I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Kamu Kecewa Ya?


__ADS_3

100 part, huft perjuangan banget. Jangan lupa follow, like, komen, vote, kasih hadiah atau apapun ya. Biar aku makin semangat tamatinnya. Happy reading~



Anjani keluar auditorium dengan bahagia bersama Arkan. Pasalnya ternyata itu bukan hanya perkenalan donatur atau acara penyerahan beasiswa saja. Tapi itu ternyata adalah acara seminar tentang sukses di usia muda.


Anjani diperkenalkan sebagai istri dan Arkan memperkenalkan dirinya di depan banyak orang dengan versi dan sudut paling baik, dari mulai prestasi, sifat dan yang lainnya. Arkan bahkan mengatakan kalau Anjani adalah motivasinya selama ini..


Siapa juga yang tidak senyum-senyum mendengar itu. Tentunya juga Anjani di beri berbagai pertanyaan tentang bagaimana mengatur rumah tangga sekaligus sekolah. Pokoknya seru! Lebih mencengangkan lagi karena ini disiarkan di berbagai siaran televisi. Jadi semua orang tau sekarang kalau Anjani adalah istri dari seorang CEO muda bernama Arkan Giovano Altair.


Tapi sebenarnya bukan itu yang membuat Anjani senang. Tapi dia bangga pada suaminya, padahal di luar sana mungkin ada banyak yang menyepelekannya karena menjadi CEO karena sokongan orang tua dan semuanya berjalan karena nama baik ayahnya.


Tapi di sana dia membuktikan kalau selama ini dia berusaha keras untuk ada di titik ini sekarang. Dia juga mempunyai latar belakang prestasi yang cukup banyak. Belum lagi soal lomba-lomba atau piagam. Itu sih yang membuat Anjani senang.


"Aku bangga deh sama kamu, Mas," ucap Anjani.


"Bangga karena apa, Sayang?" Tanya Arkan seraya menatap ke arah istrinya tanpa menghentikan langkah mereka.


"Ya bangga aja, kamu berhasi buktiin kalau kamu itu berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri. Aku bangga sama kamu karena kamu emang hebat tanpa bantuan Papa Abdi. Aku seneng dari tadi karena itu," ucap Anjani.


"Saya bukan ingin membuktikan, tapi karena di tanya ya saya jawab," balas Arkan yang memang tidak pernah mau meninggikan diri. Dia memang rendah hati orangnya.


"Tapi itu hebat, makasih ya kamu kenalin aku ke dunia dari sudut yang paling baik, padahal kayanya aku belum sebaik itu deh jadi istri kamu," kata Anjani.


"Kamu memang baik, Sayang. Jadi berterima kasihlah kepada diri kamu sendiri. Bukan sama saya. Kamu itu hebat, pintar karena itu kamu. Bukan karena kamu istri saya."


Mendengar itu Anjani jadi melayang tinggi, entahlah kenapa ya Arkan selalu membuat Anjani merasa setara. Dia tidak pernah menganggap Anjani lemah, tidak apa-apanya atau hal sebagainya. Dia selalu merasa kalau Anjani ya memang hebat. Dia jadi merasa dihargai.


Anjani masih terus tersenyum ke arah Arkan, tanpa sadar dia menabrak pintu kaca yang ada di hadapannya.


"Pfft ... " Arkan menahan tawanya. Bagaimana loh Anjani menabrak kaca sebesar itu.


Sementara Anjani meringis karena merasakan dahinya terbentur kaca cukup keras. "Aawwwhhh, siapa sih yang naro kaca di sini."


"Kacanya memang di situ, Anjani. Kamu yang tidak melihat jalan, makanya jangan fokus melihat ketampanan saya, saya sudah tau sendiri kalau saya tampan."


Anjani mengusap dahi seraya memajukan bibirnya sebar. Ini istrinya kesakitan tapi Arkan malah menertawakannya. Baru saja dipuji, pria ini sudah menyebalkan lagi menurut Anjani.


Arkan menarik lengan Anjani dan mengandalkan gadis itu perlahan. Dengan lembut Arkan mengusap dahi Anjani dan mengecupnya sesaat. "Sudah saya obati. Tidak sakit lagi, kan?"


Anjani mengulum senyumnya, namun pipinya merah merona saat ternyata banyak mahasiswa yang melihatnya sekarang. "YAKKK MASS ARKAN!"


Setelah berteriak begitu Anjani berlari keluar gedung, sungguh dia malu menjadi pusat perhatian begitu. Kenapa ya Arkan ini selalu saja begitu. Dia kan jadi salah tingkah, malu, deg-degan. Pokoknya campur aduk deh!


Arkan yang melihat istrinya berlari begitu malah tertawa. Memang ada-ada saja Anjani. Tadi minta diperhatikan, sudah diberi perhatian dia malah lari terbirit-birit. Untuk Arkan adalah manusia paling sabar yang pernah Anjani miliki.


Setelah selesai dengan urusan di kampus Anjani, Arkan memang masih ada kerjaan. Jadi dia memutuskan untuk membawa Anjani ke kantornya. Sudah lama juga Anjani tidak bermain ke sana.


