I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Kehebohan Di Sekolah


__ADS_3


Sudah cukup dengan liburan setitik Anjani dan Arkan, kini mereka harus kembali ke sekolah. Tapi kali ini Anjani senang saja, apalagi saat dia melewati Mading sudah terpasang berita kalau Arkan menikah. Meskipun mereka tidak tau kalau istrinya Anjani tapi tetap saja Anjani menyukainya.


Saat Anjani akan melanjutkan langkahnya tiba-tiba datang dua orang guru muda ya siapa lagi kalau bukan Manda dan Juga Restia. Guru muda yang selalu menempeli Arkan kalau menurut Anjani.


"Yah kasian Bu Manda keduluan," ucap Anjani sok prihatin.


"Duh apasih kamu Anjani, ibu itu gak kenapa-kenapa," balas Manda sok tegar.


"Sedikit tegar banyak patah hatinya," ledek Restia.


Anjani ikut terkekeh entahlah dia merasa menang saja dari Manda yang sejak kemarin gencar mendekati Arkan. Sangat menyebalkan, belum lagi soal datang ke rumahnya. Gesit sekali pergerakannya.


"Gapapa, Bu bukan jodoh. Pak Arkan kan baik jadi dia juga pasti dapet jodoh yang terbaik, Ibu gak usah khawatir," ucap Anjani, namun itu bukan seperti nada menenangkan. Itu malah membuat Manda overthinking.


"Emang ibu kalah cantik dari istrinya Pak Arkan ya, Anjani?" Tanya Manda.


Anjani mengulum tawanya, aduh kenapa lucu sekali ya? Tentu dia akan membanggakan dirinya sendiri lah. "Tapi kalau boleh jujur istrinya pak Arkan cantik banget sih, Bu. Kayanya juga lebih muda. Maaf banget."


Manda menghela napasnya, memang benar sih. Tapi itu membuat hatinya sakit, jadi Manda memutuskan untuk pergi dari sana dan menuju ruang guru.


Anjani tertawa puas saat Manda sudah menjauh dari sana. Rasakan, siapa suruh Manda mendekati suaminya Anjani, kalau sudah begini bukan salah Anjani kalau Manda sakit hati. Ya namanya juga remaja, egonya tinggi dan selalu ingin menang.


Anjani melirik ponselnya, ada pemberitahuan Arkan update snapgram. Jadi penasaran, karena tidak biasanya om-om itu bermain Instagram.



Anjani mengulum senyumnya, ini masih pagi dan Arkan membuatnya salah tingkah, bolehkah dia lompat-lompat di sini? Kenapa sih Arkan itu meresahkan perasaannya sekali. Itu adalah photonya saat liburan kemarin, Arkan banyak sekali mengambil gambarnya, taunya dia posting.


Tapi dia memposting dengan menyembunyikan. wajah Anjani, ya seperti mengambil photonya dari belakang begini. Katanya : Kenapa harus malu dipamerkan oleh saya? Dipamerkan itu karena merasa beruntung memilikinya. Bikin senyum-senyum saja manusia yang satu ini.


Baru saja di-posting, Arkan yang keluar dari kantornya sudah dikerumuni banyak penggemarnya. Ya untuk apalagi kalau bukan untuk menanyakan soal ini?

__ADS_1


Kali ini Anjani tidak cemburu, dia malah memperhatikan mereka sambil bersidekap dada, bibirnya tersenyum melihat pertanyaan-pertanyaan mereka pada suaminya. Ya hiburan juga pagi-pagi begini. Rasanya Arkan sudah cocok menjadi seorang publik figure atau artis kalau begini.


Pak spill istrinya dong?


Pak istrinya cantik banget, kenapa gak di bawa ke sekolah?


Pak kapan nikahnya kok gak ngundang?"


Sosweet banget pak Arkan, tipe cowok romantis gak sih? Isi instagramnya soal istrinya. Jadi mau.


Ya begitulah bunyi pertanyaan mereka, sementara Arkan hanya tersenyum sedikit dan tidak menjawab apa-apa. Karena memang harus ada batasan antara murid dan guru. Kalau disuruh memperkenalkan tentu Arkan belum bisa, jadi dia seadanya saja.


Melihat itu Anjani sudah merasa aman, jadi dia kembali ke kelas saja. Namun ...


Kaya kenal gak sih? Kok istrinya pak Arkan kaya gak asing?


Muda gak sih? Apa jangan-jangan istrinya pak Arkan itu masih muda atau baru lulus SMA?


Mendengar itu Anjani menahan napasnya, dia harus pergi dari sini sebelum ada cocoklogi yang mereka tuju padanya. Kan gawat kalau sampai ketahuan.


