I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Bukan Hanya Suami Tapi Juga Imam


__ADS_3


Anjani benar-benar menenggelamkan dirinya di dalam selimut, ternyata menantang orang dewasa itu menyeramkan juga. Coba bayangkan kalau tadi Arkan sampai menciumnya, bisa mati kutu Anjani.


Jantungnya masih berpacu sangat cepat sampai akhirnya Arkan ikut naik ke ranjang, membuat Anjani ketar-ketir dibuatnya meskipun Arkan bilang kalau dia tidak akan melakukan apa-apa tapi tetap saja dia tidak mau satu ranjang dengan Arkan. "Pakk!!"


"Mas!" Peringat Arkan.


"Pak!!"


"Panggil saya Mas, Anjani!" Peringat Arkan sekali lagi.


"Ya apapun itulah, masa kita tidur satu ranjang kaya gini?" Tanya Anjani seraya mengubah posisinya menjadi duduk.


"Memang kenapa, kita sudah sah. Mau sambil melakukan di luar batas pun boleh," jawab Arkan dengan santai.


Anjani berdecak, akan susah memang jika bicara dengan Arkan. Kalau Arkan tidak mengerti, biar dia saja yang pindah tidur di sofa, karena agak risih ternyata berbagi ranjang dengan seorang pria seperti ini.


Namun saat Anjani akan mengambil bantal dan beranjak dari sana tiba-tiba Arkan menarik lengannya dan membawa Anjani ke dalam dekapannya, tanpa rasa berdosa Arkan menarik selimut dan memejamkan matanya.


"Pakk, lepasin saya!" Anjani berusaha melepaskan diri namun Arkan mengeratkan pelukannya, malah sekarang jauh lebih berani dengan mencium kening Anjani cukup lama, membuat jantung Anjani berdegup kencang, bukan, bukan karena jatuh cinta tapi ya kaget lah dengan perlakukan semacam ini. Ini pertama kalinya untuk Anjani.


"Lebih baik kamu memejamkan mata, setelah itu tertidur lelap. Karena daripada terus dipikirkan lebih baik kamu jalani pernikahan ini dengan baik," ucap Arkan perlahan.


Anjani menahan napasnya, dia tidak bisa bernapas kalau lama-lama seperti ini. Cukup lama dia berusaha Anjani berusaha melepaskan diri dari Arkan tapi hanya berujung sia-sia. Yang ada dia semakin kelelahan, Anjani yang memang sejak awal sudah mengantuk akhirnya tertidur juga.


Arkan terkekeh melihat Anjani yang sekarang tertidur pulas, Arkan memang belum tidur, dia akan menunggu Anjani tertidur baru dirinya bisa tidur. Mungkin untuk sekarang hanya Arkan yang bahagia karena pernikahan ini, tapi Arkan berjanji kalau dia akan membahagiakan Anjani selama hidupnya.


Mungkin Anjani lupa padanya, padahal pertemuan 12 tahun lalu itu membekas di hati Arkan sampai detik ini. Di mana ada seorang anak kecil berusia 5 tahun datang menghampirinya memberikan coklat yang dia punya. Seorang gadis kecil berambut keriting gantung dengan mata yang lentik dan mencium pipinya saat dia menangis karena mendapatkan nilai rendah.


Iya itu adalah pertemuan awal Clarissa dan Gio kecil. Sampai akhirnya Arkan selalu membuntuti gadis kecil itu ke mana pun dia pergi bersama pengawal-pengawalnya tanpa Anjani ketahui. Hingga akhirnya pada saat gadis itu beranjak dewasa dia mengetahui kalau Bagas sepupunya menjadikan Anjani miliknya.

__ADS_1


2 tahun lebih Arkan berhenti mengagumi Anjani diam-diam dan pada akhirnya mereka bertemu kembali karena perjodohan ini dan keikut sertaannya mengurus yayasan milik sang ayah. Dan sekarang di sinilah dia berada, di samping Anjani dan menjadi suaminya. Tidak sia-sia memang perjuangannya selama ini, meskipun dia tau kalau sekarang hati Anjani masih dimiliki oleh Bagas.


"Sebentar lagi kamu harus mencintai saya ya, Anjani," bisik Arkan.


"Saya sangat mencintai kamu, selamat tidur." Arkan mencium pipi Anjani dengan lembut, sebenarnya dia ingin mencicipi bibir strawberry Anjani yang sangat menggodanya. Tapi sejauh ini dia tidak berani, jadilah dia hanya mencium pipinya dan menyusul Anjani untuk tertidur lelap.


.


.


.


Subuh sudah tiba, adzan juga sudah berkumandang. Arkan yang memang hidup teratur kini sudah bangun karena suara alarm dari ponselnya. Senyumnya terukir saat melihat Anjani yang masih anteng terlelap dalam dekapannya.


