
Buat yang nanya kenapa author jarang update, author mau bilang kalau author lagi sibuk di real life ya sayang-sayangku untuk bulan ini. Makasih yang masih setia baca cerita ini, i love you Soo much guys. Jadi dari sekian banyaknya cerita mau fokus di cerita ini dulu. Tapi ya gitu, updatenya kalau luang. Tapi sebisa mungkin author update kok setiap hari. Doain aja tugasnya segera selesai. Happy reading~
Hari ini Arkan dan Anjani sama-sama meliburkan diri, mereka sengaja karena rencananya hari ini akan mendekor kamar anak mereka. Mereka sekarang membagi tugas. Arkan yang memasang box bayi dan Anjani yang menata baju-baju gemas dengan dominan warna biru pink itu.
"Kamu istirahat saja, Sayang. Biar saya yang merapikan ini semua," ucap Arkan. Bukannya memanjakan Anjani, tapi dokter bilang kalau Anjani akan melahirkan beberapa hari lagi. Jadi Arkan tidak mau kalau sampai Anjani terlalu lelah karena ini.
Anjani menggeleng. "Aku gak kenapa-kenapa tau. Aku bisa kok ngerjain ini semua. Kamu gak usah meragukan itu."
"Bukan meragukan, tapi saya takut kamu kelelahan. Biar saya saja ya?" Pinta Arkan dengan sangat.
Anjani tetap bersikukuh, karena sebagai ibu juga dia ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dia juga ingin ikut andil dalam perjalanan sang anak, termasuk sebelum dia lahir ke dunia.
Melihat itu Arkan menghela napas saja, susah sih kalau Anjani keras kepala. Yang ada nanti moodnya tidak terkontrol dan berubah-ubah. Lebih baik membiarkannya saja melakukan apa yang dia inginkan. "Baik, tapi kalau lelah istirahat saja, oke?"
"Iya, Mas. Papanya bayi bawel banget!" Ucap Anjani.
"Bukan bawel, tapi peduli."
"Bayinya ketawain ayahnya di dalem perut aku, ih ayah posesif banget sama mamanya, dasar ayah bucin!" Ledek Anjani.
Mendengar itu Arkan hanya terkekeh, ada-ada saja memang. Bukan bucin tapi Arkan memang sangat mencintai Anjani. Anjani tersenyum sendiri sih. Lucu saja dia sudah membeli banyak sekali baju berwarna pink putih biru begini.
Anaknya pasti akan sangat cantik dan lucu saat memakainya. Dia membayangkan bagaimana nanti rutinitasnya menjadi seorang ibu. Dia sudah banyak sekali menonton edukasi parenting yang baik sejak kecil, ditambah di kampus juga dia belajar soal berkembangan anak. Tidak sia-sia memang Anjani memasuki jurusan itu.
Karena enaknya masuk jurusan psikologi ya begini, jika tidak berkarier, dia bisa menerapkannya di kehidupan sehari-hari, contohnya mengurus anak.
"Mas kalau nanti aku melahirkan kamu bakalan di samping aku gak?" Tanya Anjani random.
"Tentu."
"Kalau aku cakar kamu, Jambak kamu, atau pukul kamu pas aku ngelahirin marah engga?" Tanya Anjani.
Gemas sekali, kenapa harus ditanya juga pertanyaan seperti itu. Apa dia terlihat kurang sabar ya menghadapi Anjani sejak dia menjadi remaja labil dan emosian.
Arkan mendengar itu langsung menghampiri Anjani dari belakang sambil setengah berjongkok. "Kenapa bertanya?"
"Ya nanya emang gak boleh? Udah tau istrinya ini suka validasi. Emang manusia gak peka itu namanya Giovano!" Cibir Anjani.
"Kemarin kamu bilang saya manusia paling peka dengan maunya kamu, hm?" Tanya Arkan seraya mengadahkan wajah Anjani padanya. Membuat Anjani memajukan bibirnya merajuk. "Ya dalam beberapa hal gak peka!"
__ADS_1
Arkan tidak tahan untuk tidak mencium Anjani. Dengan lembut dia mengecupi bibir istrinya. "Tanpa kamu minta saya akan di samping kamu, kamu melahirkan anak saya itu butuh perjuangan, untuk apa saya marah hanya karena jambakan atau pukulan kecil?"
Anjani mengigit bibir dalamnya dan mengulum senyum. "Udah ah, kamu ini bikin aku diabetes!"
Nahkan dia sendiri yang ingin validasi, tapi dia sendiri yang sok-sok ngambek. Memang resiko menikahi anak remaja seperti Anjani ini butuh banyak kesabaran. "Kamu istri saya? Mau saya makan!"
Arkan pun tertawa lalu mengigit pelan pipi Anjani. Pipinya sekarang lebih chubby, rasanya Arkan lebih suka melihat istrinya ini lebih berisi. Jadi terlihat lebih cantik.