Anjani berlari ke dalam kelas, melihat Della yang sudah datang ternyata dengan tatapan menggoda Anjani. "Cieeee, dipublish nih ceritanya?"


Anjani terkekeh dan langsung duduk di sebelah Della. "Apasih itu Pak Arkan tau yang kepikiran, aku mana kepikiran ke sana."


"Pak Arkan itu orangnya sudah ditebak gitu ya?" Tanya Della.


Anjani mengangguk, memang begitulah Arkan. Selalu diluar dugaan tapi mampu membuatnya senyum-senyum sendiri. Ada perasaan di mana rasanya Anjani lebih dari sekedar jatuh cinta.


"Cieee, Salting pasti. Gapapa suami sendiri, kalau banyak baper lebih bagus buat hubungan kalian."


"Menurut kamu aku keliatan lebih bahagia sama Pak Arkan atau sama Bagas?" Tanya Anjani pada Della. Jujur dia ingin tau saja pendapat orang lain tentang dirinya.


Karena takutnya dia membedakan antara Arkan dengan perlakuannya pada Bagas yang dulu. Anjani tidak mau Arkan merasa begitu. Mendengar itu Della tersenyum, dia paham kok apa yang ada dipikiran Anjani.

__ADS_1


"Kamu selalu nutupin masalah sama Bagas kalau lupa jadi selalu keliatan bahagia. Tapi sejujurnya kamu keliatan lebih bahagia sekarang dan aku ngerasa kamu lebih bahagia dari sebelumnya," ucap Della.


"Tau darimana?"


"Dari cara kamu ceritain pak Arkan. Kamu gak pernah tuh cemburuan kalau sama Bagas, padahal fans dia banyak juga sebagai pemain bola. Tapi kamu biasa aja tuh."


"Cemburu tuh tandanya cinta banget?"


Della mengangguk antusias, memang kalau masalah seperti ini Anjani itu lemot satu turunan sepertinya. Dia sulit membedakan perasaan yang dia rasakan sampai akhirnya dia tidak sadar kalau dia memang sudah sangat mencintai Arkan.


Anjani juga heran sih sebenarnya, dia jadi lebih to the point, bersama Arkan dia bebas untuk mengutarakan segala yang dia rasakan dan itu membuatnya lega. Rasanya seperti pulang ke rumah.


Percakapan mereka terhenti, ternyata pelajaran sudah di mulai, kali ini tentu pelajaran Arkan. Namun anehnya dia tidak langsung membuka bukunya melainkan berdiri di depan dengan sesekali menatap cemas ke arah istrinya.


Anjani menatap Arkan keheranan, kenapa ya? Ada apa? Sejenak Arkan menarik napasnya dalam. Apalagi ponsel mereka mulai berbunyi karena ada notifikasi Twitter lambe turah sekolah.


Mata Anjani membulat saat melihat berita yang ada di sana. "Nanda ... "


"Hari ini salah satu teman kalian tidak bisa meneruskan pendidikannya karena mengundurkan diri dari sekolah, saya harap apapun berita yang tersebar luas dan apa yang kalian ketahui, kalian tetap mendukung dan mensuport Nanda sebagaimana mestinya."


"Pak, di mana Nanda?" Tanya Anjani seraya mengangkat tangannya.


Arkan tidak menjawab, membuat Anjani kini tanpa pamit keluar bersama Della untuk melihat apakah Nanda ada di sekolah ini atau tidak. Arka menghela napas, dia sudah tau kalau reaksi Anjani akan seperti ini.


Akhirnya dia harus menyusul Anjani dan Della karena takut terjadi apa-apa. Di sisi lain Anjani dan Della sudah tidak bisa membendung air mata mereka dan berlari ke arah gerbang. Namun tidak ada siapapun di sana karena tepat saat mereka keluar, mobil Nanda sudah menjauh dari sekolah.


Anjani lemas, dia berjongkok seraya menenggelamkan wajah di telapak tangannya Nanda juga tidak kuat sebenarnya. Ya bagaimana tidak, Nanda harus berhenti sekolah karena kehamilannya dan dia merelakan 2 tahun kerja kerasnya selama ini.


Nanda memeluk Anjani, berusaha untuk saling menguatkan di keadaan yang sangat sulit ini. "Kenapa aku selalu jadi orang yang gagal buat perjuangin temen-temen aku."


Nanda mengusap punggung Anjani, bukan salahnya memang. Tapi mereka juga merasa bersalah akan keadaan yang seperti ini. "Aku juga gak nyangka kalau akhirnya bakalan kaya gini, aku gak tau, Jan."


Mereka berdua semakin mengeratkan satu sama lain. Padahal mereka sudah berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan ini semua.

__ADS_1


__ADS_2