
Hari-hari berlalu, Anjani mulai membiasakan dirinya menjalani aktivitas sebagai istri Arkan. Ya tidak ada yang berbeda memang, sama seperti hari-hari biasanya. Tapi bedanya mungkin di masalah sikap, maksudnya Anjani sudah lelah merajuk karena dijodohkan, jadi dia memilih untuk menerima walaupun ya walaupun pada kenyataannya masih sangat sulit.
Bagas juga rasanya akhir-akhir ini jarang terlihat di sekolah, apa Bagas menghindarinya? Tapi dia juga berusaha biasa saja dan menjalani kehidupan masing-masing. Karena, mau sejauh apapun dia menentang dan bertahan dengan perasaannya, dia dan Bagas tidak akan pernah bisa bersatu. Mungkin mereka hanya ditakdirkan untuk sekedar menyapa, bukan menetap selamanya.
Menunggu pak supir di depan halte begini sebenarnya membuat Anjani bosan. Apalagi tiba-tiba hujan turun dengan lebat, membuat Anjani yang tadinya masih ada sedikit semangat, kini benar-benar tidak mood.
Bertepatan saat dia duduk, tiba-tiba sebuah motor berhenti di hadapannya. Baru saja Anjani memikirkannya tadi pagi, sekarang Bagas sudah terlihat lagi batang hidungnya. Pria itu menghampiri Anjani yang tengah duduk sendirian. Sebenarnya bukan untuk menghampiri Anjani juga, tapi ya karena hujan yang membawanya ke sini.
Suasana nampak canggung, Bagas yang mendudukkan dirinya di sebelah Anjani pun merasakan aura canggung mereka yang begitu kuat, lucu memang semesta. Seseorang yang dulunya tak bisa dipisahkan, kini malah seperti orang asing.
"Apa kabar?" Tanya Bagas.
"B-baik, kamu?" Tanya Anjani berbalik.
"Baik, kemarin ada keperluan keluarga makanya beberapa hari ambil libur."
Anjani mengangguk-nganggukkan kepalanya pelan, sebenarnya bukan urusan dia lagi memang mau Bagas kemana pun. Tapi entah kenapa membuatnya sedikit lega karena penjelasan Bagas.
Sebenarnya ada banyak yang ingin Anjani tanyakan, ada banyak juga cerita yang ingin Anjani ceritakan, tapi ya tidak bisa. Bahkan dia sekarang tidak punya waktu untuk menangis karena merasa tidak bebas kalau di kamar Arkan.
Karena kondisinya kembali canggung, Anjani segera membuka ponselnya untuk menghubungi sang supir, tapi tidak ada balasan. Akhirnya dia mengirim pesan pada supirnya kalau dia akan pulang sendiri menggunakan ojek online.
"Bareng aja yuk?" Ajak Bagas saat Anjani membuka aplikasi onlinenya.
"Emm?"
"Kita terobos hujan, udah lama kita gak main hujan-hujanan. Mau?" Tangan Bagas terulur, namun saat Anjani akan menerima ajakannya tiba-tiba ponselnya berbunyi.
__ADS_1
Dari nomor yang tak dikenal, siapa ya? Biasanya Anjani mengabaikan panggilan-panggilan tersebut karena takut orang iseng, tapi karena takut penting Anjani mengangkat panggilan itu.
"Iya, Halo?"
"Mobil saya ada di seberang, kamu tunggu di sana. Kamu pulang bersama saya."
Setelah kalimat itu tidak ada lagi sepatah kata pun yang terlontar dari Arkan, dia langsung mematikannya. Anjani mengarahkan pandangannya pada seseorang yang datang dengan payung hitamnya menuju ke sini. Membuat jantungnya berdebar dua kali lipat dari biasanya.
Bagas yang melihat Arkan pun terpaksa harus mundur, dia mengepalkan tangannya kuat karena merasa tidak berdaya untuk memperjuangkan Anjani. Tatapan Anjani langsung terfokus pada Arkan yang kini menaruh payungnya dan memakaikan hoodie pada tubuhnya.
"Pakai, nanti kamu masuk angin. Ayok pulang," ajak Arkan seraya mengulurkan tangannya pada Anjani.
Anjani mengiyakan, kini tatapannya beralih pada Bagas yang seolah menatapnya sendu. "Maaf, Gas. Aku duluan ya?"
Tanpa menunggu jawaban Bagas, Arkan sudah menggenggam tangan Anjani dan membawanya untuk ke mobil. Kalau boleh jujur, Anjani tidak suka di posisi ini. Sangat membingungkan. Di satu sisi perasaannya milik Bagas dan di satu sisi lainnya Arkan adalah suaminya.
