
Abdi, Hera, Viona dan juga Mario sampai di ruangan Anjani. Raut wajah mereka sudah panik, namun saat memasuki ruangan itu mereka malah menghela napasnya lega. Bagaimana tidak, Arkan dan Anjani nampak terlihat romantis dengan tidur di ranjang yang sama.
Arkan tidak tidur, namun dia tidak bisa meninggalkan Anjani karena istrinya itu memeluknya erat sekali karena sedari tadi tidak mau ditinggalkan.
"Sudah biarkan begitu, nanti Anjani bangun," ucap Hera saat Arkan mencoba untuk turun dari sana.
Masalahnya bukan itu, ya malu saja dilihat orang tuanya begini. Yaampun, untung Arkan sayang Anjani, akhirnya dia mengalah saja daripada Anjani bangun.
Mario mengusap puncak kepala putrinya, rasanya tidak tega sekali melihat Anjani begini. "Sakit apa Anjani, Gio? Maghnya kambuh?"
"Maghnya tidak semakin parah, kan?" Tanya Viona. Tentu dia tau kalau anaknya ini terkadang sangat sulit diingatkan.
"Tidak, Pa, Ma. Anjani sedang mengandung 9 Minggu," jelas Arkan.
"Alhamdulillah," ucap mereka bahagia.
Viona dan Hera saling berpelukan begitu juga dengan Abdi dan Mario. Mereka berempat nampak senang. Begitu juga dengan Arkan. Karena memang dia anak satu-satunya sudah pasti ini akan menjadi kabar bahagia untuk keluarga mereka, terutama keluarga Arkan.
"Sembilan Minggu pantas saja. Kemarin Anjani juga banyak kegiatan. Pasti dia terlalu lelah, mulai sekarang kamu harus menata ulang lagi jadwalnya Anjani loh, Sayang. Karena dia juga hamil di usia muda," peringat Hera.
"Anjani itu susah, Ra. Dia suka keras kepala," ucap Viona.
"Iya itu, dia sama seperti ayahnya," ucap Mario seraya menggenggam tangan putrinya. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia bahagia saat mendengar Anjani mengandung.
Bukan membedakan antara Anjani dan juga Seana, tapi memang keadaan dan kondisinya berbeda saat Anjani dan Seana mengandung. Jadi baru kali ini dia merasakan bahagianya menyambut seorang cucu, begitu juga Viona.
"Memang, tapi sepertinya kalau Gio yang mengarahkan secara perlahan Anjani menurut kok, dia anak yang manis meskipun keras begitu pasti ada satu orang yang dia ikuti perkataannya," ucap Abdi.
Ya dari banyaknya perdebatan antara kedua keluarga ini, memang Abdi lah yang selalu berusaha untuk menjadi yang paling bijak. Sekarang sudah tau kan kenapa Arkan bisa sesabar dan sebijak itu, jelas genetika dari ayahnya.
"Yang terpenting itu sekarang Anjani sehat dan sebagai suami kamu harus lebih perhatian. Ini begini itu karena ibu hamil biasanya lebih manja, lebih sensitif, kurangi waktu kerjanya, Sayang. Lebih sering habiskan waktu bersama istri kamu. Jangan lupa dunia seperti papa kamu waktu mama hamil," sindir Hera.
Arkan tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya. Dia menurut saja, meskipun ya dia juga sudah tau apa-apa saja yang harus dia lakukan mulai sekarang. Karena mengikuti ucapan orang tua juga tidak salah.
Arkan membenarkan posisi Anjani lalu turun dari ranjang. Anjani sepertinya tertidur pulas karena efek obat juga kemungkinan. Setelah itu dia mengajak orang tua dan mertuanya untuk bicara mengenai kondisi Anjani.
Mau bagaimana pun, buruk atau tidak dia juga harus menyampaikan tentang kondisi lemahnya kandungan Anjani. Agar dia juga bisa tau pendapat dari orang yang lebih pengalaman. Sebagai orang tua baru, meskipun Arkan sudah jauh lebih berpengalaman, tapi kalau soal begini dia juga masih awam. Jadi referensi dari mana-mana itu sangat dia perlukan.
__ADS_1
"Kehamilan itu beda-beda, Gio. Tapi yang sekarang harus dilakukan adalah mengurangi aktivitas Anjani. Dia terlalu keras kalau dalam soal belajar," ucap Hera.
"Mama juga juga dulu hamil Anjani dan Seana berbeda. Tapi kalau mual dan keram itu sudah pasti dirasakan. Tapi dulu Mama masih bisa makan walaupun sedikit. Mungkin nanti beli susu untuk ibu hamil yang pereda mual," ucap Viona.
"Makanan yang mengandung asam folat juga baik," lanjut Hera
Arkan menganggukkan kepalanya dan berusaha mendengarkan apa yang dikatakan orang tuanya. Sementara Abdi dan Mario hanya tertawa. Ya tidak menyangka saja kalau mereka akan menjadi kakek sekarang.