"Aku udah lama deh gak ke kantor kamu, kamu malu ya bawa aku ke kantor kamu?" Tuduh Anjani.


"Bukan begitu, Sayang. Bukannya beberapa bulan kemarin kamu sibuk ini dan itu?" Tanya Arkan.


Anjani menganggukkan kepalanya. Benar juga sih. "Tapi waktu ada waktu pun gak diajak. Ini pasti kamu malu, kan? Ngaku."


"Malu karena apa?" Tanya Arkan seraya menarik pipi Anjani. Ada-ada saja loh.

__ADS_1


"Malu karena aku suka gosipin kamu sama karyawan kamu," kata Anjani.


Arkan terkekeh, untuk yang satu itu tidak heran sih. Anjani memang selalu menceritakan tentang dirinya kepada karyawan kantornya. Tapi alasan yang tepat adalah Anjani kalau ke kantor Arkan selalu mencari idola kesayangannya itu.


"Mas ada Ardito gak?" Tanya Anjani pada suaminya. Nahkan baru saja diterangkan di atas. Anjani sudah bertanya soal Ardito. Ya memang tahta tertinggi idola Anjani masih ditempati oleh Ardito, sepertinya hanya Ardito lelaki yang tidak bisa dia singkirkan.


Bagas berhasil mundur, Saka juga, belum lagi yang mengejar-ngejar Anjani. Tapi yang satu itu masih saja Anjani cari-cari. Di hadapan suaminya lagi.


"Ardito tidak ada, adanya Arkan," balas Arkan santai, membuat Anjani mengernyitkan dahinya.


"Bukan Ar kamu ih, tapi Ardito!"


"Tidak ada, Sayang. Dia sedang ada konser di Semarang, Bukan? Kamu tidak tau jadwal dia?" Tanya Arkan yang sudah menyerah deh kalau membahas idolanya Anjani.


Anjani melirik ponselnya dan ya benar saja yang Arkan katakan. Yah padahal Anjani ingin bernyanyi bersama idolanya lagi. Pasti akan sangat menyenangkan.


"Sudah kamu sama saya saja. Sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin kamu."


"Maksudnya?"


"Katanya kalau wanita melihat pria tampan, dopaminnya akan meningkat, penambah vitamin dalam tubuh dan membuat awet muda. Jadi dengan senang hati saya perlihatkan wajah saya untuk istri kecil saya."


Anjani menghela napasnya, beneran deh kalau ada manusia yang paling percaya diri di bumi, Anjani akan menobatkan Arkan sebagai pemenangnya. Jangan salah kalem kalem begitu Arkan ini narsis.


Entah narsis atau tidak mau kalah dengan orang-orang yang mendekati Anjani. Pokoknya dia narsis sekali di mata Anjani.


.


.


.


"Iya, kenapa sayang?" Tanya Arkan.


Anjani menutup hidungnya dan segera berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Sungguh ini wanginya mengganggu indera penciuman.


Arkan yang melihat itu panik dan segera menyusul Anjani ke dalam toilet. Anjani terus muntah-muntah tanpa jeda. Mungkin ada 30 menit mereka di sana. Arkan dengan setia mengurut tengkuk Anjani, atau sesekali mengusap punggung istrinya itu.


"Sayang, kamu tidak cape?" Tanya Arkan.


"Ganti dulu ih pewanginya atau jangan pake, aku gak bisa ke sana kalau masih pake yang itu."


Arkan menghela napas, dia mengangguk pelan dan meminta OB untuk membuang pewangi ruangan yang mereka letakan di sana.


Setelah itu juga mereka membantu membersihkan udara dengan alat agar tidak ada lagi baunya di ruangan itu. Barulah setelah disingkirkan Anjani bisa duduk tenang di ruangan Arkan. Akhirnya dia bisa bernapas lega.


Anjani duduk di sofa dan menyenderkan punggungnya di sana. Arkan yang melihat wajah pucat istrinya dengan inisiatif mengambil air putih dan membantu Anjani untuk meminumnya karena takut dehidrasi setelah memuntahkan isi perutnya.


"Mau ke dokter?" Tanya Arkan yang mulai khawatir.


"Engga, ini mual biasa aja kok. Apa karena aku belum makan ya?"


"Ck kamu ini, kenapa belum makan?" Tanya Arkan yang kini meminta staff di bawa sana untuk membawa makanan ke ruangan ini.


"Orang tadi lagi jelas, tiba-tiba ada acara seminar kamu. Mana bisa makan dulu, Mas. Yang ada harus nungguin acaranya selesai, mana aku di depan mana mungkin aku langsung lari ke kantin cari makana," omel Anjani.

__ADS_1


"Yasudah yasudah, jangan banyak mengomel. Istirahat di kamar pribadi saya saya ya setelah ini?" Tawar Arkan.


Anjani menggeleng dia malah berdiri dan menarik Arkan untuk duduk di sofa, setelah itu dia naik ke pangkuan Arkan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Mau gini aja."


"Saya kan harus kerja, Sayang," ucap Arkan seraya memeluk Anjani dan mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.


"Nanti aja ya kerjanya mau kaya gini dulu," pintanya manja.


