
Tadinya mau up 3 bab lagi, tapi cuma bisa 2 bab guys. But, Happy reading~
Pagi ini Arkan harus ke kantor, untung saja di Lombok kemarin Anjani sempat membeli kemeja dan juga jas untuk Arkan di salah satu mall. Karena memang Anjani selalu kalap kalau melihat barang bagus, jadi dia borong dan Arkan bisa memakainya sekarang.
Dia juga nampak sudah fresh dengan balutan dress berwarna putih dengan kupu-kupu yang simpel. Membuat mood Arkan naik saja. "Nanti kamu pulang ke sini kan?"
"Iya sayang, nanti pulangnya saya ke sini lagi. Kan istri saya ada di sini."
"Kali aja nanti kamu pulang ke rumah janda sebelah," ucap Anjani asal.
"Ide bagus."
Anjani membulatkan matanya, memang benar-benar Arkan. Padahal Anjani hanya asal saja tapi dia iyakan. Sementara Arkan terkekeh melihat reaksi istrinya. "Bercanda, ke sini pulangnya. Mau saya bawakan apa?"
"Cogan boleh tuh." Lagi-lagi Anjani menjawab asal, membuat Arkan geram saja.
"Kalau itu boleh tapi kamu saya kurung 7 hari 7 malam di kamar," balas Arkan.
"Ngapain?"
"Enaknya ngapain kalau berduaan di kamar 7 hari 7p
malam?" Ucap Arkan seraya mendekatkan wajahnya pada Anjani.
"Tadarus Al Qur'an!" Anjani terkekeh, dan disambut kekehan juga oleh Arkan. Pagi-pagi bercanda seperti ini ternyata menyenangkan. Biasanya mereka diawali dengan berdebat.
"Jadi mau dibawakan apa?" Tanya arkan lagi. Pasalnya Anjani suka menitip apapun kalau Arkan pergi berangkat ke kantor.
"Mau ... Pizza aja boleh? Yang double cheese sisanya bebas deh. Buat mama sama papa."
Arkan mengangguk-nganggukan kepalanya paham, dia malah setuju kalau membeli pizza, otomatis mereka akan makan bersama lagi dan semakin dekat. "Nanti saya bawakan pesanannya, Tuan Putri."
Anjani menghela napasnya, wajahnya sudah memerah sekarang. "Kamu bisa gak, jangan panggil aku tuan putri?"
"Kenapa?" Tanya Arkan, perasaan tidak ada yang salah dari panggilan itu. Justru terdengar manis saat mengucapkannya.
"Karena aku malu! Nanti aku salting!"
"Harus selalu salting, suka soalnya," jawab Arkan seraya merengkuh pinggang istrinya.
__ADS_1
Anjani membantu Arkan merapikan dasinya dan jasnya. "Jangan ihh, aku maluu. Lagian kenapa suka banget manggil aku Tuan Putri?"
"Karena kamu memang tuan putri saya, ratu juga."
"Udah ah, kemanisan. Nanti aku diabetes lagi!" rutuk Anjani yang menjauhkan tubuhnya dari Arkan dan menyapu jas Arkan seolah ada debu di bahunya.
"Udah rapi suami aku."
Arkan terkekeh lalu mencium bibir istrinya. "Terima kasih, istriku."
Setelah itu keduanya tersenyum dan keluar dari kamar. Di meja makan nampak ayahnya juga sedang bersiap-siap akan berangkat ke kantor.
"Selamat pagi Papa!" Anjani memeluk ayahnya dan Mario mencium pipi putrinya dengan sayang.
"Selamat pagi, Sayang. Wanginya, biasanya kalau sebelum nikah Anjani malas sekali mandi pagi," ledek Mario.
Anjani mengerucutkan bibirnya sementara Arkan ya tertawa saja. Selain dia ternyata ayah mertuanya juga suka kalau menggoda Anjani. Soalnya Anjani menggemaskan sih.
"Ya harus wangi lah, soalnya Mas Arkan itu banyak yang suka. Nanti kalau tertarik sama yang lain gimana?" Tanya Anjani realistis, lebih tepatnya dia mengadu sih karena memang Arkan ini banyak yang suka dan dia kesal.
"Kamu saja," balas Arkan.
"Kimi siji," ledeknya.
Seana juga nampak sedikit tersenyum melihat rumah tangga adiknya itu, lucu sekali ternyata. Dulu dia juga pernah membayangkan akan seperti itu juga dengan kekasihnya, tapi sayangnya semua tidak berjalan sebagai mana mestinya. Dia sudah damai dengan ayahnya dan sekarang dia harus mencari cara agar Anjani juga mau memaafkannya.