"Yang terpenting kamu kuat juga, Gio. Papa yakin Anjani manjanya akan berkali-kali lipat. Mama mertua kamu juga begitu soalnya," ucap Mario
Viona menghela napasnya, ya pada saat hamil Anjani memang harus dia akui kalau dia lebih manja pada Mario.
"Mamamu juga, Gio," sambung Abdi.
Arkan hanya tertawa saja. Tapi kalau Anjani manja Arkan tidak masalah kok sebenarnya. Dia malah suka dan tidak masalah kalau harus meluangkan waktunya lebih banyak daripada biasanya.
.
.
.
Perlahan Anjani mengambil remote control dan mengubah posisi kasurnya agar dia bisa duduk sambil berbaring. Sepertinya Arkan sedang ada urusan. Jadi lebih baik dia menonton TV saja agar tidak bosan.
Namun sejenak dia menatap ke arah perutnya sendiri, dengan lembut dia mengusap perutnya lalu kemudian tersenyum. "Hai baby."
"Maaf ya Mama gak sadar kalau kamu ada di dalam sana. Pasti kamu cape ya kemarin karena Mama banyak kegiatan?"
Anjani terkekeh, kenapa ya dia merasa aneh sendiri. Ya masih awam memang untuknya. Aneh ketika dia menyebut dirinya seorang ibu. padahal dia merasa kalau dirinya ini masih kecil.
"Aneh gak sih, Baby? Masa kamu punya Mama masih kecil gini? Masih suka ngambek sama papanya, masih suka main, masih suka jajan, tapi gapapa. Trust me, i try my best for you."
"Kamu bakalan punya mama yang baik, papa yang baik banget, tapi jangan bilang papa kamu nanti kepalanya besar kaya planet mars," ucap Anjani.
"Tidak perlu bilang juga saya dengar kok."
Anjani menoleh ke sumber suara, siapa lagi kalau bukan Arkan. Ahh dia malu sekali, aneh tidak sih kalau dia begini? Tapi saat mengetahui kalau dia hamil, Anjani jadi merasa ada teman untuk diajak bicara.
Anjani mengedikan bahunya lalu mengalihkan pandangan dari Arkan. Serius ini Anjani malu sekali. Arkan pun menghampiri Anjani dan duduk di samping ranjang istrinya itu. "Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Ya kamu masuk gak bilang dulu ihh," kata Anjani.
Arkan hanya tertawa saja, lagi pula kenapa juga Anjani malu begitu? Bukannya ibu hamil lainnya juga sering melakukan itu ya? Tapi kalau dipikir-pikir ya wajar juga karena Anjani ini ibu hamil yang benar-benar masih remaja.
Arkan menggenggam tangan Anjani dan mencium punggung tangan istrinya itu. "Mamanya juga baik, hanya keras kepala sedikit. Jadi, sekarang sudah jauh lebih baik?"
Anjani mengangguk. "Lumayan, tadi kepala aku berat banget rasanya."
"Lalu sekarang mau apa? Mau makan apa? Ada yang kamu inginkan?" Tanya Arkan. Seperti yang dia katakan tadi kalau Arkan akan berusaha menjadi suami siaga dan memenuhi apa yang Anjani butuhkan.
"Belum ke tahap ngidam, aku gak mau apa-apa. Mau tidur aja, istirahat, terus ditemenin kamu," ucap Anjani.
"Ini saya di sini," balas Arkan.
"Tadi gak ada, kamu habis darimana? Kenapa gak ada?" Tanya Anjani mencecar Arkan dengan. berbagai pertanyaan.
"Antar Mama Papa ke bassement, Mama Viona sama Papa Mario juga tadi ke sini," jelas Arkan.
"Kenapa kamu gak bangunin aku?"
"Tidur kamu pulas, ngorok juga," ledek Arkan.
"Massss!!! Masa sih, aku gak pernah ngorok loh!"
Arkan tertawa melihat Anjani yang sudah mode merengek begitu. Lucu saja, ya lebih baik daripada dia seperti tadi, pucat, lemas, seperti ayam kena flu burung saja. "Itu karena kamu terlalu lelah."
"Kamu belum ganti baju, kamu gak cape jagain aku, Mas? Kamu udah makan malam?" Tanya Anjani.
"Sudah, kamu yang belum makan sama sekali, Sayang."
Anjani menggeleng, dia tidak mau makan. Masih terasa mual untuk mengisi makanan. Lagi pula rasanya dia tidak bernafsu makan.
Dengan lembut Arkan mengusap perut Anjani. "Anak Ayah jangan nakal di dalam ya, Nak. Kamu harus makan yang banyak, jangan bikin mamanya tidak mau makan. Kalau ingin sesuatu bilang saja."
Arkan menciumi perut Anjani dengan lembut. Perasaan Anjani menghangat, ada desiran dalam darahnya dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
"Makan ya sedikit?" Tawar Arkan.
Anjani kembali menggeleng. "Aku gak lapar, Mass."
__ADS_1
Arkan menghela napasnya, ya sudah kalau Anjani tidak mau. Lagi pula dokter bilang tidak apa-apa, kecuali nanti pagi baru harus mulai dibiasakan untuk diisi. Jadi Arkan tidak akan memaksa apapun yang Anjani tidak bisa lakukan.