
Sesampainya di rumah, Arkan dan Anjani langsung membersihkan diri. Menikmati waktu bersama Arkan hari ini sangat menyenangkan bagi Anjani. Apalagi setelah menyatakan perasaannya dia jadi merasa dekat dengan Arkan, dia malah merasa memiliki malah sampai-sampai saat belajar pun dia masih senyum-senyum.
Hera yang melihat menantunya itu tersenyum untuk menghampiri Anjani dan memberikan segelas susu. "Ini mama buatkan susu, rajin sekali putri mama belajar."
Anjani terkekeh dan menatap ke arah mertuanya. "Harus dong, Ma. Kelas 12 banyak ujian-ujiannya cukup bikin pusing kepala."
Hera menganggukkan kepalanya paham lalu mengusap pipi menantunya itu dengan lembut. "Yaudah semangat ya, Mama yakin kamu pasti bisa."
Jujur mendapat perhatian seperti ini membuat Anjani merasa senang, dia semakin semangat untuk belajar. Dia ingin sekali belajar dengan mama mertuanya tentang parenting kalau nanti dia dan Arkan punya anak.
Bukan karena tidak mau belajar dari orang tuanya, bukan mau membandingkan juga, tapi Anjani suka saja dengan parenting mertuanya, pantas saja anaknya tumbuh menyerupai Arkan Altair yang sekarang dia kenal. Karena memang kerja sama mereka bagus sekali.
Tapi tunggu, kenapa Anjani membayangkan soal anak, ya? Ah pikirannya sudah kemana-mana, tidak boleh nih begini. Dia masih harus sekolah, harus banyak belajar. Minimal bisa lolos SNMPTN kalau tidak mendapat jalur undangan.
Dari tangga Arkan melihat kedekatan sang Ibu dengan istrinya, gemas sekali. Tidak salah sih kalau Ibunya sangat menyayangi Anjani, sejak dulu Ibunya ingin mempunyai anak perempuan. Tapi karena rahimnya harus diangkat, dia hanya memiliki Arkan.
Kini gantian Arkan yang berjaga untuk menemani Anjani belajar, sementara Hera kembali ke kamarnya ya karena memang sudah malam. Seperti biasa Arkan akan duduk di sofa lalu mengusap puncak kepala Anjani dengan lembut. "Sudah jam 9, kamu belum ngantuk?"
Anjani yang duduk di bawah mengadakan wajahnya pada Arkan dan menggeleng. "Belum, Mas udah ngantuk ya?"
Arkan terkekeh karena salah fokus, langsung saja dia mengecup bibir mungil istrinya itu. Ya gemas saja saat Anjani memanggilnya Mas dengan kalimat yang seperti itu. Biasanya Anjani akan menggunakan kata Mas di akhir kalimatnya saja. "Gemes. Tidak, saya belum ngantuk. Mau temenin istri saya belajar dulu."
Anjani menggelengkan kepalanya seraya menghela napasnya, sudah biasa memang orang tua satu itu kalau tiba-tiba mengecup bibirnya, jadi itu sekarang menjadi sebuah rutinitas bagi Anjani, dia tidak heran lagi.
Arkan berbaring di sofa, tapi tangannya tetap berada di bahu Anjani, kadang tangannya berpindah ke punggung, ke puncak kepalanya juga tidak terlewat. Pokoknya Arkan sering melakukan itu saat Anjani belajar, tapi jujur itu membuat Anjani merasa nyaman karena usapannya menciptakan rasa aman pada dirinya.
"Sudah ada kampus impian?" Tanya Arkan pada Anjani.
"Udah," jawab Anjani seraya menganggukkan kepalanya.
"Mau masuk jurusan apa?" Tanya Arkan lagi.
"Psikologi." jawab Anjani mantap.
Arkan berpikir sejenak, dia kira gadis seperti Anjani akan memilih masuk kuliah dengan jurusan sains atau hubungan internasional, kenapa dia malah memilih Psikologi?
"Saya kira kamu akan masuk HI atau sains, atau management," ucap Arkan.
Anjani menegakan tubuhnya dan beralih menatap Arkan di belakang, dagunya bertopang pada lengan yang dia lipat di sofa. Setelah itu dia mencoba memberanikan diri untuk mengutarakan apa-apa saja yang ada di dalam pikirannya pada Arkan, ya karena Arkan lah yang sekarang menjadi teman diskusinya soal masa depan.
__ADS_1
"Papa mau aku masuk jurusan Hubungan Internasional, tapi aku gak mau. Sekarang kan aku sama kamu, boleh gak aku nentuin jalan hidup yang mau aku jalani?" Tanya Anjani.
Arkan tersenyum lalu merapikan helaian rambut gadis kecilnya dengan lembut. "Saya tanya, kenapa kamu mau masuk jurusan itu?"
"Karena semua orang butuh kewarasan dan aku mau jadi orang yang mengerti semua orang."
"Lalu?"
"Aku gak akan mengandalkan kamu karena kamu punya segalanya. Kalau kamu dukung karier aku ya bagus, kalau engga atau misal kamu nanti mau aku fokus aja sama rumah ya ilmunya bisa aku pakai buat sekitar aku, buat orang-orang terdekat aku."
Arkan terkekeh, ternyata gadisnya ini memang sudah dewasa. Dia punya pemikiran yang tidak bisa Arkan tebak sebelumnya. Dia malah terlihat mind blowing di hadapan Arkan saat ini. "Boleh, silahkan. Saya akan dukung setiap keputusan yang kamu ambil asal kamu bisa mempertanggungjawabkan-nya."
