I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Lebih Dekat Dengan Andira


__ADS_3


Hari ini Anjani, Della dan Nanda ada kerja kelompok. Karena di rumah sepi, jadi Anjani meminta izin pada Arkan untuk membawa kedua temannya ke rumah. Anjani juga sudah pernah bilang sih, kalau memang Della dan Nanda sudah tau tentang pernikahan mereka. Jadi itu tidak masalah.


Dan di sinilah mereka berada, di ruang tengah lantai bawah Mba di sini sudah menyiapkan banyak makanan untuk mereka, karena memang Arkan juga yang memesan itu. Arkan juga mengabari kok kalau dia akan pulang terlambat karena harus ke kantor cabang untuk mengurusi hal yang sama soal skandal salah satu artisnya.


Nanda dan Della sejak tadi menerawang seisi rumah ini, memang tidak salah. Keluarga Altair ini sangat kaya raya, luas sekali menurut mereka. Apalagi mereka sedikit tersenyum saat melihat photo pernikahan Anjani dipajang dengan besar di rumah ini.


"Kamu keliatan bahagia banget ya, Jan diphoto pernikahan kamu," gumam Della.


Anjani melirik sekilas ke arah photo itu, setelahnya dia terkekeh pelan. "Kalau kamu mau tau, aku di sana belum mau terima Pak Arkan."


"Tapi kaya bahagia banget loh, kaya emang beneran kalian saling mencintai," timpal Nanda.


Anjani menghentikan aktivitasnya yang sedang menulis catatan. "Ya karena Pak Arkan bilang, kalau aku gak senyum nanti aku menyesal seumur hidup. Tapi ya dipikir-pikir bakalan nyesel kalau pada saat itu aku gak senyum. Apalagi aku bilang sama Pak Arkan kemarin mau jalanin pernikahan ini dengan baik. Bayangin aja nanti anakku nanya, mama korban perjodohan ya, kok gak senyum?"


Mereka bertiga tergelak, memang ada-ada saja Anjani Tapi memang sepertinya keputusan Anjani tidak salah, baik dulu ataupun sekarang. Mereka juga malah turut senang karena Anjani tidak galau terlalu lama.


"Cieee jadi kamu udah serius nih, mau jalanin pernikahan ini sama Pak Arkan?" Goda Della.


"Iya, karena walaupun nyebelin kuadrat tapi Pak Arkan itu ... Udahlah nanti kalian tergoda lagi sama suami aku!"


"Suami katanya? Hahahaha gila Anjani, hehh kamu sama Bagas 2 tahun itu mau di kemanain ingatannya? Jangan sampai kamu jadiin Pak Arkan pelampiasan!" Peringat Nanda.


"Tapi menurut aku Anjani pantes sih move on, kamu pikir aja, Nan. Anjani dijadiin second choice, belum lagi si berengsek itu milih tunangannya, kan? Ngapain sih dipikirin, jadi tunangannya juga pasti sakit. Anjani kan perasa, jadi dia bisa move on jalur benci," jelas Della.


"Aku gak benci sebenernya, tapi emang setelah dipikir-pikir dia gak worth it buat dapetin perasaan aku.


Karena memang pada dasarnya mereka bersahabat, Anjani menceritakan tentang kejadian terakhir soal Bagas. Soal di bagaimana dia memperlakukan Anjani dan juga malam itu. Dia juga menceritakan soal toxic relationship yang dia alami. Awalnya Della dan Nanda kecewa karena Anjani hanya diam, tapi mungkin memang Anjani butuh privasi dalam hubungannya.

__ADS_1


Jadi mereka menerima dan mendengarkan Anjani dengan baik. Karena mau bagaimana pun mereka bersahabat. Syukurnya Anjani memang sudah terbebas dari pria tidak bertanggung jawab seperti Bagas. Mereka lega pokoknya kalau Anjani sudah merasa baik-baik saja, karena Anjani pantas menerima yang terbaik dari sisi kehidupan yang dia jalani.


Memang begini kan kalau kerja kelompok? Bukan belajar di selingi ngobrol, tapi ngobrol diselingi belajar. Apalagi Anjani, Della dan Nanda memang murid yang cukup up-to-date untuk membahas issue-issue di sekolah, jadi banyak juga yang mereka bicarakan.


Saat asik dengan kegiatan mereka tiba-tiba seorang wanita dengan dress merah jambu berdiri di hadapan mereka. "Haiii Anjani, hai teman-temannya Anjani."


"Eh haii, Dir. Sini gabung," Ajak Anjani.


Setelah mendapat persetujuan dari Anjani, Andira pun ikut bergabung bersama mereka. Della dan Nanda sejak awal sudah bertanya-tanya, tapi mendengar nama gadis itu mereka ingat. Kalau itu adalah tunangan Bagas.


