
Anjani dan Arkan sedang perjalanan pulang, namun Anjani masih diam di tempatnya tanpa mau bersuara. Arkan sudah beberapa kali mengajaknya bicara tapi sepertinya Anjani memang sedang tidak mood untuk bicara.
Karena Anjani sedang tidak mood akhirnya Arkan tidak langsung mengajak Anjani pulang, dia mengajak Anjani ke sebuah danau yang dulu sering dia kunjungi bersama ayahnya.
Anjani melirik ke arah Arkan. "Kenapa kita gak pulang?"
"Saya tidak mungkin bawa menantu Mama saya dalam keadaan cemberut seperti ini, nanti dikira saya apa-apain kamu lagi."
Anjani menghela napasnya, ya memang karena Arkan dia cemberut seperti ini, dasar pria tidak peka! Gerutu Anjani dalam hatinya.
Tangannya digenggam oleh Arkan dan diajaknya untuk menaiki sebuah perahu kayu yang ada di pinggir sana. Anjani nampak ragu, namun Arkan mengulurkan tangannya dan meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Aku udah bisa berenang tapi bukan berarti kalau aku jatuh di danau aku bisa berenang," ucap Anjani.
"Saya ajak kamu untuk naik perahu, bukan untuk menjatuhkan diri dan tenggelam di danau." Simpel, kan? Pikiran Anjani ini loh yang terkadang membuat Arkan gemas padanya.
"Ya maksudnya a-aku takut jatuh, kalau jatuh aku gak akan bisa berenang," kata Anjani yang masih mematung di tempatnya.
"Tidak, sudah saya bilang kalau kamu akan selalu aman bersama saya, jadi percaya."
Mendengar itu Anjani berani melangkahkan kakinya dan menerima uluran tangan Arkan. Dia takut sebenarnya, dia pernah naik perahu begini tapi sudah lama sekali. Tapi Arkan memang se-perhatian itu sampai membantunya duduk dengan selamat.
Mereka berdua duduk berhadapan, setelah di rasa Anjani mulai terbiasa, Arkan mendayung perahunya untuk ke tengah, membuat Anjani sedikit kaget sih tapi tidak sampai teriak atau bagaimana.
Tidak ada pembicaraan, Arkan juga membiarkan Anjani untuk menikmati suasana di sini, mendengar kicauan burung, menikmati hembusan angin, melihatnya tersenyum saja membuat hati Arkan menghangat. Ah dasar bocah kecil meresahkan.
"Anjani saya tidak bisa kalau melihat istri saya tiba-tiba marah. Saya tidak akan tenang sebelum menuntaskan semuanya. Saya juga bukan orang yang menunda masalah, saya harap kalau ada permasalah apapun itu harus segera kita bicarakan," ucap Arkan menggantung.
Arkan kemudian menghela napasnya, dia memang harus menanyakan ini sih. "Jadi kenapa kamu marah sama saya?" Tanya Arkan memulai pembicaraan.
"Gak marah ... "
"Kesal?" Tanyanya lagi.
"Sedikit."
"Kenapa? Karena melihat Manda turun dari mobil saya?" Tebak Arkan, asal saja sih tapi ya tepat sasaran. Buktinya Anjani terdiam dan tidak menjawabnya. Berarti itu inti permasalahannya.
"Saya ada seminar berdua dengan Manda, jadi kami berangkat bersama. Tidak terjadi apa-apa juga, karena memang hanya ke sebuah acara yang diadakan dinas dan kami yang diperintahkan."
"Kenapa harus duduk di kursi aku?" Tanya Anjani.
"Kalau di belakang saya jadi supir dong?"
Anjani kembali terdiam, memang benar sih. Tapi tetap saja kesal, dia tidak rela saja melihatnya. Apalagi Manda memang terlihat gencar juga mendekati Arkan.
__ADS_1
Dari mulai selalu mencari Arkan, membawakan Arkan makan siang meskipun berujung Anjani yang memakannya, belum lagi kalau mereka bersampingan saat akan ke kelas Manda selalu mengambil kesempatan.
