
Pukul 7 malam, Arkan sudah pulang dari kantor. Karena Anjani tidak ada di bawah, berarti gadis itu sedang berdiam diri di kamar. Benar saja, saat Arkan membuka pintu kamar mereka, Anjani dengan anteng sedang membaca novel di sebuah ayunan rotan yang memang sengaja Arkan berikan.
Saking seriusnya dia tidak sadar kalau Arkan kini sudah di hadapannya. Benar-benar Anjani kalau sudah fokus begitu dia jadi lupa dengan dunia. "Ekhm."
Anjani menatap ke sumber suara karena kaget. "Lohh, kamu dari kapan di sini, Mas?"
"Sejak tadi."
Anjani mengangguk-nganggukkan kepalanya seraya bangkit dan berdiri di hadapan Arkan. Anjani mengulurkan tangannya di hadapan Arkan. Membuat pria itu mengerutkan keningnya. "Minta uang?"
"Salam ih!" Kesal Anjani yang langsung saja mengambil tangan Arkan dan menciumnya.
Arkan terkekeh, namun saat Anjani akan melepaskan tangannya, alih-alih melepaskan tangan Anjani, Arkan malah menariknya dan mencium bibir Anjani. "Saya belum cium kamu hari ini."
Anjani menghela napas dan mendengus sebal. "Emang kalau nikah harus ciumnya setiap hari?"
"Tidak, tapi dalam rumah tangga kita wajib!" Arkan menangkup rahang Anjani dan mengecupi bibirnya beberapa kali. "Karena saya tidak akan biarkan bibir kamu menganggur dalam waktu yang lama, dia pasti merindukan saya."
Wajah Anjani memanas, salah tingkahnya akibat tadi pagi saja belum selesai. Sekarang malah bertambah lagi, memang love languagenya Arkan seperti ini ya? Rasanya dia memiliki kelima love language menurut Anjani.
"Hahaha gemes pipinya, minta saya cium juga ya?" Tanya Arkan.
"Enggak! Udah ah, jangan godain aku terus!"
Anjani hendak melangkahkan kakinya, namun lagi-lagi Arkan menahannya. Membuat gadis itu mau tidak mau kembali menatapnya. "Kenapa lagiiii?"
"Bukakan dasi dan kemeja saya," pinta Arkan.
"A-aku yang bukain? Kenapa gak lakuin sendiri aja, kamu mau macem macem ya?!!" Tebak Anjani.
Arkan nampak berpikir, padahal dia hanya ingin saja merasakan disambut pulang kerja, dibukakan dasinya dan hal romantis lainnya. Tapi ternyata gadis di hadapannya ini nampak sudah overthinking. Jadi sekalian saja. "Boleh juga, bagaimana kalau kita melakukannya malam ini?"
Arkan merengkuh pinggang Anjani untuk semakin mendekat, membuat gadis itu membulatkan matanya saat mendengar ucapan Arkan. "Gakkkkkkk!!! Jangan macem-macem!"
__ADS_1
"Saya kan suami kamu, seharusnya saya meminta hak pada malam pertama kita," bisik Arkan.
"T-tapi, aduhh aku gak bisaa. Aku tuh gak pengalaman kaya gitu!"
"Saya bisa jadi guru apa saja, guru matematika, guru olahraga, guru agama dan guru bercinta?" Ucap Arkan santai seraya menaikan alisnya.
Sungguh, kenapa dunia nyata seperti ini. Kenapa juga lagi Arkan terang-terangan menawarkan diri jadi guru bercinta? Memang gila om-om ini. "Nanti aja ya, aku gak akan marah-marah sama kamu lagi, nurut beneran. Tapi jangan dong, Mass. Aku gak siap!" Anjani benar-benar ketar-ketir, ah sial kenapa dia setakut ini ya?
Arkan tergelak mendengar pernyataan Anjani. "Baik kalau, jadi sekarang bantu saya saja."
Anjani dengan cepat mengangguk, lebih baik dia membantu Arkan melepas dasinya daripada melepaskan haknya sekarang. Masalahnya dia takut hamil! Arkan menatap istri kecilnya yang dengan fokus membukakan jas dan dasinya. Setelah itu dia menarik kemeja Arkan dari dalam celananya dan membuka satu-persatu kancingnya.
Anjani harus menelan ludahnya kasar, ini pertama kalinya dia melihat Arkan bertelanjang dada di hadapannya. Apalagi dia memiliki roti sobek seperti artis-artis Korea yang selalu dia tonton. Namun Anjani mencoba menghilangkan pikiran-pikiran kotornya dan menggantungkan kemeja Arkan di lengannya bersama yang lain.
"Gesper saya."
Anjani menahan napasnya, kenapa harus dengan gespernya juga?! Jangan sampai nanti Arkan malah meminta Anjani membuka celana miliknya. Dengan ragu dia menaruh baju Arkan di ayunan, setelah itu dia duduk di sofa dekat sana dan mencoba membuka gesper yang ada di pinggang suaminya.