Arkan menghela napasnya, entah kenapa juga Anjani jadi lebih manja akhir-akhir ini. Bahkan manjanya berkali-kali lipat dari biasanya. Tapi sebagai suami yang baik Arkan pun mengangguk dan mengikuti kemauan istrinya. Lagi pula kalau bukan dirinya siapa lagi yang akan memanjakan istrinya, tentu dia tidak akan mengizinkan siapapun melakukan itu.


Tak selang beberapa lama makanan yang Arkan pesan pun datang. Ya apalagi kalau bukan junkfood. Memang apa lagi yang Anjani sukai kalau sedang di luar seperti ini.


Namun saat Anjani menatap makanan-makanan itu Anjani malah menyembunyikan wajahnya di dada Arkan dan menggelengkan kepalanya. Bahkan dia menatapnya tak minat. "Gak mau, gak suka baunya. Gak enakk."


Nahkan Arkan makin kebingungan dengan tingkah istrinya. Anjani menolak junkfood itu sama dengan mustahil, bahkan ketika banyak pilihan makanan, dia pasti akan berlari ke makanan itu.


Arkan menggenggam kedua pergelangan tangan istrinya dan menjauhkan tubuh dari Anjani. Dia mulai curiga. Bolehkan sekarang dia berharap? "Sayang, kamu hamil?"


Anjani mengernyitkan dahinya. "Engga, kok mikir gitu?"


"Biasanya ibu hamil begitu," ucap Arkan.


"Engga, orang aku hari ini lagi pms. Pms hari pertama, kalau pms kan gak mungkin hamil," jelas Anjani."


Mendengar itu entah kenapa terlihat perubahan wajah Arkan yang membuat Anjani terhenyuk. Padahal barusan Arkan nampak tersenyum saat bertanya soal kehamilan.


"Mas kenapa?" Tanya Anjani.


"Tidak apa-apa, Sayang." Kalau boleh jujur barusan memang Arkan sudah berharap sekali kalau Anjani memang hamil. Tapi ternyata tidak, yasudah mungkin belum waktunya mereka memiliki anak.


Namun melihat perubahan wajah Arkan membuat Anjani kepikiran, Arkan pasti sangat ingin kalau dirinya hamil. Mengingat beberapa kali Arkan mengharapkan ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya. Tapi dia belum hamil juga, padahal mereka juga sering melakukannya. Dia mulai overthinking. "Mas kamu kecewa karena aku belum kasih kamu anak ya?"


"Tidak, Sayang. Kenapa bicara begitu?" Tanya Arkan. Bukan karena apa-apa, mata Anjani kini sudah berkaca-kaca dan itu membuat Arkan tidak tega melihatnya.


"Maaf ya aku belum bisa wujudin keinginan Mas,* Anjani menangkup pipi Arkan dan mengusap pipinya dengan lembut.


Setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya membuat Arkan mendesis pelan karena tidak suka sekali melihat istrinya itu menangis. "Astaga saya tidak masalah untuk itu, Sayang kenapa menangis? Saya tidak suka melihat kamu menangis seperti ini." Arkan menghela napas lalu menyeka air mata Anjani dengan telapak tangannya.


"Aku takut kamu ninggalin aku."


"Saya tidak akan meninggalkan kamu."


"Kalau aku gak hamil-hamil juga dan ternyata aku gak bisa hamil gimana?" Tanya Anjani.


Arkan menghela napasnya. Bagi Arkan memiliki anak itu adalah impian terbesarnya. Tapi kalau Anjani memang tidak bisa memberikannya apa itu pantas untuk dijadikan alasan meninggalkan Anjani? "Tidak akan. Jangan bicara seperti itu, kita berusaha dulu. Kalau memang tidak bisa mungkin sudah jalannya begitu."


Arkan mengenggangam tangan Anjani dan mengecupi punggung tangan Anjani dengan begitu lembut. "Dengar saya, saya mencintai kamu dengan kurang dan lebihnya kamu. Kita baru beberapa bulan ini kan berusaha, jadi jangan menyerah dengan keadaan dan selama prosesnya mungkin akan ada banyak kekecewaan, tapi bukan berarti kamu langsung berpikir saya akan meninggalkan kamu, Sayang."


"Saya menikah hanya sekali seumur hidup dan saya akan menghabiskan waktu saya dengan orang yang sama sampai garis takdir kita masing-masing," lanjut Arkan.


"Tapi aku ngerasa bukan istri yang sempurna buat kamu. Kamu pasti kecewa. Aku gak mau buat kamu kecewa."


"Sayang, sudah ya? Jangan berpikiran yang lebih jauh. Kamu cukup tau kalau saya mencintai kamu. Sudah itu saja. Jangan pikirkan kejadian tadi." Arkan kembali membawa Anjani kepada dekapan terbaiknya. Ini hari pertamanya menstruasi, jelas dia sensitif. Jadi di sini Arkan harus paham-paham kalau Anjani perlu ditenangkan agar tidak semakin memperparah overthingking-nya.


Mampir ke cerita baruku yuk, kali aja berminat. ☺️

__ADS_1



__ADS_2