I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Brownies Keju


__ADS_3


Anjani terdiam, semenjak kejadian di mobil dia benar-benar diam. Tidak lagi deh dia menantang orang dewasa seperti Arkan kalau akhirnya dia kehilangan first kissnya. Iya, ini baru first kiss, lain kali kalau dia melawan lagi apa yang akan terjadi pada dirinya?


Perlahan Anjani memegang bibirnya dan kembali teringat saat Arkan menciumnya dengan lamat. Jantung Anjani berdebar dengan kencang, kenapa seolah ingatannya itu terus memutar ulang kejadian tadi, kenapa?


Anjani menggeleng pelan, dia tidak boleh begini. Masa dia tergoda sih? Tidak boleh, Anjani menghentak-hentakan kakinya yang menyentuh lantai, ahh Anjani mau gila rasanya. Tanpa Anjani sadari kalau Arkan sudah masuk sedari tadi dan melihat tingkah abstraknya.


"Kenapa, mau saya cium lagi?" Tanya Arkan.


Anjani kaget, ya bagaimana tidak. Dia sedang bergulat dengan pikirannya tentang Arkan dan tiba-tiba Arkan datang menanyakan hal seperti itu, apa dia tidak kena mental tuh? "Hah?! Apa sih, enggak!"


"Jangan sungkan, saya bisa kasih setiap hari," ucap Arkan setengah menggoda meski dengan wajah kalemnya.


Anjani mendengus kesal, sudah mencuri ciuman pertamanya. Sekarang pria itu seperti tidak ada rasa berdosanya lagi berucap seperti itu. Kok ada ya manusia seperti Arkan Altair ini. Benar-benar sangat membahayakan dan menyebalkan sekali. "Itu first kiss aku! Kamu nyuri namanya soalnya aku gak ikhlas!"


"Itu juga first kiss saya, wah berarti kamu juga mencuri first kiss saya."


"Pakkk!!"


"Mas! Kenapa sulit sekali mengajarkan kamu untuk memanggil saya Mas? Padahal di kelas kalau saya menerangkan matematika kamu murid yang cepat tanggap, Anjani," ucap Arkan gemas.


"Ya gak enak aja manggil Mas," kesal Anjani.


"Ya sudah panggil saya sayang," balasnya santai.


"Apa sih ah, gak mau! Padahal udah ambil first kiss orang sembarangan, sekarang malah banyak mau!" Gerutu Anjani pelan.


Jelas Arkan mendengarnya, perlahan dia mendekat ke arah Anjani yang duduk di tepi ranjang. Dia sedikit menunduk dan memegang dagu Anjani dengan lembut. "Kamu bilang apa, Anjani?"


"Kamu udah ambil first kiss-"

__ADS_1


Cup ...


Satu kecupan dia daratkan di bibir ranum milik Anjani, membuat sang empu pipinya kini bersemu merah, apa-apaan ini? "Second kiss."


Cup ...


Saat Anjani ingin protes tiba-tiba Arkan mengecup bibirnya kembali. Kalau begini bagaimana Anjani tidak salah tingkah? "Third kiss, kamu milik saya dan saya tidak mencuri apapun dari kamu. Seberapa banyak kecupan atau ciuman yang saya lakukan, kamu milik saya."


Anjani memainkan kuku jarinya, sungguh mukanya memanas sekarang. Pasti mukanya terlihat merah di hadapan Arkan. Karena malu, Anjani beranjak dari sana dan berlari ke luar kamar. Dia tidak bisa satu ruangan dengan Arkan!


Arkan yang melihat Anjani salah tingkah begitu terkekeh. Jangan tanya Arkan soal romantisme, meskipun pengalaman cintanya minim, tapi kalau soal itu Arkan lah jagonya. Dia tidak perlu properti atau suasana yang mendukung, di mana saja dia bisa dengan mudah membangunnya. Itu hanya permulaan saja untuk Anjani, karena kalau Anjani sudah mencintainya, dia akan melakukan lebih dan lebih lagi setiap harinya.


Anjani yang turun ke bawah, mendapati Ibu mertuanya yang sedang berperang di dapur. Anjani tersenyum sih, dia jadi sedikit merindukan Ibunya kalau begini. Meskipun dia dan Viona sering bertengkar, tapi yang namanya ikatan anak dan Ibunya tidak akan bisa diputuskan begitu saja.


Karena penasaran Anjani menghampiri Hera yang memang sedang fokus sekali dengan hand mixernya. "Mama lagi apa?"


"Eh cantiknya Mama. Ini Mama sedang buat brownies keju kesukaannya Gio. Anjani mau? Atau Anjani suka kue apa? Biar Mama buatkan juga sekalian," ucap Hera.


