I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Salah Pilih Lawan


__ADS_3


Anjani menatap Arkan yang sedang mengayun-ayun putrinya, dia terlihat tidak lelah dan berjalan kesana kesini agar bayi kecil itu tidak rewel.


Iya sejak tadi Maghrib Arsy rewel dan tidak mau digendong oleh Anjani, dia hanya akan berhenti menangis ketika digendong oleh ayahnya, tidak tidur juga, tapi dia terlihat anteng dalam pelukan ayahnya.


"Arsy kalau kaya gini Mama kapan manjaannya sama Ayah?" Tanya Anjani seraya menatap anaknya yang ada di pelukan Arkan.


"Sabar, Mama. Arsy pinjam sebentar ayahnya," ucap Arkan sambil tersenyum.


Anjani menghela napas, apa semua anak perempuan seperti ini ya? Lebih dekat dengan ayahnya. Sudah wajahnya mirip, bayi itu malah selalu ingin dekat dengan Arkan. Seperti tak memberikan Anjani ruang untuk berduaan dengan suaminya.


Belum lagi sekarang Arkan membawa Arsyi ke kasur dan memeluk Arsyla seraya menepuk-nepuk bokongnya agar dia tertidur. "Anak ayah harus tidur, besok kita main lagi."


Namun bukannya tidur Arsyla malah tertawa, meskipun belum bisa mengeluarkan


suaranya tapi Arkan tau kalau bayi itu masih ingin bermain.


"Kayanya dia emang gak akan biarin mamanya sayang-sayangan sama ayahnya," kata Anjani yang ikut berbaring bersama anak dan suaminya.


"Tidak boleh cemburu, kan anaknya, Sayang," kata Arkan memberi pengertian.


Anjani tidak cemburu kok, hanya saja memang waktu berdua sekarang sangat sulit bagi mereka. Seperti tadi baru saja mereka bermesraan, Arsy nampaknya tau kalau jam segitu ayahnya sudah pulang, jadi Hera mengembalikan Arsy kepada Arkan dan Anjani.


"Setelah dia tidur, gantian, oke?" Tawar Arkan yang kembali fokus bermain dengan anaknya.


Anjani menatap mereka berdua sambil tersenyum. Menjadi seorang ibu diusia muda tidak pernah ada di list kehidupannya tapi sekarang dia memiliki keluarga yang utuh. Siapa juga yang tidak senang.


Belum lagi Arkan memang sangat penyayang, hanya melihat mereka berdua bermain seperti ini rasanya Anjani benar-benar nyaman, benar-benar merasa kalau kehidupan yang dia miliki ini jauh lebih baik dari siapapun.


Seberuntung itu memang, tapi mengingat kembali kejadian tadi pagi saat Rindu datang ke sini membuat Anjani khawatir. Seberani-beraninya Anjani tetap saja dia memiliki ketakutan. Takut kalau seseorang akan mengambil suaminya dengan berbagai cara seperti novel-novel yang dia baca.


"Mas ... "


"Apa, Sayang?"


"Mba Rindu ada chat kamu? Atau hubungi kamu gitu?" Tanya Anjani tiba-tiba.


Arkan berpikir sejenak, sejujurnya dia jarang sekali membuka ponsel untuk kegiatan chattingan selain bersamaan rekan bisnis atau Anjani. Tapi dia sempat melihat ada notifikasi yang menyatakan kalau dia adalah Rindu.

__ADS_1


"Ada, tapi tidak saya balas."


Mendengar itu Anjani mengubah posisinya menjadi duduk. "Mana hp kamu?"


Tanpa menolak atau bertanya Arkan memberikan ponselnya. Sudah dibilang kan kalau dalam hubungan mereka tidak boleh adanya privasi, jadi tidak masalah kalau Anjani ingin melakukan sesuatu.


Anjani langsung mengambil ponsel milik Arkan dan melihat pesan yang nomornya tidak disimpan itu. Oh jadi Arkan tidak menyimpannya, Anjani jadi merasa senang entah kenapa, ya walaupun dia tau kalau Arkan memang jarang menyimpan nomor wanita di ponselnya.


08215678xxxxxx : Gio, ini Rindu.


08215678xxxxxx : Kamu apa kabar?


08215678xxxxxx : Masih ingat aku, kan? Bisa kita bertemu? Aku ingin cerita banyak hal.


Anjani berdecih, apa-apaan ini. Memang janda gatal, berani-beraninya dia mengajak suaminya bertemu. Memang Arkan ini psikolog kah? Atau buka jasa konsultasi sampai dia harus menceritakan segala hal pada suaminya.


Tidak bisa dibiarkan, Anjani tidak akan membiarkan janda gatal itu mendekati suaminya sedikit pun. Dengan serius Anjani mengetikan beberapa kata di sana. Arkan tau kalau istrinya itu ingin membalas pesan Rindu. Tapi sebagai suami dia juga harus mengingatkan. "Jangan emosi, bicara baik-baik ya?"


