
Malam ini Anjani memakai setelan set training berwarna hitam dan juga kaos putih polos. Tidak lupa juga dia memakai hoodie berwarna sage. Hoodie ini sepasang sih, dia memilih ini sebagai hoodie couple untuknya dan Arkan minggu lalu. Jadi tidak ada Arkan pun terasa ada karena hoodie ini membuatnya dekat dengan suaminya itu.
Semua pria nampaknya terpesona saat Anjani masuk ke dalam lingkaran. Apalagi rambutnya yang diikat satu dengan poni yang manis dan sapuan make up natural terlihat sesekali Anjani paling menonjol di sini.
Namun seperti biasa, Anjani adalah orang yang paling cuek dan tidak mau tau sih. Jadi dia bersikap biasa saja dan mengabaikan tatapan-tatapan yang tertuju padanya.
"Oke selamat malam semuanya, hari ini kita bakalan seru-seruan nih. Nanti kita akan ada penampilan bakat, games dan juga tukar kado. Waahh seru nih pasti kalian semangat tidak?" Tanya sang pembawa acara.
"Semangattt!!" Teriak mereka semangat.
Suasana yang hening kini menjadi riuh karena MC sudah memulai acaranya. Anjani sedikit tersenyum, ya ternyata tidak buruk juga acaranya. Dia bisa menikmati apalagi sekarang banyak penampilan bakar dari beberapa mahasiswa.
Ada stand up comedy, dance, bermain biola dan banyak lagi. Seru sekali meskipun memang dingin sekali sih di sini. Tapi Anjani enjoy kok menikmati acara malam ini.
"Oke, itu dia penampilan puisi dari Amanda. Nah sekarang siapa lagi yang mau menampilkan bakatnya, masih tersisa satu slot dan setelah itu kita games."
Mendengar itu Anjani memberanikan diri untuk maju. Tapi sebelum itu dia meminta Shella untuk merekamnya. Kali ini dia akan bernyanyi dan lagunya tentu ditujukan untuk Arkan. Pasti suaminya akan bangga padanya karena berani unjuk gigi. Caper sama suami tidak salah, kan?
"Oke ada si cantik Anjani nih yang akhir-akhir ini jadi perbincangan ya. Mau tampilin apa beb?" Tanya Teressa. Dia memang ramah sih, Anjani sering bertegur sama dengannya.
"Mau nyanyi."
"Nyanyi lagu apa nih, pasti buat orang spesial," ucap Teressa memancing.
"Fine today – Ardhito Pramono." Anjani mengambil gitar yang sudah di sediakan di sana.
"Waww main gitar juga kurang idaman apa nih. Yaudah kalau gitu kita tampilkan, Clarissa Putri Anjani!"
Semua orang bertepuk tangan, membuat Anjani duduk di kursi lipat yang berada di tengah tengah lingkaran itu. Anjani mulai untuk memposisikan gitarnya. Sebenarnya dia belum handal sih tapi Arkan yang mengajarinya jadi dia percaya diri saja.
Anjani menghela napas lalu mulai untuk memetik senar gitarnya.
We will find a way
To be honest make no mistake
Sometimes I pray
__ADS_1
Tell me how to make you stay
And you always going to be the one for me
Suara itu mengalun indah dan membuat semua orang menikmati permainan gitar dan suara Anjani. Terutama Saka yang kini menatap Anjani dengan kagum. Sudah cantik, pandai bermain gitar dan bernyanyi. Menurut Saja Anjani tipe cewek yang romantis sih.
Yes you saved the day
And you always going to be the one for me
Anjani menyudahi permainan gitarnya, setelah itu dia tersenyum ke arah kamera yang di pegang oleh Shella. Tentu dia akan langsung mengirimkannya pada Arkan.
Suara tepuk tangan pun meriah sekali, tapi Anjani senang bukan karena itu. Tapi karena dia akan menunjukkannya pada Arkan. Kan membuat orang lain salah paham saja ya. Apalagi mereka mengiranya lagu itu ditujukan untuk Saka..
Setelah selesai Anjani pun kembali ke barisannya dengan suka cinta. Shella memberikan ponsel Anjani lalu memeluknya. "Kerennnnn!!!"
"Thank you," balas Anjani dengan senyum.
MC pun kembali mengambil alih acara dan Anjani fokus pada ponselnya dan mengirimkan video yang tadi di rekam pada Arkan.