"Mas ... "
"Apa sayang, mau apa?" Tanya Arkan.
"Aku mau keramas, tapi gak mau mandi."
Arkan mengerutkan dahinya, serius deh Anjani jadi malas mandi akhir-akhir ini, meskipun dia tidak bau badan tapi tetap saja itu membuat Arkan geleng-geleng kepala.
"Mandi, Sayang. Ini sudah 3 hari kamu tidak mandi, tidak gatal-gatal?" Tanya Arkan.
Anjani kembali menggeleng. "Ayoklah Mass, aku mau keramas tapi gak mau mandi, tapi aku mau dikeramasin kamu."
"Sayang bagaimana caranya keramas tapi tidak mandi?"
"Ayoklahh, Mass pikirin."
Mau tidak mau keesokan harinya Arkan harus meminta maaf kepada ayahnya karena mengambil satu ikannya untuk Anjani. Belum lagi ada beberapa yang mati karena terinjak Arkan.
Tapi Abdi tidak masalah sih, toh menantunya sedang ngidam, pasti aneh-aneh kemauannya. Belum lagi Anjani meminta papa mertuanya memanjat pohon jambu di belakang, dia juga tidak marah dan malah semangat mengikuti kemauan menantunya. Tidak heran, dia kesayangan di sini.
"Ayok, Sayang," ajak Arkan.
Anjani tersenyum melihat uluran tangan Arkan dan mengikuti Arkan masuk ke kamar mereka. Saat sampai di sana Arkan mengambil kursi lalu diletakkannya di depan wastafel dan juga mengambil handuk, tidak lupa juga dengan shampo-nya.
"Duduk."
Anjani menurut saja dan percaya dengan apa yang Arkan lakukan. Malah dia terlihat senang sekali saat Arkan memasangkan handuk di leher bagian depannya agar tidak basah.
"Mas ... "
"Apa hm?" Tanya Arkan yang kini sedang mengurai rambut Anjani dengan fokus.
"I love you!"
__ADS_1
"I love you too," balas Arkan seraya mengecup bibir Anjani.
Setelah itu Arkan memasang selang lalu mulai membasahi rambut Anjani, sebagai pegawai salon yang profesional Arkan melakukannya dengan sangat baik.
"Pejamkan matanya agar tidak perih " Anjani menurut, lalu setelahnya dia membiarkan Arkan melakukan tugasnya dengan baik.
Arkan tersenyum saat istrinya nampak begitu senang saat ini, dia juga seperti sedang memandikan anak kecil, karena saking lucunya melihat Anjani tidak mau mandi sampai sebegininya.
"Kamu happy?" Tanya Arkan.
"Heem, aku happy banget. Mas Arkan kok sabar banget sih sama aku?" Tanya Anjani yang kini membuka matanya, bahkan Arkan sampai membersihkan pinggiran rambut Anjani agar Anjani tidak perih matanya.
"Karena kamu istri saya." Arkan terkekeh lalu mengecupi bibir Anjani, membuat Anjani juga ikut terkekeh.
"Serius ih, Mas Arkan!"
"Saya serius, karena kamu istri saya. Jangankan marah, saya melukai kamu saja tidak mau, Anjani."
"Kamu suka gombal banget, diajarin siapa sih?!"
"Autodidak." Arkan membilas rambut Anjani dengan hati-hati, sesekali dia menciumi bibir istrinya tak jarang juga Anjani mengalungkan tangannya pada leher Arkan lalu meminta ciuman lebih.
Arkan mengambil handuk lalu mengeringkan rambut Anjani dan membalutnya. "Saya suka."
"Suka apa?" Tanya Anjani sembari menegakkan tubuhnya.
"Suka kamu yang sedang mode manja begini, terlihat lebih jinak," jawab Arkan.
"Lohhh??!! Emangnya aku biasanya gimana?!" Tanya Anjani sewot.
"Nah seperti ini nih. Galak seperti macam, anak kita harus tau kalau mamanya punya dua mode. Yang satu mode kucing gemas yang satu lagi kucing hutan."
Anjani mencubit perut Arkan gemas. "Aku gak gitu tau!"
"Akhhh awww Anjani sakit, gitu tau!" Kata Arkan mengaduh sambil meledek Anjani.
"Aku gak gitu, aku kalem!" Balas Anjani.
"Kalem kalau sedang keenakan, atau pada saat mende–" ucap Arkan asal.
"Masss!!!" Anjani kembali mencubit perut Arkan.
__ADS_1
Heran deh kenapa Arkan kalau mode mesum begini sangat menyebalkan. Pipinya sudah memerah sekali sekarang. Dia malu sekali, tapi tidak salah juga memang. Karena pada saat seperti itu Anjani hanya bisa pasrah menerima apapun yang suaminya lakukan. Ahhhh Anjani malu sekali!!