"Kamu cemburu?" Tanya Arkan.
"Ih bagus, itunya. Itu emm ... burung!" Anjani menunjuk ke belakang Arkan.
Sementara Arkan terkekeh melihatnya, pintar sekali Anjani mengalihkan pembicaraan, padahal tinggal mengaku saja kalau dia cemburu, toh Arkan sudah tau kok kalau dia cemburu.
Tapi Arkan biarkan saja, setelah itu mereka kembali menikmati suasana di danau ini sembari mendengarkan lagu yang Anjani putar dari ponselnya.
"Aku selalu pingin naik perahu terus nyalain musik kaya gini," gumam Anjani.
"Baru terwujud sekarang?" Tanya Arkan.
"Iya, karena dulu waktu main itu rasanya dibatasin. Ya kecuali kalau pulang sekolah kaya gini, banyak les yang harus di hadapin."
Arkan mengangguk-anggukkan kepalanya paham, memang sih Anjani selalu dijaga ketat oleh orang tuanya. Saat bersama Bagas pun sepertinya mencuri-curi waktu. Dia jadi senang karena memberikan Anjani kebebasan dalam hidupnya.
"Kamu kenapa milih jadi guru sih, Mas?" Tanya Anjani.
"Mau jawaban jujur atau jawaban klasik?" Tanya Arkan sembari menaruh dayungnya dan membiarkan perahu ini diam di tengah-tengah.
"Dua-duanya, jawaban klasik dulu deh, apa?" Tanya Anjani yang kini sambil bertopang dagu menatap Arkan.
"Karena ingin membantu Papa, sekolah kesulitan mencari pengajar matematika karena memang kriteria untuk menjadi guru di sekolah sangat tinggi. Jadi lebih baik saya saja."
"Tapi kamu bukan sarjana matematika, bukan sarjana pendidikan," balas Anjani.
Anjani mengangguk-nganggukan kepalanya seraya menghela napas. Benar sih, apalagi harus dia akui kalau Arkan sangat pintar, dia sangat simpel dan membuat semua yang dia ajarkan menjadi simpel, dia suka guru yang seperti itu.
"Terus alasan terjujurnya apa?" Tanya Anjani.
"Kamu."
Anjani menelan ludahnya dengan susah payah, tunggu-tunggu, karenanya katanya? Memang pria suka sekali berbohong. Alasan macam apa itu? "Bohong, kamu gak tau aku sekolah di sana, kan? Terus kenapa waktu aku kenalin diri pertama kali kamu sok-sok nyari nama aku diabsen?"
"Ya untuk meyakinkan saja kalau kita memang baru pertama kali bertemu," jawab Arkan santai lalu terkekeh.
Anjani mendengus pelan, bisa-bisanya lagi Arkan tertawa padahal Anjani sudah Salting brutal seperti ini. Anjani lalu kembali menatap ke arah Arkan yang kini berdeham.
"Saya sudah jawab pertanyaan kamu, jadi sekarang kamu harus jawab pertanyaan saya dengan jujur."
"Apa?"
"Kamu cemburu?" Tanya Arkan.
Pertanyaan itu lagi, sepertinya Arkan ini tidak akan pernah puas sebelum mendapatkan jawaban yang benar dari Anjani. Masa iya Anjani harus bilang kalau dia cemburu kan malu? Gengsi lah.
__ADS_1
Anjani terdiam, ya kalau dia diam sedari tadi seharusnya Arkan mengerti sajalah kalau dia cemburu. Tapi memang Arkan iseng saja sih ingin mendengar langsung dari mulut Anjani.
"Bisa pass aja gak pertanyaannya?" Tanya Anjani
"Kenapa memang?"
"Gak penting!"
"Penting untuk saya, jadi apa jawabannya? Satu yang perlu kamu tau adalah kalau saya tidak menerima jawaban klasik atau dibuat-buat."
Merasa terdesak Anjani jadi ingin meledak sendiri, bukan marah tapi memang ada perasaan yang harus diluapkan saat ini juga karena Anjani tidak kuat kalau lama-lama begini.
