
Siang ini cukup panas mereka sudah dibagi dalam beberapa kelompok dan sedang berdiskusi di lapangan dengan membentuk lingkaran untuk membuat visi misi dan juga yel-yel. Awalnya masih biasa saja, sampai akhirnya salah satu senior datang.
"Heh kamu sini!" Tunjuknya pada Anjani. Sontak itu membuat seisi lapangan menatapnya juga, bayangkan ratusan orang menatapnya, Anjani malu sekali.
Belum lagi senior itu adalah senior yang sama dengan tadi. Dia yang tiba-tiba menegur dan bersikap sinis pada Anjani. Kali ini dia akan melakukan apa lagi, lihat saja kalau dia mencari gara-gara.
"Saya, Kak?" Tanya Anjani seraya berdiri dan menghampiri senior tadi.
"Iyalah siapa lagi! Sekarang, lari keliling lapangan 10 kali!" Perintahnya.
Anjani mengernyitkan dahinya, heran saja kenapa dirinya tiba-tiba disuruh lari keliling lapangan. Tentu teman-teman satu kelompoknya juga heran tapi mereka tidak berani membantah senior. "Sebentar, kenapa saya disuruh lari ya, Kak? Saya gak merasa ngelakuin kesalahan, jadi?"
Senior perempuan itu mendorong bahu Anjani cukup keras, untuk saja ketahanannya terjaga. "What?! Berani kamu membantah saya?!"
Anjani yang merasa diperlakukan tidak baik maju selangkah dan menatap nyalang pada wanita itu. "Berani lah, ngapain takut? Saya berusaha menghargai Kakak sebagai senior saya tapi keterlaluan aja kalau kakak sampai hukum juniornya tanpa alasan. Saya mau jalanin hukuman ini tapi sekarang coba sebutin apa kesalahan saya. Satu saja sebutkan alasannya apa?!"
Anjani jelas emosi, dia pikir dia siapa. Jangan mengira Anjani akan menurut saja diperlakukan semena-mena seperti itu, Anjani bukan orang yang lemah. Kalau memang tidak bersalah untuk apa juga takut.
"Ini nih calon-calon mahasiswa pembangkang dan gak taat aturan, kamu ospek itu untuk dilatih mentalnya, kamu ospek di sini untuk menyesuaikan diri di lingkungan kampus!"
"Saya tau tapi apa menghukum orang tanpa alasan itu disebut pengenalan kampus?!" Tanya Anjani semakin kesal.
Suara riuh dari sana ternyata mengundang panitia yang lainnya untuk datang menghampiri mereka. Semuanya menatap Anjani dengan tajam seolah dia tersangka di sini. Sungguh Anjani tidak suka dengan ini semua.
"Ada apa sih, Zev?" Tanya senior yang Anjani ketahui bernama Delard.
"Anak baru ini gak ada sopan-sopannya banget, nyolot!" Ucapnya yang sontak membuat mereka kembali merasa marah pada Anjani. Tapi ditatap seperti itu bukannya takut Anjani malah semakin merasa ditantang.
Tiba-tiba seorang pria tinggi besar menghampiri Anjani dan menyambar nametag yang Anjani pakai, di saku kemejanya. Sungguh tidak sopan. "Hei, Kak! Gak bisa sopan sedikit?!
"Clarissa Putri Anjani, anak fakultas psikologi," cemoohnya.
__ADS_1
Karena kesal Anjani mengambil paksa apa yang memang menjadi miliknya, membuat orang-orang yang ada di hadapannya nampak semakin emosi. Tapi tidak peduli juga, ya tidak sopan loh dia bersikap seperti itu meskipun kakak tingkat. Memang mereka siapa bisa memperlakukan Anjani seenaknya?
Seperti bensin yang dipatik api, pria itu terbakar emosi dan hendak melayangkan pukulan pada pipi Anjani, tapi alih-alih menghindar Anjani malah mendekatkan wajah dan menepuk-nepuk pelan pipinya. "Mau pukul, kan? Pukul aja kalau Kakak ngerasa banci!"
Anjani kembali menatap nyalang, sungguh dia tidak takut apa yang akan terjadi di persekian detik berikutnya. Karena kalau dia terluka Arkan pasti tidak akan membiarkan itu terjadi kok, Arkan pasti akan membalasnya. Tidak salah kan kalau menggunakan power suami dan ayah mertuanya?
Pria itu semakin emosi karena ocehan Anjani, dia semakin mantap untuk menghantam wajah gadis kecil itu namun ...
"Berhenti!"
Suara itu berhasil membuat semua orang beralih menatapnya. "Turunin tangan lu!"
Pria itu dengan lantang bersuara dan menghampiri mereka. "Mau apa lu?!"
"Saka, ini loh anak baru kurang ajar. Ngelawan kita-kita," ucap Zeva.