Anjani mengangguk dan tersenyum. "I promise."
.
.
.
Niatnya sesudah belajar Anjani ingin tidur, tapi mengingat dia menyatakan cinta pada Arkan tadi sore membuat Anjani bergidik ngeri sendiri, kok bisa ya dia mengutarakan hal itu? Bikin beban pikiran saja.
"Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Arkan.
"Ada."
"Apa, apa yang mengganggu pikiran kamu sampai tidak bisa tidur begini, padahal ini sudah hampir tengah malam." Arkan menatap istrinya lalu mengusap rambut Anjani dengan perhatian.
"Menurut kamu aku gimana orangnya?"
"Independen, kamu bisa menyelesaikan masalah yang kamu hadapi dan bisa melakukan apapun sendiri. Pintar, cantik, berbakat, galak, cuek, gengsian, hampir sempurna hanya saja bodoh dalam percintaan dan sumbu pendek."
Anjani mendengus kesal mendengar kalimat terakhir yang Arkan lontarkan, tapi memang benar sih apa yang dikatakan Arkan, tidak salah juga. Anjani juga mengakui kalau soal itu.
"Kenapa kamu bertanya, sedang insecure?" Tanya Arkan lagi.
"Gak insecure."
"Lalu kenapa?"
"Kalau misalnya nih ya. Menurut kamu aku independent woman, kan? Tapi kalau nih ya kalau, kalau nantinya aku bakalan bergantung sama kamu gimana? Kamu bakalan ngerasa ilfeel gak sama aku?"
__ADS_1
"Atau ngerasa kaya gini, gak? Kok sebelum sama kamu aku mandiri banget, setelah sama kamu jadi malah manja, banyak mau, gitu?" Tanya Anjani.
Bukannya bagaimana, dulu saat dia bersama Bagas ada beberapa moment di mana dia mengatakan kalau dia benci Anjani ketika datang manjanya. Itu kenapa meskipun dia berbagi segalanya pada pria itu, tapi masih ada beberapa yang harus dia tahan sendirian.
Arkan terkekeh, kenapa juga harus ditanyakan hal seperti itu. Tapi kalau itu mengganggu pikiran Anjani ya harus dia jelaskan. Agar istrinya bisa segera tidur.
"Mau dengar pandangan saya?" Tanya Arkan berbalik yang tentu membuat Anjani mengangguk cepat.
"Menurut saya wajar sih."
"Wajar gimana? Ya gak wajar dong, jadi kaya anak kecil gak sih kesannya?"
Arkan menggeleng. "Menurut saya perempuan yang terlihat mandiri itu sebenarnya hanya tidak punya tempat untuk menyalurkan perasaannya saja."
"Maksudnya?"
"Ya menurut saya sebenarnya perempuan mandiri itu ya adalah perempuan yang tidak paling mandiri kalau dia menemukan orang yang tepat."
"Dia bisa melakukannya sendiri tapi karena dia punya orang yang tepat jadi dia berbagi itu dengan pasangannya, menceritakan apa-apa yang menjadi keluh kesahnya, selalu ingin dimanja dan terkadang menggantungkan dirinya."
"Justru kalau kamu lakuin itu ke saya ya saya senang, berarti kamu memilih saya untuk dipercaya mengenai hal apapun, karena di luar sana kamu tidak menunjukan sisi itu kepada siapapun, kan?"
"Tapi ribet, kan? Jadi kaya gak sesuai ekspetasi."
Arkan terkekeh mendengar pernyataan Anjani yang lagi-lagi keluar dari pemikiran sisi remajanya. "Pria yang mencintai kamu tidak pernah membuat ekspetasi dalam pikirannya tentang kamu, dia akan memandang kamu sesuai apa yang dia lihat saja, mau bagaimanapun kedepannya dia akan selalu mencintai kamu."
"Lagi, saya ingin kamu dengar ini. Saya akan dukung kamu, saya suka kalau kamu punya value yang tinggi, tapi saya juga akan selalu siap kalau kamu bergantung pada saya, karena ya kamu istri saya, Anjani. Kamu memang harus bergantung pada saya mau se-mandiri apapun."
"Gak merasa terbebani?" Tanya Anjani yang kini menatap ke arah Arkan.
"Tidak, kamu istri saya memang semua yang saya lakukan itu untuk kamu. Saya punya hak atas kamu dan kamu juga begitu."
Mendengar itu Anjani mengulum senyumnya, ah itu malah membuatnya semakin terlihat manis di mata Arkan. "Jadi masih kepikiran?"
"Engga. Makasih, Mas." Setelah mengucapkan itu entah ada keberanian apa Anjani malah mengecup bibir Arkan lebih dulu.
Tapi ya begitu, dia jadi buru-buru mengubah posisinya membelakangi Arkan seraya menarik selimutnya karena malu. Arkan terkekeh geli, ini pertama kalinya Anjani melakukan itu, langsung saja dia memeluk Anjani dan mendekapnya dari belakang. "Sudah mulai nakal sama saya ya kamu, bayi!"
Anjani yang merasa diterkam tiba-tiba malah tertawa. "Hahahaha ampun, gak lagi-lagi beneran."
Mendengar itu Arkan malah semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma tubuh Anjani. "Tidak, kamu harus selalu melakukannya. Karena saya suka. Harus lagi-lagi," tekannya.
__ADS_1