Dengan takut Anjani memberanikan diri untuk bertanya. "Pak Arkan."
Tidak ada jawaban dari Arkan, bahkan dehaman pun tidak ada. Sudah bisa Anjani pastikan kalau Arkan sedang marah padanya sekarang. Dia bisa sih tidak peduli, tapi akhir-akhir ini dia sedang aneh kalau berhadapan dengan Arkan.
"Maksudnya Mas," Ralat Anjani.
"Ya?"
"Marah?"
"Menurut kamu bagaimana?"
Anjani yang melihat itu nampak kesal, maksudnya dia sudah bersikap baik loh mau menanyakan pada Arkan, tapi Arkan malah bilang begitu. Apa susahnya bilang iya atau tidak, kan bete ya? "Tinggal bilang iya atau engga kan gampang. Lagian kenapa coba marah. Orang gak ngapa-ngapain. Aku juga yakin kamu jalanin pernikahan ini karena hanya ingin seperti yang kamu bilang ke aku waktu kemarin, jadi seharusnya-"
__ADS_1
Tidak ada tanggapan dari Arkan, namun mobil ini terasa jauh lebih cepat, membuat Anjani kaget dan mengeratkan pegangan pada seatbeltnya. "Mass!!! Aku masih mau hidup!!"
Mendengar itu Arkan mendadak mengerem mobil, membuat Anjani terbelalak karena jantungnya berpacu dengan cepat. Sepersekian detik berikutnya Anjani menatap ke arah Arkan, sudah gila kah dia?! "Mas kenapa sih?!"
"Jangan buat saya marah, Anjani." Napas Arkan memburu ia nampak menundukkan kepalanya dengan tangan yang mencengkeram kuat kemudi mobil.
"Loh harusnya aku yang marah sama kamu, aku gak salah apa-apa tiba-tiba kaya gini. Kamu kalau marah minta penjelasan sama aku makanya, emang kamu pikir aku takut kalau kamu marah?" Jawab Anjani dengan lantangnya.
Arkan menghela napasnya kasar, tak percaya dengan apa yang dikatakan Anjani barusan. Dia pun menoleh ke arah Anjani. "Kamu sungguh ingin saya marah, Anjani?" Arkan bertanya pelan, namun suaranya nampak berat dan dalam. Tatapannya juga intens memandang ke arah Anjani.
Seperti tidak mengindahkan perubahan wajah suaminya, Anjani malah mengangkat dagu tinggi-tinggi seperti menantang Arkan yang katanya ingin marah. Anjani tidak pernah takut kepada siapapun, jadi kalau Arkan ingin marah akan dia hadapi juga dengan kemarahannya.
Tanpa ada peringatan apa-apa lagi Arkan melepas seatbeltnya dan mengukung Anjani dengan tangan kekarnya. Perlahan bibirnya memagut bibir strawberry milik Anjani dengan lembut.
Anjani membulatkan matanya. "Hmmpp?!!"
Arkan tidak menghiraukan remasan tangan Anjani pada lengannya, dia terus menyesap bibir manis itu seperti menyalurkan hasrat yang selama ini dia pendam.
Anjani yang memang belum pernah melakukan ini kaget sih, tapi dia tidak bisa melepaskan diri dan akhirnya pasrah menerima sentuhan pada bibirnya. Ciuman Arkan tampak mendominasi, tangannya juga mengusap punggung Anjani dengan sensual.
Namun saat Anjani mulai kehabisan napas, Arkan tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia melepaskan ciuman itu dan kembali duduk di kursinya. Sejujurnya ada perasaan di mana Arkan menginginkan lebih, namun tidak. Ini saja sudah salah karena dia melakukannya dengan amarah.
"M-mass? Itu first kiss ... " Anjani yang merasa kaget kini menatap Arkan dengan takut.
"Jangan buat saya marah, saya tidak ingin menyakiti kamu. Mengerti? Dan maaf, saya khilaf."
Anjani memalingkan wajahnya pada jendela. Sesekali dia mengusap bibirnya yang yang masih terasa lembab akibat ciuman panas mereka tadi. Perasaan apa ini? Kenapa Anjani malah menikmati permainan yang Arkan ciptakan. Kenapa dia nampak kecewa juga saat Arkan menghentikannya. Seperti ada yang belum tuntas, tapi apa?
Anjani memejamkan matanya, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif pada kepalanya. Dia hanya cape dan Arkan tadi memberikannya relaksasi, jadi mungkin dia hanya merasa rileks. Ahh kenapa otaknya mendadak jadi kotor begini sih?!
__ADS_1