
Pelajaran olahraga, seperti biasa Anjani sangat malah mengikuti mata pelajaran itu, tapi ternyata dari sudut sana Arkan sudah menjaga lorong kantin, menyebalkan sekali. Kalau begitu tandanya dia harus mengikuti pelajaran olahraga.
Jadi dengan terpaksa Anjani berjalan ke arah lapangan, namun tiba-tiba segerombolan murid perempuan mengerumuni Arkan. Ya karena memang belum masuk sih, jadi ya wajar kalau mereka berebutan untuk salam pada guru tampan di sekolah mereka.
Kalau soal salam ya Arkan tidak bisa menghindar, dia guru dan sebagai guru juga dia harus bersikap seperti guru. Guru kan memang seperti ini, jadi seharusnya juga Anjani paham dengan kondisinya.
'Pak emang iya bapak punya pacar?'
'Pak spill dong pacarnya?'
'Pak aku bawa makanan buat bapak, mau gak?'
'Ihh Pak Arkan ganteng banget, pacarnya kaya gimana ya?'
'Pak tunjukin pacarnya dong atau bapak gak punya pacar ya?'
Anjani mencibir, kenapa juga harus se-kepo itu dengan urusan percintaan gurunya. Kenapa sampai harus dekat-dekat. Oh dia tau alasan Arkan menjadi guru, karena dia memang suka tebar pesona!
Anjani mendelik kan matanya setelah itu menghentak-hentakkan kakinya pergi ke lapangan, ini masih pagi tapi rasanya panas sekali. Dia jadi ingin berendam di kutub Utara kalau begini.
Arkan menghela napas melihat kelakuan istrinya, wajahnya terlihat kesal, tapi ya bagaimana? Dia tidak bisa menghindar kalau soal salaman, tapi setelah itu dia menghindar kok dan masuk ke ruangan. Karena sebenarnya Arkan di luar sebelum jam masuk adalah memastikan Anjani pergi ke lapangan olahraga.
Dia juga harus memastikan istrinya baik-baik saja, karena baru pulih. Bukan karena dia ingin tebar pesona.
"Kenapa sih?" Tanya Nanda yang melihat wajah murung Anjani. Bukan murung, tapi lebih tepatnya gadis itu seperti uring-uringan tidak jelas.
"Gapapa," jawab Anjani sekenanya.
"Cemburu liat Pak Arkan ya?" Tebak Della seraya menyenggol lengan Anjani.
"Engga!" Bantah Anjani dengan cepat, dia tidak cemburu kok, hanya kesal saja.
"Katanya cinta itu karena terbiasa loh, Jan. Seseorang bisa bikin kita jatuh cinta karena kita terbiasa sama dia. Bisa jadi kamu udah suka sama Pak Arkan tapi kamu terus denial, Padahal menurut aku kalau kamu suka sama Pak Arkan itu wajar, cuma kamunya aja yang gengsi," ucap Nanda.
"Tapi engga loh, aku gak tau kenapa susah aja bilangnya. Kamu tau sendiri waktu sama Bagas kayanya aku gamblang mengutarakan sesuatu, kaya i love you, i miss you, iya kan? Jadi aku simpulin kalau aku gak suka, cuma karena ya baper aja."
Della mengangguk-nganggukan kepalanya. Mereka duduk diujung lapangan jadi ya tidak ada yang mendengar juga. "Itu karena kamu kaget gak sih, Jan. Kamu biasanya bucin duluan terus dibucinin sama orang sampai se-begitunya."
"Maksudnya?" Tanya Anjani tak paham.
"Tanpa kamu sadar hubungan kamu itu dulu toxic, banyak masalah. Tapi karena kamu public relationship jadi kamu push diri kamu buat baik-baik aja. Jangan lupa loh cewek bisa bilang i love you tanpa perasaan," jawab Della.
Anjani berpikir, tapi tidak begitu kok yang dia rasakan. Dia memang suk saja bilang begitu dulu, berarti dia menyukai Bagas, kan? "Aku cinta kok sama dia, ya pada waktu itu maksudnya."
"Anjani, kamu tau dia suka kasar?" Tanya Nanda.
__ADS_1
Anjani mengangguk. Kemudian Nanda menghela napasnya dan kembali menatap Anjani. "Tau dia suka marah gak jelas, suka ninggalin kamu tanpa alasan dan over posesif?"