^^^Anjani sent video^^^
^^^Pasti udah tidur, gapapa deh. Aku mau bilang aku berani tampil. Lagunya buat Mas. ❤️^^^
Sebentar saya lihat videonya
Tunggu, kenapa cantik begitu?
Tidak rela membagi istri saya dengan yang lain.
^^^Punya kamu aja 😗^^^
^^^Yaudah aku lanjut acara dulu ya, Mas.^^^
^^^Kamu jangan begadang ih!^^^
Anjani kembali menutup ponselnya dan mengikuti acara. Ternyata sekarang acaranya adalah truth or dare. Sebuah ranting pohon akan diputar mengeliling dan di mana ranting pohon itu berhenti dia yang mendapatkan pilihan kejujuran atau tantangan.
Acara berjalan cukup baik dan seru, apalagi jika ada yang memilih dare. Bahkan ada yang secara terang terangan confess atau melakukan hal lucu. Ada juga yang menyatakan perasaan kagum pada Anjani dan Anjani hanya membalasnya dengan terima kasih. Karena mau setampan apapun mereka semua kalah dengan Mas Arkannya Anjani.
__ADS_1
Suara musik terus berbunyi, entah siapa kali ini yang akan menjadi korbannya dan ternyata ranting pohon itu berhenti dintangan Anjani. Riuh tepuk tangan menggema. Anjani tidak takut sih, dia akan melakukan kejujuran atau tantangan selagi dalam batas wajar.
"Oke-oke, kamu pilih truth or dare?" Tanya Teressa.
"Truth," ucap Anjani. Ya selagi ada yang mudah kenapa harus yang susah lagian jujur itu mudah kok.
"Nahhh sekarang siapa yang mau kasih pertanyaan buat Anjani?" Tanya Teressa.
Banyak yang mengangkat tangannya, namun seperti ingin membantu teman seperjuangannya kini Teressa menunjuk Saka. "Karena Presma kita jarang nanya nih jadi saya pilih Saka. Silahkan, Ka."
Saka berdeham. "Kamu udah punya pacar belum?"
Anjani sedikit menahan napasnya. Nahkan ke sana kan, belum lagi suara riuh mulai terdengar, belum lagi suara siulan menyebalkan. Karena mereka yakin kalau Saka akan menyatakan perasaannya pada Anjani.
"Aku gak punya pacar," ucap Anjani.
Senyum saka mengembang mengetahui hal itu bukankah ini kesempatan bagus kalau Anjani belum memiliki pasangan? Mungkin ini waktu yang tepat.
"Kalau begitu–"
"But i'm married," lanjut Anjani seraya mengangkat telapak tangannya dan memperlihatkan cicin yang melingkar di jari manisnya.
Semua orang yang ada di sana terkejut. Tak menyangka saja Anjani sudah menikah. Teressa dan Saka masih tidak percaya menghampiri Anjani dan meminta Anjani melepaskan cincin itu untuk melihatnya.
Anjani tanpa ragu memperlihatkannya, ini dia memang harus tegas agar kedepannya tidak ada lagi yang mendekatinya terang-terangan begini. Teressa mengarahkan senter ke cincin yang dipegang Saka.
"Giovano?" Gumam Tasya.
Anjani mengangguk mantap dan seketika wajah Saka berubah menjadi sendu. Pantas saja Anjani selalu menjaga jarak darinya. Ternyata dia sudah menikah. Tapi sungguh ini masih sulit di percaya.
"Kok bisa kamu masih mudah loh, kamu–" tanya Teressa.
"Kami dijodohkan sewaktu saya SMA dan sekarang sudah satu tahun menikah," ucap Anjani.
"Are you serious, Anjani?" Tanya Teressa.
"I'm so serious, Kak. I'm officially married with him."
Teressa melihat itu mengangguk-anggukkan kepalanya percaya sih. Anjani tidak mungkin berbohong soal ini, kan? Yah sayangnya itu membuat beberapa hari patah dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
Tapi itu bukan salah Anjani, kan? Sejak awal juga dia tidak pernah memberikan harapan kepada siapa-siapa. Jadi dia rasa aman-aman saja sih dan tidak merasa bersalah pada siapa-siapa.
Saka yang memang mungkin sudah terlalu berharap memutuskan untuk pergi dari sana dengan alasan mengecek fakultas lainnya. Anjani mengerti sih, tapi ya sudahlah bukan urusan dia ini. Lagian dia kalau sakit hati lebih baik sejak awal begini, kan?