"Selamat pagi." Arkan menciumi pipi istrinya, aroma khas bangun tidur dari Anjani ternyata nyaman di penciumannya, bahkan sepertinya akan candu mulai hari ini.


Anehnya saat diciumi seperti ini pun Anjani tidak terbangun, tidurnya lelap sekali, Arkan sebenarnya tidak tega jika harus membangunkan Anjani pagi-pagi begini, tapi sebagai suami yang baik dia harus melakukannya. "Anjani bangun."


Arkan terkekeh, lucu juga ternyata tingkah Anjani saat bangun tidur seperti ini. "Jadi kamu nyaman peluk saya hm?"


Tiba-tiba mata Anjani membulat, mendengar kata-kata itu membuatnya tersadar dengan apa yang terjadi saat ini. Perlahan dia menjauhkan tubuhnya dari Arkan, dia tidak sadar loh kalau dirinya memeluk Arkan, perasaan tadi dia memeluk guling.


"Apasih, Pak! Modus," kesal Anjani.


"Mas!"


"Gak mau, jangan paksa!"


Arkan menghela napas, lagi-lagi dia harus ekstra sabar menghadapi istrinya yang galaknya melebihi macan mau melahirkan. Tapi tidak apa-apa stok kesabaran Arkan banyak kok, apalagi untuk Anjani.


"Lagian kenapa sih Pak Arkan bangunin saya jam segini, padahal masih pagi," gerutu Anjani.

__ADS_1


"Sholat subuh."


"Masih lama juga, nanti ah saya masih ngantuk." Anjani kembali mengambil bantalnya, namun Arkan menahan pergelangan tangannya.


"Anjani sholat subuh, kamu mandi di dalam dan saya pakai kamar mandi luar, kita sholat bersama," imbuhnya.


"Pak, kenapa sih maksa?" Protes Anjani. Namanya juga anak remaja, Anjani memang tergolong yang sering menunda sholat, tapi dia selalu menjalankannya walaupun di akhir-akhir.


"Saya suami kamu Anjani, selain saya suami kamu saya juga imam untuk kamu. Kamu tanggung jawab saya dan sekarang lebih baik kamu menurut. Kita sholat berjamaah, saya selesai mandi kamu juga harus sudah selesai."


Arkan mengusap puncak kepala Anjani dengan lembut, setelahnya dia turun dari kasur dan berjalan ke luar kamar sembari membawa handuk.


Anjani menghela napas panjang, seharusnya dia bisa menikmati waktu tidurnya sebentar lagu, tapi Arkan sangat rewel. Dia kesal sekali, tapi karena sudah terlanjur bangun, akhirnya Anjani menurut juga. Dia mengambil baju dari lemarinya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi dan berpakaian, benar saja mereka melakukan sholat berjamaah. Meskipun awalnya menolak, tapi Anjani melakukannya. Meskipun agak aneh sebenarnya, pokonya bagi Anjani kehidupan seperti ini masih tabu untuk dia jalani, dia tidak pernah memiliki gambaran akan menikah diusia yang masih 17 tahun.


Selesai sholat, seperti biasa Anjani langsung bergegas, namun Arkan dengan cepat menahan tangannya. "Berdoa dulu, biasakan!"


Anjani menghela napas, ini apalagi sih? Kenapa banyak aturan sekali jika bersama Arkan. Kesal sekali padahal ini masih pagi, tapi Arkan tidak peduli Anjani akan marah atau emosi, karena sudah kewajibannya sekarang untuk membimbing istrinya ke arah yang lebih baik.


Selesai berdoa Arkan berbalik dan mengulurkan tangannya pada Anjani. Anjani mengerutkan dahinya karena linglung. Namun Arkan semakin mendekatkan tangannya. "Anjani."


Anjani berdecak, lalu berjabat tangan dengan Arkan. Arkan menghela napasnya sembari terkekeh. Kenapa malah berjabat tangan, padahal Arkan meminta Anjani menyalaminya. Dengan cepat dia menggenggam tangan Anjani lalu menyalamkan tangannya sendiri pada Anjani. "Salam sama suami dapat pahala."


"Banyak aturan!" Kesal Anjani.


"Tentu banyak, maka dari itu kamu harus mulai belajar, mulai membiasakan diri, karena seterusnya akan seperti ini," ucap Arkan.


"Kalau gak mau?" Tanya Anjani dengan wajah menantang.


"Kalau tidak mau? Urusan kamu, tapi dosanya tanggung sendiri, jangan bawa-bawa saya karena saya sudah mengingatkan," jawab Arkan enteng.

__ADS_1


Anjani mendengus kesal, lagi-lagi pembicaraannya ke arah dosa, Tuhan dan lain sebagainya. Sepertinya itu memang senjata untuk orang-orang dewasa saat menghadapi remaja seusia dirinya. Menyebalkan sekali.


__ADS_2