
Katanya Andira dan Bagas akan menginap di sini, jadi dia ke kamar meminjam baju Anjani untuk Andira. Karena mereka nampak satu ukuran meskipun Anjani lebih tinggi. Perlahan Arkan membuka kamar mereka dan melihat Anjani yang sedang menatap dirinya di cermin. Pemandangan yang akhir-akhir ini menjadi kesukaannya, karena Anjani memang pintar merawat dirinya.
Melihat itu Arkan menghampiri Anjani dan memeluknya. "Kenapa jadi pendiam? Biasanya kamu mengoceh?"
"Ngoceh salah, diem juga salah. Jadi maunya gimana?" Tanya Anjani yang merasa dirinya serba salah.
"Mau kamu yang seperti biasanya saja. Kamu wangi, saya suka."
"Aku berasa lagi berhadapan sama sugar daddy, serem banget kamu Mas ngomongnya," protes Anjani.
Ya memang Arkan terlihat seperti sugar daddy di mata Anjani. Apalagi Arkan memberikan semua yang Anjani mau. Tapi seram juga karena takut Arkan meminta yang macam-macam darinya.
"Saya suami kamu dan kamu istri saya!" Tegas Arkan.
"Iya, iya! Ya udah kamu mandi sana, bau!"
Arkan mengangguk. "Siapkan baju saya, pinjamkan juga baju untuk Andira. Mereka akan menginap."
Mendengar itu Anjani menghela napas, mau bagaimana lagi? Ini rumah Arkan, dia bebas mengizinkan siapapun menginap, terlebih Andira dan Bagas. Jadi Anjani menurut saja, meskipun rasanya tidak nyaman.
Setelah mendapat persetujuan dari Anjani, Arkan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Anjani menyiapkan baju untuk suaminya dan juga pakaian yang akan dia pinjamkan pada Andira.
Mata Anjani tertuju pada ponsel Arkan yang dia taruh sembarang di kasur. Otak jahilnya muncul, dia mengambil ponsel Arkan dan ber-selfie di sana. Pokoknya dia akan mengambil sebanyak mungkin. Tidak ada niat apa-apa sebenarnya, dia hanya gabut. Tapi ingin melihat juga reaksi Arkan saat nanti melihat ponselnya.
Beres, sekarang Anjani tinggal menaruh ponselnya dan pergi keluar kamar. Dia tidak akan turun ke bawah sih, dia akan menonton di ruangan tengah lantai ini, karena memang ada juga TV di sini. Jadi Anjani tidak perlu bertemu dengan Bagas atau Andira.
Setengah jam berlalu, Arkan sudah menyelesaikan mandinya, sudah mengeringkan rambut dan juga memakai pakaiannya. Perlahan dia mengambil ponselnya, namun saat membukanya dia mendadak terkekeh karena wallpaper dan lockscreen-nya berubah menjadi photo Anjani yang menggemaskan. Jahil juga teryata istri kecilnya. Dia mencari Anjani, tapi Anjani tidak ada di sana, akhirnya dengan membawa baju untuk Andira dan Bagas Arkan keluar mencari Anjani.
__ADS_1
Di situ rupanya dia, tanpa Aba Arkan menghampiri Anjani dan memeluknya. "Jahil kamu ya!"
Anjani yang tau maksudnya langsung terkekeh, ya lucu saja melihat reaksinya, dia pikir Arkan akan marah padanya. Ternyata dia malah seperti ini, kan menggemaskan ya? "Kenapa sihh? Kan katanya kamu cinta sama aku, jadi isinya harus aku aja kalau gitu."
"Oh mulai posesif," gumam Arkan seraya mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Gak gitu! Ya udah gak jadi bilang!"
Arkan kembali terkekeh, dia menyimpan baju yang ada di tangannya ke samping dan fokus kepada Anjani. Lalu perlahan dia menuntun Anjani untuk duduk di pangkuannya. Sepertinya ini adalah posisi nyaman untuk keduanya, tapi Anjani gengsi saja mengakuinya. Padahal sebenarnya dia suka kok diperlakukan seperti itu. Apalagi dia memang anak bungsu yang dipaksa dewasa. Inner childnya masih butuh bermanja seperti ini. "Kalau kamu mau, apapun boleh kamu lakukan. Saya justru senang kamu mulai terbuka sama saya."
"Gak marah?" Tanya Anjani.
"Untuk apa marah?" Tanya Arkan berbalik.
Anjani tersenyum lalu mengangguk-nganggkkan kepalanya perlahan. Kalau begini apa dia harus membuka hati pada Arkan ya? Arkan tulus sekali menurut Anjani, tatapannya selalu jujur, dia juga memperlakukan Anjani dengan baik. Bikin dilema saja.