"Tau, semuanya aku tau dan aku sadar juga."
"Tapi kamu berusaha abaikan kesalahan dia dan bertahan sama dia karena takut dia ninggalin kamu, iya kan? Karena kamu udah jadiin dia rumah, jadiin dia tempat pulang di saat kamu lari dari dunia nyata."
"Kamu bukan cinta sama dia, tapi kamu cuma takut ditinggal meskipun udah gak ngerasain apa yang namanya cinta yang bener-bener kamu rasain dari hati," lanjut Nanda.
"Yaps, karena cinta itu gak ada kata tapi. Aku cinta dia tapi dia begini begitu, tapi aku tetap bertahan karena aku cinta dia. Gak gitu konsepnya, Jan. Kamu cinta dia karena kamu emang merasakannya, bukan karena takut ditinggalin."
"Dan itu yang lagi kamu rasain, kamu cinta sama Pak Arkan tapi kamu gak tau alasannya, kan?"
Anjani terdiam, ya benar sih. Dia memang tidak tau alasannya apa mencintai Arkan sampai-sampai dia bingung dengan perasaannya sendiri. Tapi ya sudahlah, jalani saja apa yang ada sekarang.
.
.
.
Berlari mengitari lingkungan sekolah, ah rasa-rasanya Anjani lelah sekali, sesampainya di depan gerbang sekolah Anjani segera masuk untuk berlari ke kelas, namun ada pemandangan yang membuatnya kesal.
Manda turun dari mobil Arkan bersamaan dengan Arkan yang juga kini turun dari mobilnya. Anjani melihat itu langsung mengepalkan tangannya. Ini apalagi sih? Yang tadi saja belum beres kesalnya, sekarang ditambah lagi.
Anjani menarik napas panjang dan mencoba menghiraukan Arkan. Dia berlari masuk ke dalam, namun dia tidak sadar kalau tapi sepatunya lepas dan akhirnya berujung jatuh dan membentur aspal.
Suara Anjani berhasil menginstruksi Arkan dan membuatnya berbalik, melihat itu jelas dia panik. Jadi tanpa sepatah kata pun Arkan menghampiri Anjani yang sedang mengaduh di sana.
"Anjani!!" Arkan berjongkok dan memeriksa keadaan Anjani. Membuat Manda juga menghampirinya.
"Ya ampun kenapa kamu bisa jatuh, Jan?" Tanya Manda santai.
Udah jatu pakai ditanya segala kenapa bisa jatuh, ingin rasanya Anjani berteriak di depan guru genit itu kalau jatuhnya ya karena sudah takdir harus jatuh. Kenapa bertanya segala sih? Bikin kesal saja.
Anjani tak menghiraukan mereka berdua, dia berdiri namun kepalanya pusing, Arkan yang melihat itu langsung saja menggendong Anjani Ala brydal untuk membawanya ke UKS, masalahnya hidungnya juga mimisan.
Dia baru sembuh, belum lag berlari dan sekarang terjatuh. Ada saja memang yang selalu membuat Arkan khawatir sampai dia tidak peduli dengan tatapan-tatapan penasaran ke arahnya.
"Pakkk!!"
"Diam, kamu harus ke UKS!" Tegas Arkan dan langsung masuk ke ruangan itu untuk mendudukkan Anjani di brankar.
Arkan berdecak melihat Anjani yang mengelap hidungnya dengan tangan, sudah tau dia mimisan. Dengan segera dia mengambil tissue dan menyumbat lubang hidung Anjadi dengan tissue.
"Kepalanya ngadah ke atas."
Anjani menurut saja kepada suaminya itu, ya pasalnya dia rewel sekali. Padahal Anjani bisa kok mengobatinya sendiri. Dia tidak tau saja kalau Anjani sedang menahan kesal padanya.
__ADS_1
"Sudah makan?"
Anjani mengedikan bahunya, dia malas bicara dengan Arkan. Malas sekali, rasanya perasaannya dongkol begitu saat melihat wajah Arkan.
"Anjani ... "
"Ya udah tadi pagi, Pak Arkan keluar aja sih. Aku bisa sendiri!"
"Tidak mau sebelum memastikan kamu baik-baik saja," tegasnya.
