I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Kontraksi Tengah Malam


__ADS_3


Malam harinya secara mendadak Anjani mengalami sakit yang sangat hebat pada perutnya. Lalu tanpa berpikir panjang Arkan membawanya ke rumah sakit. Ternyata dokter mengatakan kalau Anjani sedang kontraksi sekarang.


Memang belum pembukaan tapi hal ini wajar dialami oleh ibu hamil. Dengan setia Arkan menemani Anjani di sampingnya. Karena Anjani sangat kesakitan dan menangis, membuat Arkan jadi tidak tega. Ternyata begini ya perjuangan seorang ibu untuk melahirkan? Bahkan Anjani merasakan sakit sampai sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 3 subuh.


Dengan lembut sambil merapalkan doa Arkan mengusap punggung Anjani, sementara Anjani memposisikan dirinya di gym ball. "Akhh, Mass sakit banget. Mules juga, aku gak kuat sakit banget."


"Iya, Sayang sabar ya tahan ayok cari posisi yang paling nyaman," ucap Arkan sambil terus mengusap punggung Anjani.


Anjani yang sudah sangat kesakitan kini menegakkan tubuhnya, keringat sudah bercucuran di wajahnya, ditambah Air matanya yang terus menangis. Kemudian Anjani mengadahkan kepalanya dan mencengkeram erat tangan Arkan. "Masss sakittt, aku gak bohong ini sakit banget."


Serius deh kalau Arkan bisa menggantikan akan dia gantikan sekarang juga, dia jadi merasa serba salah dan takut, dia jadi sedih juga karena melihat perjuangan Anjani untuk melahirkan anaknya sampai sebegininya. "Iya saya paham, saya tau, sekarang mau bagaimana? Apa ini membaik" Arkan mengusap-usap perut Anjani.


Namun Anjani menggeleng dan sesekali meringis karena tidak kuat menahan sakitnya. Berkali-kali Anjani mengalami sakit seperti itu, namun sakitnya memang hilang timbul. Arkan berusaha menghubungi ibu mertuanya karena memang ibunya sedang di luar kota bersama Abdi, tapi tidak diangkat, mungkin karena ini masih pagi.


Jadi mau tidak mau dia harus menangani Anjani sendirian, penuh perhatian dan sabar karena Anjani sangat rewel sekali. Sudah berbagai gaya dia coba, menungging, jalan-jalan, duduk di pangkuan Arkan, duduk di gym ball tapi sakitnya semakin terasa, sampai akhirnya Arkan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Anjani. Karena terlihat sudah pucat sekali menahan sakit.


"Bagaimana istri saya apa akan melahirkan, Dokter?" Tanya Arkan.


"Dari hasil USG posisi bayi sudah tepat, pak hanya saja jalan lahir bayi mengalami pembengkakan," ucap.


"Jadi bagaimana?" Tanya Arkan yang terlihat sekali kalau dia panik sekarang.


"Dengan terpaksa saya harus menyampaikan kalau ibu Anjani tidak bisa melahirkan secara normal, kita lakukan operasi sesar sekarang."


Arkan menghela napasnya, apalagi Anjani menggelengkan kepalanya menatap Arkan seolah tidak mau. Dia dengan jarum suntik saja takut apalagi perutnya dibelah begitu? "Aku gak mau, Mass takut."


"Tidak ada jalan lain, Bu Anjani. Kalau anaknya tidak segera dilahirkan akan membahayakan nyawa ibu dan juga anak ibu."

__ADS_1


Bagaimana kalau sudah begini? Anjani tentu tidak memiliki persiapan mental untuk melahirkan secara sesar karena memang sejak awal tidak ada hambatan. Dia pasti stress juga mendengar ini.


Anjani yang kembali menahan sakit, terus menggeleng tidak mau. Tapi Arkan tidak ada pilihan lain, mau tidak mau ini harus dilakukan. "Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya."


Dokter pun mengangguk setelah itu mereka mempersiapkan ruang operasi dan mendorong brankar Anjani untuk masuk ke ruangan operasi. Arkan tetap menggenggam Anjani ke mana pun dokter membawanya. Tapi Anjani terus meminta agar tidak dilakukan operasi.


Sampai di ruang operasi dan sudah berganti pakaian pun Anjani terus menolak. Astaga apa yang harus Arkan lakukan. Sembari membiarkan dokter melakukan persiapan, Arkan menggenggam tangan Anjani dan bersiap di posisinya.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang Arkan menciumi pipi Anjani. "Jangan takut, ada saya di sini. Kamu pasti bisa, Sayang."


"Aku takut, Mas aku gak mau operasi ya? Aku gak mau dibelek-belekin gitu ya? Aku takut," pinta Anjani.


Tubuhnya bergetar hebat keringatnya semakin bercucuran. Arkan tau Anjani takut sekali sekarang. Namun Arkan terus mencoba memberikan afirmasi positif pada Anjani. "Tidak akan sakit, semuanya akan baik-baik saja. Tatap mata saya."