Suasana menjadi hening, entah karena ada Angin apa Arkan merengkuh pinggang Anjani untuk lebih dekat padanya. Dengan lembut Arkan menempelkan bibir mereka lalu mulai merasakan bibir candu milik Anjani. Kali ini rasanya berbeda karena Arkan yang merasakan tangan Anjani perlahan mengalung di lehernya.
Tangan Anjani meremas bahu Arkan membuat Arkan semakin terpacu untuk lebih jauh, tangannya kini mulai mengusap punggung Anjani dengan sensual, membuat gadis itu nampak melenguh, menikmati sensasi yang belum pernah dia rasakan.
Kini keduanya hanyut dalam permainan lidah itu sampai ...
"Ekhmm." Suara itu membuat mereka menghentikan aktifitas nakalnya. Anjani kaget sih, tapi sebisa mungkin dia biasa saja. Arkan dan dia suami istri, kan? Jadi bukan masalah seharusnya.
"Baju untuk Andira, sekalian pinjam charger," ucap Bagas datar.
Anjani perlahan turun dari pangkuan Arkan dan duduk kembali di sofa, sementara Arkan hanya mengangguk sebentar lalu pergi ke kamar untuk mengambil charger.
Bagas masih diam di tempat seraya memandangi Anjani. Bagaimana dia tidak kaget, selama pacaran mereka di batas normal dan sekarang dia melihat Anjani melakukan french and bite kiss dengan seseorang yang baru dia kenal karena menikah? Gila. Semudah itu kah Anjani melupakannya?
__ADS_1
Anjani mengigit bibir bawahnya sendiri, perasaannya campur aduk sekarang. Apalagi Bagas menatapnya seperti itu. Sudah dia malu karena membalas ciuman Arkan, malu karena melenguh kecil, malu pokoknya. Ini memang bukan pertama kali, tapi ini pertama kalinya Anjani membalas ciuman Arkan.
"Anjani." Panggil Bagas.
Tapi sebelum Anjani menoleh Arkan sudah datang, memberikan charger dan juga baju ganti untuk Bagas dan Andira. "Nih, nanti saya dan Anjani akan turun saat makan malam."
Bagas mengangguk, setelah itu dia berbalik dan memutuskan untuk menahan emosinya. Iya dia emosi sebenarnya, karena sampai sekarang dia merasa masih memiliki Anjani.
Arkan menghela napas lalu duduk di samping Anjani yang nampak enggan menatapnya. Mengganggu saja, padahal tadi Anjani sudah terbawa suasana. Sudah tau sulit untuk mendekati Anjani, eh sudah setengah jalan malah diganggu. Memang sial Arkan hari ini.
"Kenapa tidak mau menatap saya?" Tanya Arkan.
"Gapapa," jawab Anjani pelan.
Karena geram Arkan mengarahkan wajah Anjani padanya. "Kenapa?"
Anjani melepaskan tangan Arkan dan memalingkan wajahnya lagi. Wajahnya memerah sekarang, apakah Arkan tidak peka kalau Anjani menaham malu sekarang?
"Oh jadi istri saya sedang malu karena membalas ciuman suaminya, begitu?" Tanya Arkan menebak.
"Diem!!"
"Cepat belajar juga ya, saya seperti berciuman dengan orang yang sudah pro," goda Arkan.
Anjani menatap tajam ke arah Arkan, ya malu loh. Dia jadi terlihat agresif, kan? Apa coba yang akan Arkan pikirkan tentangnya? Padahal Arkan sendiri sepertinya tidak memikirkan apa-apa, justru dia senang. Hanya Anjani saja yang overthinking. "Diem gak??!!"
Arkan terkekeh lalu membawa Anjani kedalam dekapannya, meskipun tidak bisa melanjutkan yang tadi dia gemas dengan istrinya yang masih polos ini. Tapi dia senang, berarti semua yang dilakukan bersamanya adalah pertama kali. Arkan senang menjadi yang pertama dan satu-satunya. Dia pikir Anjani pernah melakukannya walau hanya sekali berciuman, ternyata saat pertama kali melakukannya Anjani masih kaku. Berarti Anjani menjaga dirinya dengan sangat baik.
"Mau lanjut yang tadi?" Tanya Arkan yang masih ingin menggoda istrinya.
__ADS_1
"Mass ih, udah ah! Gak mau lagi!" Anjani memajukan bibirnya seraya melepaskan diri dari Arkan, karena kepalang malu akhirnya dia memilih untuk turun ke bawah dan menunggu makan malam tiba. Tidak akan beres otaknya jika berlama-lama bersama Arkan.
Hai-hai semuanya, selamat pagi! Jangan lupa dukungannya ya dalam bentuk apapun, have a nice day! Nanti kalau khilaf aku up lagi. Hari ini udah update 2 bab ya! Papaii~ 🤗❤️