Anjani melirik sekilas ke arah Arkan. Dia mengangguk saja lagipula dia tidak akan membalas apa-apa kok. Dia hanya ingin menegaskan kalau sebagai istri dia risih Rindu memberi pesan begitu pada suaminya.


^^^Butuh temen cerita ya, Mba?^^^


^^^Gimana kalau ke psikolog kan bisa lebih jelas tuh.^^^


^^^Ohhh atau mba ke tukang pijat aja, spa juga bisa, di sana mba-mbamya bisa diajak bertukar cerita.^^^


^^^📲 Pak Rohmat tukang urut papa^^^


^^^Tuh aku share ya mba kontaknya.^^^


^^^Sama-sama. 🤗💚^^^


Setelah mengetikkan kata itu Anjani tertawa sendiri, bagaimana ya reaksi Rindu saat membuka pesan Arkan yang banyak ini. Salah sendiri dia bermain-main dengan Anjani. Kalau mau menjadi pelakor di hubungan Anjani dia salah memilih lawan. Jelas Anjani tidak mudah gentar, justru dia kan permainkan seperti ini.


Arkan yang melihat Anjani tertawa sebegitu pecahnya keheranan, sudah pasti ada yang tidak beres. Tapi Anjani melakukan apa pada Rindu? Ingin bertanya takut, tapi kalau ditanya juga takut salah paham. Benar-benar sulit berada di posisi Arkan. Ya sudah lah Arkan diam saja, nanti akan dia lihat sendiri.


Anjani semakin fokus tat kala melihat balasan Rindu. Memang tidak pantang menyerah janda gatal ini. Baiklah kalau masih ingin bermain-main dengan Clarissa Putri Anjani.


08215678xxxxxx : Bisa berikan ponselnya pada Gio?

__ADS_1


^^^Gak bisa, Mas Arkan males bales. Jadi aku yang bales.^^^


08215678xxxxxx : Saya tidak mengenal kamu, Anjani.


^^^Kemarin kan udah kenalan. ANJANI ISTRI ARKAN GIOVANO ALTAIR.^^^


08215678xxxxxx : Saya hanya memiliki Gio sebagai teman saya. Saya butuh tempat cerita, Anjani.


^^^Kata Mas Arkan kalian gak temenan, Soo??^^^


Anjani menunggu beberapa saat pesan yang tidak dibalas itu, sudah diread tapi tidak dibalas. Segitu saja kah nyalinya? Menjadi pelakor itu butuh mental yang kuat, apaa baru begini saja meleyot, pikir Anjani.


Enak saja ingin memasuki hubungan Anjani dengan Arkan, maaf saja Anjani bukan tipe wanita lemah yang bisa menerima saja perlakuan buruk orang lain. Kalau orang lain jahat, balas lah biar tidak kebiasaan. Itu prinsip Anjani. Memangnya dia keset yang diinjak atau di perlakukan seenaknya hanya diam saja dan welcome?


"Senang sekali, kenapa, Sayang?" Tanya Arkan.


Anjani menggeleng, biar saja Arkan nanti melihatnya sendiri. Setelah puas meladeni nenek sihir itu Anjani menaruh ponsel Arkan di meja dan memeluk Arkan yang di tengah-tengah mereka ada Arsy yang sedang tertidur.


"Kenapa?" Tanya Arkan.


"Gapapa, aku cuma apa ya? Aku cuma bersyukur aja punya kamu, punya Arsyi, sampe orang ada aja yang mau deketin keluarga kita," ucap Anjani.


"Rindu maksudnya?"


"Ya terlepas dari itu kan ada juga tapi aku beruntung karena kamu kaya gak ladenin mereka."


Arkan tersenyum. "Saya sudah punya kamu, paket lengkap. Untuk apalagi coba yang lain, yang lain belum tentu lengkap, walaupun masih bocah begini saya sayangnya hanya sama kamu."


”Pembohong ... Kamu pembohong," kata Anjani setengah bercanda.


Arkan tertawa melihat itu lalu menarik hidung Anjani, soalnya walaupun bocah begini ada saja kelakuan Anjani yang membuatnya merasakan warna lain dalam kehidupannya.


Anjani juga hanya bisa tertawa sembari memeluk dan menciumi putrinya yang tertidur lelap. Arkan yang melihat itu pun mengusap puncak kepala Anjani. "Kamu tau, Sayang?"


"Apa?"


"Anak kita ini bukan hanya pelengkap keluarga kita saja."


"Tapi dia juga pengikat kedua orang tuanya, dia yang membuat kit semakin dekat dan semakin tidak terpisahkan. Jadi mau sebanyak apapun orang yang mencoba memisahkannya, kita tidak mudah begitu saja untuk terpisahkan," lanjutnya.

__ADS_1


Anjani mengangguk pelan dan tersenyum tipis. "Iya aku percaya sama Mas kok, percaya sama hubungan kita juga."


__ADS_2