Anjani menggeleng dan terus menangis, namun Arkan tidak menyerah dan membuat Anjani menatap ke arahnya. "Fokus ke saya saja, anggap saja kamu tidak sedang melakukan operasi ini, oke?"


"Gak bisa, Masss. Ini udah mau dimulai gimana aku bisa tenang, gimana–"


"Kamu tau, Anjani. Katanya menjadi seorang ibu itu adalah kenikmatan yang tiada duanya," ucap Arkan.


"Kamu sudah mengandung sembilan bulan, merasakan morning sick dan mood swing yang mengganggu rutinitas. Belum lagi kamu harus menahan sakit saat kontraksi dan melahirkan. Tapi ... "


"Tapi apa?" Tanya Anjani.


Arkan tersenyum dan menyeka air mata Anjani, kemudian dia kembali mencium kening istrinya itu dengan lembut. "Tapi saat anak kita lahir dan kamu memeluknya, perasan itu semuanya seolah tergantikan. Melihat anak kita selamat, menangis dalam pelukan, itu adalah bagian ternikmat dari melahirkan.


Anjani tersenyum sekilas namun tak selang beberapa lama dia sadar kalau perutnya sekarang sudah dilakukan operasi. Anjani kembali panik, namun Arkan kembali mendekapnya. "Jangan panik."


"Mass perut aku diapain, Mass ... "

__ADS_1


"Tenang, everything Will be fine. Saya di sini, jangan takut. Saya di sini, Sayang."


Anjani terus menangis, perutnya terasa kebas, dia hanya merasakan geli, tapi dia terbayang perutnya yang sekarang sudah banyak darah dan dikuliti seperti itu, dia panik karena itu. Dia parno kalau soal begini.


"Perut aku dirobek."


"Nanti dijahit lagi, kamu kan tidak melihat. Tidak terlihat, kan?"


"Gak keliatan tapi kerasa, aku takut. Mass kalau aku gak bangun lagi, titip anak kita ya. Kalau–"


"Jangan bicara begitu, kamu akan baik-baik saja Kamu akan selamat dan anak kita juga. Kamu kuat, Sayang. Kamu hebat, kamu istri saya yang hebat. Saya yakin kamu akan baik-baik saja " Arkan kembali menciumi istrinya dengan sayang. Kenapa Anjani malah bicara seperti itu, percayalah. Meskipun Anjani yang melahirkan tapi yang paling merasa takut sebenarnya adalah Arkan. Apalagi sesekali dia melirik proses operasi yang dilakukan.


Anjani tidak dapat membendung lagi tangisannya, sekarang dia benar-benar pasrah dengan apa yang akan dokter lakukan dengan terus menggenggam tangan Arkan. Dia berharap kalau dia masih bisa melihat matahari lagi besok.


Sudah hampir setengah jam operasi dilakukan. Tak selang beberapa lama suara tangis bayi menggema di seluruh ruangan, membuat semua orang di sana mengucap syukur akan hal itu.


Oeeek ... Oeeekk.


Mendengar suara itu tangis Anjani pecah, kenapa rasanya bahagia sekali. Arkan yang melihat itu melepaskan tangan Anjani perlahan dan beranjak untuk melihat anaknya.


Anjani pernah bilang kalau dia ingin sekali Arkan yang melakukan skin to skin pertama kali dengan anaknya dan Arkan melakukannya. Ditangkapnya anak kecil mungil itu, lalu dia dekap bersandar pada dasarnya.


"Selamat, anak bapak dan ibu perempuan. Cantik sekali. Selamat ya, Pak." Ucap dokter.


Arkan menganggukkan kepalanya. Darahnya berdesir saat memeluk putrinya pertama kali, seorang bayi kecil dengan kulit yang masih merah dan matanya yang tertutup rapat. Dia sepertinya masih beradaptasi karena masih menangis, tapi Arkan ingin memberitahu pada putrinya saat pertama kali dia lahir, kalau ini adalah pelukan seorang ayah.


Anjani semakin tidak bisa membendung tangisannya melihat itu semua. Apalagi Arkan kini mendekat ke arahnya dan membawa anak mereka kedalam pelukan ibunya. Mereka berpelukan dengan suara haru yang menyelimuti keluarga kecil ini.


"Mas anak kita ... "

__ADS_1


Arkan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia kali ini bahkan tidak menyeka air matanya, menjadi seorang ayah membuatnya bahagia sekali saat ini. "Kamu hebat, Sayang. Terima kasih karena kamu menjadikan saya seorang ayah dari putri kecil kita. Dia manis sekali, Sayang."


Anjani mengangguk dan mengusap punggung putrinya dengan lembut, membuat bayi yang semula menangis kencang, kini dia terlihat lebih tenang dalam pelukan sang ibu. "Ini Mama sama Ayah, Sayang."


__ADS_2