"Yaudah iya! Iya aku cemburu! Aku gak suka kamu dideketin sama anak-anak sekolah apalagi cewek, aku gak suka kamu ditanyain soal ini itu padahal yaudah sih hidup kamu ini, aku juga gak suka Bu Manda yang selalu coba deketin kamu. Aku kesel sendiri."
Anjani menghela napasnya untuk melanjutkan perkataannya. "Aku gak suka kamu pergi sama Bu Manda tadi apalagi dia duduk di tempat aku, cuma aku aja yang boleh di situ, aku gak suka dia jadi se-deket itu sama kamu tadi."
"Jadi ... "
"Iya aku suka sama kamu, puas?!" Kesal Anjani.
Ah dia tidak peduli dengan gengsinya lagi, Arkan memancing jadi ya sudahlah sekalian saja dia bilang. Kemarin dia juga sudah bilang, kan? Jadi terserah Arkan akan bagaimana menanggapinya dia tidak peduli lagi.
Mendengar itu Arkan full senyum, ada perasaan bahagia yang sebenarnya dia ingin luapkan tapi tidak mungkin juga kalau di sini. Arkan menggenggam kedua tangan Anjani yang masih memalingkan wajahnya karena memang sudah merah sekali.
"Kamu suka sama saya? Cinta?" Tanya Arkan seraya menatap Anjani.
Anjani mengangguk sedikit. "Ya sudah kalau kamu suka sama saya, saya juga suka sama kamu. Kalau kamu cinta sama saya, ya saya juga cinta sama kamu. Kenapa harus dipendam, tidak bertepuk sebelah tangan juga, kan? Jadi begini kan, uring-uringan sendiri."
"Ya tapi kan gak mungkin aku bilang sama kamu."
"Kenapa tidak mungkin?" Tanya Arkan.
"Ya malu lah."
Ada-ada saja, kenapa juga harus malu? Mereka kan suami istri, kalau saling mencintai ya justru bagus untuk hubungan mereka, kedepannya malah akan semakin mempermudah untuk apapun, lebih leluasa, lebih terbuka dan bisa berbagi satu sama lain.
Tapi Arkan paham dan mencium punggung tangan Anjani dengan lembut. "Saya tau untuk menaruh hati itu tidak mudah, jadi kamu cukup percaya sama saya, kalau saya hanya akan mencintai kamu. Bahkan sepertinya saya sudah sering bilang kalau saya hanya mencintai kamu."
"Tapi kalau memang kamu perlu validasi setiap hari ya akan saya lakukan. Maaf ya sudah membuat kamu cemburu, tapi ada sesuatu yang harus kamu pahami kalau kita di sekolah harus bersikap profesional dalam segala hal. Jadi saya minta pengertiannya untuk itu."
"Kamu tidak suka Manda bersama saya dalam mobil yang sama, kan? Baik saya salah, kedepannya saya tidak akan melakukan itu lagi terkecuali kalau memang terdesak. Jadi maafkan saya ya?" Tanya Arkan seraya mengusap punggung tangan istrinya itu dengan lembut.
Anjani menghela napas dan kini menatap ke arah Arkan. "Janji gak gitu lagi, kan?"
Arkan mengangguk dan tersenyum penuh arti, kalau Anjani menginginkannya dia pasti akan dengan senang hati memenuhinya. "Iya, Sayang. Maafin dulu."
"Yaudah iya."
__ADS_1
Mendengar itu Arkan tersenyum dan kembali mencium tangan Anjani yang ada di genggamannya, Anjani telah mempercayakan perasaannya pada Arkan, tentu dia harus menjaga kepercayaan itu. "Terima kasih karena kamu sudah mencintai saya. Karena itu pasti sulit, saya akan berusaha untuk membuat kamu bahagia."
Setelah itu Anjani mengangguk, tidak tau juga apa yang dia rasakan sekarang, yang jelas dia senang dan lega karena telah membicarakan semuanya pada Arkan. Dia bahagia dan senang menikmati suasana di sini.