Selesai sarapan pagi Mario yang lebih dulu berangkat dan sekarang giliran Arkan. Anjani mengantar Arkan keluar rumah, dia rasanya tidak ingin kalau Arkan pergi hari ini.
"Cepet pulang," ucapnya lagi. Anjani tidak mau kalau sampai suaminya bekerja dan lupa waktu. Nanti ya g ada dia akan lembur dan menghabiskan waktu di kantor.
"Iya, Sayang. Kamu baik-baik sama Mama, sama kak Seana," peringat Arkan mengingat kalau Anjani bilang mereka kalau bertengkar sering Jambak-jambakan.
"Kalau sama orang yang kedua gak janji deh," balas Anjani malas.
"Jangan kasar, Sayang. Saya tidak suka istri saya kasar begitu," kata Arkan lagi.
Anjani berdecak, lebih baik iyakan saja dulu deh. Urusan dilaksanakan atau tidak bagaimana nanti saja saat eksekusi, kalau telanjur kesal jangan salahkan Anjani.
Anjani menyalami suaminya setelah itu Arkan mencium bibirnya sekilas. Namun Anjani masih memajukan bibirnya seolah tidak mau ditinggal. Al hasil Arkan menciuminya berkali-kali sampai Anjani tersenyum.
"Ishh padahal aku mau cemberut sampai kamu gak jadi kerja tau," ucap Anjani.
__ADS_1
"Jangan begitu tau," balas Arkan dengan nada seperti Anjani.
Anjani terkekeh lalu dia memeluk Arkan dan mencium pipinya manja. "Yaudah hati-hati ya, awas kalau mampir kemana mana!"
"Iya, siap. Saya pergi dulu ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Anjani melambaikan tangannya dan perlahan mobil itu keluar dari gerbang. Yah Anjani ditinggal kerja, kenapa dia jadi sedih ya?
Tanpa di sadari dari dalam sana Seana dan Viona menatap ke arah mereka sambil tersenyum. Ternyata saat sedang bersama Arkan Anjani berlipat-lipat manjanya daripada saat sedang akur dengan Mario.
Ya karena mereka tau sendiri Anjani kalau di rumah jutek dan sesarkas apa. Dia itu orang mudah meledak dan blak-blakan. Galak juga, jadi agak heran sebenarnya, meskipun kalau manja itu memang bawaan lahir sepertinya.
"Anjani beruntung ya, Ma," gumam Seana.
"Awalnya dia tidak mau, itu kenapa dia marah sama kamu. Semua ada jalannya, Sayang. Asal kamu mau berubah pasti semuanya ada jalan."
Seana mengerti dan perlahan menganggukkan kepalanya. Ibunya benar, semua orang punya jalannya masing-masing. Dengan diterima lagi oleh ayahnya saja dia sudah sangat bersyukur."
Setelah selesai mengantarkan suaminya, Anjani kembali masuk ke rumah. Dilihatnya Viona sedang asik menonton film kartun bersama Beryl dan tidak ada Seana di sana. Jadi rasanya aman kalau dia ikut bergabung di sana.
Anjani dengan demas berlutut di depan sofa dan menghadap ke arah anak kecil perempuan itu. "Beryl kamu tuh gemes banget, sayang Mama kamu itu gak ada akhlak."
Anjani mencubit pipi anak itu pelan, memang Beryl selucu itu. Ya tidak heran juga Seana itu cantik tapi tetap lebih cantik Anjani kalau menurut Anjani.
"Ehh gak boleh bicara gitu ke anak kecil, Sayang," peringat Viona.
"Ya aku gemes banget tau sama Beryl tapi kesel sama Ibunya. Gak akan aku maafin!" Ucap Anjani kesal.
"Papa saja maafin kakak kamu, masa kamu engga, Jan?"
Anjani mengedikan bahunya, untuk apa juga? Salah sendiri Seana mengajaknya perang duluan. Kalau tidak ada Beryl mungkin dia sudah memakai-maki Seana kemarin di dalam mobil.
"Kamu gak mau punya anak selucu Beryl gini, Sayang?" Tanya sang Mama.
"Aku kuliah dulu, Ma."
"Kuliah sambil hamil kan bisa," ucap Viona.
"Maunya gak dulu, tapi kalau hamil juga yaudah. Ada papanya ini," jawab Anjani asal. Dia tidak mau ambil pusing sih, karena Arkan selalu bilang apapun yang terjadi mereka berdua harus sama-sama menjalaninya dan apapun itu Arkan akan selalu bersamanya.
__ADS_1
Aga sangsi memang membahas hal seperti ini, tapi memang mungkin zamannya berbeda. Jadi pembahasan seperti ini memang sudah fasenya karena Anjani memang sudah menikah, meskipun usianya bisa dikategorikan remaja.