Cukup lama, memang agak susah. Tapi dia berhasil. "Udah."
Arkan menunduk, saat Anjani mendongakkan kepala dia mencium bibir Anjani. Rasanya ciuman ini sedikit agresif, apalagi Arkan menyesap bibir itu dengan kuat, membuat Anjani meremas ujung sofanya. Tapi permainan itu tidak lama, karena setelahnya Arkan tersenyum dan langsung masuk ke kamar mandi.
Anjani merinding. "Pelajaran pertama? Pelajaran apaaaaaaaa??!!" Anjani menghentak-hentakan kakinya frustrasi, sungguh dia bisa gila kalau berlama-lama dengan Arkan.
Di sisi lain Arkan menutup pintu kamar mandi dan bersender pada tembok. Niatnya ingin menggoda Anjani tapi malah dia yang tidak kuat sendiri, rasanya saat Anjani melakukan semua itu membuat tubuhnya bereaksi. Sampai-sampai sekarang napasnya tidak beraturan. "Kamu sudah gila, Gio!"
Setelah mandi, seperti biasa Arkan menemani Anjani belajar di bawah. Bedanya kali ini dia fokus menonton dan Anjani yang nampak mulai ngantuk menggeliat dan membereskan buku-bukunya.
Anjani melirik pada Arkan dan pria itu pun menatap ke arah Anjani. "Sudah selesai?"
Anjani mengangguk. "Kamu masih mau nonton?"
Giliran Arkan yang mengangguk. Oke kalau begitu Anjani duluan saja ke kamar, matanya sudah mulai 5 watt. Namun, sebuah instruksi membuat Anjani batal berjalan ke arah tangga. "Temani saya nonton."
"Aku ngantukkk," balas Anjani.
__ADS_1
"Kemari."
Ahh menyebalkan sekali, dengan terpaksa Anjani menurut dan duduk di sofa yang ditiduri Arkan. Sepertinya Anjani memang sudah mengantuk, rewel sekali anak ini menurut Arkan kalau dilihat dari raut wajahnya.
"Kemari." Arkan menarik lengan Anjani lembut dan mengajaknya untuk berbaring di sisinya. Tangannya dijadikan bantalan, dengan posisi punggung Anjani membelakanginya.
Anjani yang memang sudah mengantuk pasrah saja, dia berbaring dan setelah itu memejamkan matanya. Arkan tersenyum lalu melengkungkan tangannya ke perut Anjani dan memeluknya. Namun justru itu membuat Anjani kaget dan kembali membuka matanya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Arkan seraya mengecup pipi Anjani.
"Tangannya!" Peringat Anjani seraya mencoba melepaskan tangan Arkan dari perutnya.
"Nanti kamu jatuh kalau tidak saya peluk, sudah kamu tidur dan temani saya menonton. Jangan banyak protes!"
Anjani menghela napasnya, ya sudah deh. Dia juga sedang malas berdebat. Namun tidak bisa di pungkiri kalau posisi ini cukup intim dan meresahkan. Anjani malah tidak bisa menutup matanya. Apalagi kini Arkan menciumi tengkuknya. Dia merasa menjadi sugar baby-nya Arkan.
"Aku kaya sugar baby," gumam Anjani asal.
"Kamu istri saya, Anjani. Kalau sugar baby pun, kamu sugar baby pribadi saya."
"Mass ... "
"Kenapa?"
"Kamu sering kaya gini kah sama mantan-mantan kamu dulu?" Tanya Anjani. Kepikiran saja, Arkan romantis begini, pasti mantannya juga banyak. Apalagi parasnya juga memang tampan.
"Percaya atau tidak, saya tidak memiliki mantan. Saya hanya mencintai kamu sejak lama dan hanya kamu saja." Kini kecupan Arkan beralih pada bahu Anjani yang terbuka karena model bajunya. Memang meresahkan sekali Anjani untuk Arkan. Tapi tidak apa-apa, dia jadi bisa melakukan ini. Ya hiburan lah karena belum bisa menyentuh Anjani, jadi dia cicil dulu.
"Masa sih?"
"Iyaa, sudah kamu jangan banyak berpikir. Saya melakukan ini hanya dengan kamu. Kalau saya melakukan apapun yang membuat kamu bahagia, itu karena saya memang ingin kamu bahagia. Saya hanya mencintai kamu di hidup saya."
"Tapi belum-"
"Sudah, kamu tidur sekarang. Besok pelajaran saya, kan? Saya tidak mau kamu mengantuk di kelas."
__ADS_1
Dengan pasrah Anjani mengangguk, dia pun kembali memejamkan mata. Sementara Arkan kini melanjutkan aktivitas nakalnya sembari kembali menonton, karena Anjani juga tidak melarangnya.