Cukup membatin, bisa-bisanya kedua wanita ini akur. Padahal Anjani bisa memilih untuk menghindarinya, nyatanya memang Anjani baik. Jadi dia tidak bisa melakukan itu pada Andira, terlebih Andira sendiri sudah menganggap Arkan adalah kakaknya.


"Kalian enak udah mau lulus, aku harus ngulang jadi kelas sepuluh tahun depan hehehe," ucap Andira.


"Gapapa, yang terpenting kamu udah sehat. Itu udah cukup, nanti aku bantu kok kalau kamu ada kesulitan," balas Anjani sembari fokus pada kertas-kertas soal.


"Aku mau daftar di SMA Taruna Nusantara, nanti kamu temenin aku ya?" Pinta Andira.


"Oiyah kalian kenal sama Bagas?" Tanya Andira pada Della dan Nanda.


Mereka mengangguk perlahan, kenapa harus membahas soal Bagas. Tapi dilihat dari ekspresi Anjani, sepertinya dia baik-baik aja, bahkan fokus sekali dengan pekerjaannya.


"Dia suka deket sama cewek di sekolah?"


"Dia kan anak futsal, Dir. Ya kamu tau sendiri lah anak futsal itu suka tebar pesona hahahahaha-"


"Bercanda," lanjut Della saat melihat keterkejutan Andira. Ya sebenarnya dia sudah geram sih ingin memberitahu Andira kalau sekarang dia bersama orang yang salah. Tapi Anjani menghalaunya bersamaan dengan Nanda yang kini mencubit perutnya.


"Language!" Peringat Nanda.

__ADS_1


"Maaf ya, temen-temenku emang suka bercanda," ucap Anjani.


Andira tersenyum. "Gapapa kali, aku juga suka bercanda. Jadi boleh aku jadi teman kalian?"


Mereka semua mengangguk, lagi pula tidak ada salahnya juga dan kasian Andira seperti merasa kesepian. Waktunya dengan Bagas dan Arkan pasti sedikit, jadi karena mereka seumuran, Anjani mengerti perasaan Andira. Lagian yang salah di sini juga bukan Andira.


Pokoknya seharian itu mereka asik mengobrol berempat, banyak juga yang mereka bagi kepada Andira, termasuk cerita-cerita lucu yang mereka dapatkan di sekolah. Sampai-sampai perut mereka sakit.


Kurang lebih 3 jam mereka menghabiskan wakt bersama dan menyelesaikan tugas. Setelah Della dan Nanda pamit pulang, Anjani menemani Andira yang sedang menunggu Bagas menjemputnya.


"Anjani, makasih ya udah mau berbagi teman sama aku," ucap Andira.


"Gak usah makasih, kita semua kan makhluk sosial. Jadi bisa berinteraksi dengan siapa aja," balas Anjani.


"Oh iya, kapan-kapan kita double date yuk!" Ajak Andira.


"Sama Mas Arkan?" Tanya Anjani yang dihadiahi oleh anggukan oleh Andira.


Anjani terdiam sejenak, tidak masalah sih sebenarnya. Hanya saja dia terlalu malas kalau berhadapan dengan Bagas lama-lama.


"Anjani ... " Panggil Andira yang tidak mendapat respon.


"Boleh, boleh kok. Nanti aku ajak Mas Arkan kalau dia mau. Tuh siap-siap, jemputan Tuan Putri sudah datang," ucap Anjani setengah bercanda saat melihat motor Bagas yang sudah masuk ke pekarangan rumah besar ini.


Jantung Bagas berdegup kencang, tapi melihat Anjani yang tidak menatap ke arahnya ternyata cukup sakit juga. "Ayok naik."


Andira mengangguk ke arah Bagas, namun sebelum menaiki motor itu Andira memeluk Anjani dengan erat. "Aku sayang kamu Anjani, pokoknya kita bersahabat mulai hari ini!"


Anjani tersenyum kaku dan sedikit membalas pelukan Andira. Bagaimana bisa sedekat ini, kalau suatu saat nanti Andira tau kenyataanya bagaimana? Itu mampu membuat Anjani menelan ludahnya kasar. Tapi dia berusaha biasa saja di depan Andira.

__ADS_1


"Yaudah, yaudah. Naik gih, keburu hujan, langitnya udah gelap. Nanti kapan-kapan kita main lagi," ucap Anjani.


Andira mengangguk dan menaiki motor Bagas, setelah motor itu dilajukan Andira melambaikan tangannya pada Anjani. Gadis itu tersenyum, berbeda sekali dengan Anjani. Dia merasa kasihan sebenarnya pada Andira, tapi semoga saja Bagas tidak menyakiti Andira sama seperti yang dia lakukan pada Anjani.


__ADS_2