang hanyut melihat wajah Helena yang terlihat manis.
"Sudah!" Helena mengemas kembali kotak P3K yang sempat dikeluarkan isinya, tapi Erfan tidak mengalihkan pandangan darinya.
"Ini resepnya," ucapnya membuat Helena dan Erfan meneloh pada dokter.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu," pamit Erfan kembali menggendong Helena.
"Apa yang kau lakukan. Turunkan aku., aku bisa jalan sendiri!" Keluhnya merasa malu melihat pandangan orang sekitar tertuju padanya.
"Tentu saja membawamu pulang, kau lupa perkataan dokter tadi kakimu tidak boleh banyak bergerak!" balasnya santai tidak terpengaruh apapun.
"Tapi kau bisa mengambil kursi roda saja untukku!" Helena kesal hingga meronta.
"Terlalu merepotkan." Erfan tidak memperdulikan keberadaan sekitarnya yang sangat membuat Helena malu.
"Duduk disini aku akan menebus obatmu" Erfan meletakkan Helena disalah satu kursi tunggu yang berjejer rapi.
Tiba-tiba saja Helena merasa tidak nyaman dengan perutnya yang merasa melilit, ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan toilet tapi tidak mendapatinya, ia pun menghentikan salah satu perawat.
"Maaf toiletnya ada dimana ya?" tanya Helena menahan sakit perut.
"Didepan ada belokan kanan toilet ada diujung lorong itu," tunjuknya dengan ramahm
"Terima kasih!" balas Helena seraya berjalan kearah yang di tunjukkan oleh perawat tadi dengan berpegangan pada pegangan untuk lansia yang susah berjalan.
__ADS_1
Baru beberapa langkah Helena merasa nyeri dikakinya membuat ia menopang tubuh dengan sebelah kaki.
"Hey sudah kubilang jangan bergerak!" kesal Erfan hingga membuat Helena tersentak kaget.
"Apa hey hey aku ini punya nama!" balas Helena merasa geram.
"Ya karena aku malas memanggil namamu." Helena kembali terkejut saat melihat Erfan kembali menggendong dirinya.
"Hei kau mau bawa aku kemana?" Helena kembali meronta karena ia ingin pergi ke toilet.
"Pulang!"
Pulang kemana aku ini?
Helena kembali teringat dengan pertengkaran dengan sang ibu tadi, ia tidak ingin pulang kerumah itu lagi. "Tidak aku tidak mau pulang kerumah itu!" Helena tertunduk
"Lalu kemana aku bisa mengantar mu?"
"Aku tidak punya tujuan," ucapnya tertunduk "Turunkan aku di jalanan pun boleh." lirihnya
Erfan yang melihat merasa tidak tega padanya, matanya yang mulai berair membuat Erfan mengingat mata seorang gadis yang pernah dilihat dulu.
"Terima kasih, aku akan membalas semua kebaikanmu, tapi bisakah kau membawaku kesuatu tempat untuk menenangkan diri?" tanya Helena hati-hati tidak mau menyinggung pria ini, tapi begitu mendapat anggukan Helena memberi tahu pada Erfan petunjuk Maps.
"Wanita memang merepotkan, ingat kau sudah berhutang banyak padaku,"
"Tapi kau barusan bilang ingin bertanggung jawab hingga aku sembuh."
"Kau bisa tinggal denganku untuk penyembuhan, tapi kau harus ingat terlalu banyak hutang yang sudah kau tumpuk!" Erfan mengejek perempuan ini.
"Ya aku akan bayar, jumlahkan saja!" Helena jadi kesal sendiri.
"Baik kita sudah sampai!"
Helena melihat pemandangan didepannya dengan haru sudah bertahun dia meninggalkan tempat ini tapi kenangannya bersama seperti bermain dibenaknya tanpa sadar air matanya menetes.
"Ayah!" ucapnya lirih
"Berapa lama kau akan memandang sungai dan jembatan disini?" tanyanya membuyarkan lamunan Helena.
__ADS_1
"Bisa kah aku melihat nya 5 menit lagi?"
Erfan yang mengerti membalas dengan anggukan kecil hingga ikut memandang sungai yang sedang dilalui oleh kapal itu. Begitu waktu 5 menit berlalu Erfan melihat Helena yang masih melamun.
"Hey, apa sudah selesai?" tanyanya lagi.
Helena jengah dengan getaran didalam tas, dengan cepat meraih ponsel melihat tertera nomor ponsel ibunya, dengan kesal ia melemparkan keluar dari jendela mobil.
Helena mengangguk membenarkan bahwa dirinya sudah selesai, Erfan menyalakan mobil untuk menuju ketempat tinggalnya yang berada tidak jauh dari tempat ia mengantar Helena.
"Itu ponselmu!" Erfan melihat ponselnya terbanting di aspal mungkin sudah pecah
"Biarkan saja!" balasnya singkat.
Helena dibawa pulang kerumah Erfan atau lebih tepat disebut apartemen yang luas, elegan, mewah. Ini petama kali Helena melihat apartemen seperti disebut dalam novel atau pun di film, Helena jadi penasaran apa pria ini menyembunyikan perempuan di sinii
"Berhentilah melihat seperti itu, sesuatu yang kau cari tidak ada disini," ucap Erfan seperti mengerti isi pikiran Helena yang membuatnya nyengir kuda.
Ia berjalan masuk terlebih dahulu menuju dapur mencari bahan makanan untuk menganjal perutnya yang sudah lapar sejak tadi.
"Rumahmu begitu besar untuk kau tinggali seorang diri, dan akuarium ini sangat cocok untuk diletakkan disini, rumahmu estetik," puji Helena sangat terpukau dengan penampakan rumah ini.
"Kepalamu yang besar, tidak bisa kah kau duduk diam!" Erfan jengah melihat Helena yang berjalan sesuka hatinya.
"Aku hanya ingin lihat apa yang kau buat," Helena melihat wajan yang sedang diaduk oleh Erfan.
"Kau tidak takut tinggal seorang diri disini?"Tanya Helena tiba-tiba membuat Erfan menghentikan aksinya.
"Yang ku takuti adalah perempuan licik sepertimu," ejeknya dengan senyum meremehkan membuat Helena kesal.
"Kau bilang aku licik!" Bentak Helena menunjuk dirinya sendiri
"Lalu apa kalau bukan licik?" Erfan berbalik menaruh makanan dalam piring.
Helena meninju udara didepannya dengan kesal melihat Erfan yang membelakangi dirinya.
Jika aku tidak bergantung padamu malam ini, pasti kau sudah aku hajar!
******
__ADS_1