"Bener songong banget!" Timpal Jessika.
Saka menatap Delard, namun pria itu hanya mengedikan bahunya, sejujurnya dia hanya ikut-ikutan saja. Kini tatapannya beralih pada Bima. "Perlu lu lakuin kekerasan?!"
"Memang apa sih masalahnya?" Tanya Saka.
Mendengar itu langsung saja Anjani bicara, ini kesempatan untuknya, kan? "Saya gak ngelawan, emang salah kalau saya gak mau dihukum? Apalagi dihukum keliling lapangan 10 kali tanpa alasan yang jelas. Saya mau tanya sama Kak Saka, emang bener selama ospek kita harus nurut dihukum walaupun kita gak salah?"
"Siapa yang hukum kamu?"
"Orang ini." Anjani langsung menunjuk Zeva yang kini nampak kaget karena ya berani sekali loh Anjani menunjuknya seperti itu?
"Bener, Zev?"
"I-iya," cicitnya, Anjani mencibir. Dih beda sekali kelakuannya dengan yang tadi songong dan sok benar di hadapan Anjani. Menggelikan sekali.
"BARIS!! SEMUA PANITIA BERKUMPUL DI HADAPAN SAYA SEKARANG JUGA!"
__ADS_1
Mendengar instruksi itu semua panitia menurut. Bahkan mereka bungkam. Tak terkecuali Bima. "Lu kenapa dah, Ka–"
"Saya bicara di hadapan kalian sebagai Presma Kampus!" Tegasnya..
Semua panitia nampak menunduk. Sementara Anjani menatap mereka dengan penuh kemenangan, salah sendiri mereka berani-beraninya begitu pada Anjani. Apa perlu ya dia memanggil papa mertuanya ke sini? Pasti seru. Ya begitulah Anjani kalau tengil.
"Kalian ini ada apa? Sudah saya bilang ospek kali ini lurus-lurus saja! Kita mainnya sehat, tidak ada hukum menghukum tanpa alasan, tidak ada bullying, tidak ada perpeloncoan! PAHAM, KALIAN!" Ucap Saka tegas.
Dia bahkan nampak frustrasi karena tingkah anggotanya, terlihat wajahnya sudah mulai memerah menahan emosi beserta rahangnya yang mengeras. Sorry, tapi Anjani tidak bisa ya menjadi mahasiswa baru yang lurus lurus saja.
Mereka juga nampak diberi beberapa wejangan dan kalau Sama sudah mode seperti ini, tidak ada yang berani melawan sang prema kampus. Semuanya hanya mengangguk patuh, padahal yang salah di sini adalah beberapa oknum saja. Kasian sih.
Setelah itu panitia dibubarkan dan kembali menjalankan tugasnya sementara Saja kini menghampiri Anjani. "Kamu tidak apa-apa?"
Anjani menggeleng. "Tidak, Kak. Aman kok selebihnya."
"Ya sudah lanjutkan tugas yang panitia berikan, kalau kejadian seperti ini terulang kamu bisa lapor saya," ucap Saka ramah.
Zeva melihat itu tak suka, iya ternyata karena kejadian di auditorium lah yang membuat dia kesal pada Anjani. Padahal Anjani kan tidak melakukan apa-apa.
Setelah Saja pergi Anjani menatap Zeva dengan wajah tidak ramahnya. Lalu Anjani menjulurkan lidahnya, membuah wanita dengan rambut sebahu itu mengetak kesal, Anjani kok dilawan. Kena, kan!
Anjani kembali duduk di samping Shella yang kini menatapnya takjub. "Gila, kamu berani banget Anjani. Kalau aku jadi kamu aku lakuin lah hukumannya."
"Kamu salah kalau punya pemikiran kaya gitu. Ngapain juga takut kalau kita gak salah, ya ada mereka malah nindas kita," ucap Anjani.
"Serem tau," ucap Dion yang kini mengusap-usap lengan Anjani berusaha menenangkan.
"Gak boleh takut lagi mulai sekarang, Kak Saka juga udah bilang kalau ospek kali ini luru-lurus aja, jadi kalau ada senior yang kaya gitu laporin aja ke dia," kata Anjani.
"Aaaaaa Kak Saka itu keren banget deh. Kaya kharismatiknya tadi keluar, ahh aku makin suka. Tapi gimana kalau dia suka sama kamu, Jan?"
Anjani mengernyitkan dahinya. "Ngapain suka sama aku? Engga lah, dia emang baik aja. Yaudah sih kenapa jadi bahas Kak Saka. Yel-yel kita belum selesai."
__ADS_1
Dan akhirnya karena kejadian itu Anjani harus berperan besar menjadi ketua kelompok, padahal Anjani tadinya ingin menjadi mahasiswa biasa-biasa saja. Tapi setelah semuanya terjadi nampaknya tidak akan bisa.