Hera terkekeh mendengar ucapan Anjani. Tentulah dia mengangguk, lagi pula bagus kalau anak dan menantunya memiliki selera yang sama. Bukankah akan mempererat hubungan mereka juga? Tidak ada korelasinya memang, tapi ya siapa tau dari brownies bisa tumbuh kasih sayang di antara keduanya.


Anjani senang jika melihat proses pembuatan kue , jadi dia menawarkan diri untuk membantu mertuanya membuat brownies itu. Meskipun Anjani tidak bisa memasak, tapi kalau soal baking begini, dia paling semangat untuk membantu, walaupun hanya bagian mixer dan juga mencetak.


Hera juga tidak mempermasalahkannya sih, dulu juga dia tidak bisa memasak. Tapi Hera yakin, kalau suatu saat nanti Anjani akan banyak belajar, dia perlahan akan tumbuh dengan baik dan menjadi menantu yang serba bisa, karena ya Anjani terlihat kok kalau dia adalah gadis yang selalu ingin mencoba hal-hal baru.


Arkan tersenyum melihat kedekatan Ibu dan Istrinya, bahkan mereka tidak menyadari Arkan yang sudah turun. Terlihat di sana Anjani yang sedang memotong-motong brownies dengan serius. Ya namanya juga masih amatir, dia harus melakukannya sebaik mungkin dengan perhitungan yang baik juga.


Setelah selesai, Anjani mengambil satu bagian di tangannya. Saat akan menyuapkan kue ke dalam mulutnya, tiba-tiba dari samping Arkan mengigit brownies yang ada di tangan Anjani. Membuat Hera terkekeh karena melihat tingkah jahil anaknya.


"Masss!!!" Kesal Anjani.


Arkan terkekeh dan mengusap puncak kepala Anjani dengan lembut. "Terima kasih."

__ADS_1


Anjani mendengus kesal. "Haisshhhh!"


"Gak boleh gitu dong, Gio. Kasian istrinya masa dikerjain," peringat Hera sembari menarik telinga putranya.


"Akhhh sakit sakit, Ma. Ampun," pinta Arkan memohon.


Anjani yang melihat itu meledek ke arah Arkan karena merasa mendapat pembelaan dari Ibu mertuanya. Dia juga tertawa renyah, ternyata Arkan kalau di depan Ibunya seperti ini? Tapi ya tidak heran juga sih, secara dia anak tunggal di sini.


"Ketawa."


"Biarin, salah sendiri makan punyaku wlek!" Anjani menjulurkan lidahnya lalu memeluk Ibu mertuanya itu dengan wajah meledek.


Hera tertawa geli melihat tingkah menantunya ini, sangat menggemaskan. Melihat mereka seperti ini rasanya bukan seperti suami istri, melainkan kakak beradik.


"Punyaku katanya? Punya saya!" Arkan membawa piring brownies yang ada di pantry, setelah itu dia berlari dan membawanya menjauh dari Anjani.


"Masss ihhhh aku belum nyoba, kan aku yang buat!" Teriak Anjani sembari mengejar Arkan untuk mengambil brownies yang tadi dia buat.


Arkan tidak mengindahkan, dia tetap berlari dengan Anjani yang mengejarnya di belakang. Keributan keduanya membuat Hera cukup pusing sih, tapi dia menikmati suasana seperti ini. Rumahnya jadi semakin ramai karena kedatangan Anjani. Jadi dia putuskan untuk membiarkan mereka dan kembali masuk ke kamar.


Anjani menatap kesal dan menghentikan langkahnya. Arkan susah sekali untuk dia gapai, akhirnya dia menyerah dan memilih untuk duduk di sofa dengan wajah yang ditekuk. Arkan melihat itu terkekeh, mudah sekali marah memang istrinya. Perlahan dia mendekat ke arah Anjani.


"Marah, nih." Arkan mengulurkan brownies ke hadapan bibir Anjani.


Anjani awalnya menolak, tapi ya karena tidak tahan godaan wanginya akhirnya dia menggigit. Memang tidak salah sih, ini memang enak. Rasanya baru pertama kali dia merasakan brownies yang tidak eneg begini. Namun saat dia akan mengambil brownies dari piring yang ada di lahunan Arkan, Arkan menepis tangan Anjani dengan lembut.


"Brownies ini akan berubah rasa kalau kamu memakannya bukan dari tangan saya. Jadi biar saya saja yang menyuapi kamu."


Anjani mengerutkan keningnya. "Masa sih? Ngawur!"


"Benar, lebih baik kamu menurut dan diam kalau masih ingin makan brownies milik saya."

__ADS_1


Anjani memajukan bibirnya kesal. Tapi ya memang enak sih, jadi daripada dia tidak bisa merasakannya lagi, dia menurut pada Arkan dan kini mereka memakannya sambil menonton film Marvel yang ternyata adalah kesukaan mereka berdua.


__ADS_2