"Aku baik-baik aja!" Anjani bersikukuh agar Arkan keluar dari ruangan ini. Dia tidak mau bertemu dengan Arkan.
"Tidak mau!" Arkan tentu tidak mau kalah, dia kepala keluarga, dia justru harus lebih tegas dari Anjani. Jadi tidak ada yang bisa menganggu gugat untuk hal itu.
"Nanti diliat orang ih, kenapa sih?! Aku baik-baik aja, udah kan? Aku baik!" Kesal Anjani. Keras kepala sekali suaminya, ingin rasanya Anjani menepuk kepalanya tapi takut tidak sopan. Padahal keinginannya sudah menggebu-gebu.
"Baik-baik tapi kenapa marah begitu? Kenapa uring-uringan? Memang kamu pikir saya tidak khawatir, Anjani? Kalau kamu marah sama saya oke, tapi jangan paksa saya untuk meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini!"
Anjani terdiam dan membiarkan Arkan menarik kursi di samping brankar-nya dengan sebuah kotak P3K di tangannya. Ini yang di maksud Arkan, kaki Anjani terluka jadi dia harus mengobatinya dulu. Baru dia bisa lega dan meninggalkan Anjani di ruangan ini.
Perlahan dia membersihkan luka Anjani dengan alkohol, membuat Anjani sedikit meringis kesakitan. "A-a-awww, Pak!!"
"Maaf-maaf kamu tahan sedikit." Arkan memelankan gerakannya menjadi selembut mungkin setelah itu dia meneteskan obat merah di sana.
Luka tidak baik kalau diberi plester karena akan lama keringnya, jadi begini lebih baik. Anjani menatap ke arah Arkan yang fokus mengobatinya sembari membatin.
Sebenarnya perasaannya ini bagaimana sih? Kagum kah? Suka kah? Atau hanya perasaan yang singgah karena melihat kebaikan dan ketulusan Arkan?
"Kamu marah sama saya?" Tanya Arkan seraya menggenggam kedua tangan Anjani dengan erat.
Pintu UKS tertutup dan mereka juga tertutup oleh tirai jadi Arkan rasa aman, lagi pula kalau ketahuan juga tidak apa-apa, karena sebenarnya dia tidak bisa mengontrol dirinya kalau soal Anjani. Apalagi kalau dia terluka.
"Engga, ngapain marah?"
"Lalu kenapa wajahnya begitu? Saya melakukan kesalahan? Kalau kamu kenapa-kenapa ya bicara sama saya, saya suami kamu dan pasti saya akan mencoba memahami apa yang kamu rasakan."
Anjani hanya diam, tapi sebenarnya bukan karena dia marah. Dia hanya tidak tau apa yang sedang dia rasakan, dia kesal saja melihat Arkan bersama Manda, apalagi kursi di mobil Arkan itu kan miliknya, dia tidak suka!
Arkan menciumi tangan gadisnya dengan lembut, baik kalau dia belum mau bicara tidak apa-apa, Arkan akan selalu berusaha mengerti dengan semua sikap kekanak-kanakan Anjani, dia akan selalu memposisikan dirinya menjadi seseorang yang paling sabar kalau menghadapi Anjani yang banyak gengsinya.
"Yasudah kalau tidak mau bicara."
Arkan tersenyum lalu berdiri di hadapan Anjani. Perlahan dia tersenyum dan memeluk istrinya dengan sayang. "Maaf ya, sudah bikin kamu kesal? Maaf kalau saya melukai perasaan kamu atau apapun itu."
Arkan tersenyum lagi lalu mengecup bibir Anjani. "Saya ada kelas dan harus kembali mengajar, kalau kamu masih pusing diam di sini saja. Saya tinggal ya?"
Mendengar itu Anjani menghela napas lalu mengangguk, setelah mendapat persetujuan sang istri barulah Arkan bisa meninggalkan ruangan itu. Membiarkan Anjani berkutat dengan pikirannya.
__ADS_1
"Ah kenapa sih susah banget bilang kalau cemburu?!" Gerutu Anjani pada dirinya sendiri, padahal kalimat itu rasanya sudah memenuhi kepala Anjani tapi tidak bisa dicerna dan diungkapkan. Dia bahkan baru menyadari dia cemburu setelah kepergian Arkan. Menyebalkan sekali ternyata menjadi seorang Anjani.